HAPPY READING!💗
oOo
Hari demi hari telah berlalu, begitu juga dengan Daisy yang sudah pulang ke rumahnya. Gadis itu sudah siap dengan seragamnya untuk berangkat ke sekolah. Setelah selesai sarapan, Daisy berjalan bersama Bryan menuju parkiran rumah. Mereka akan berangkat dengan menaiki mobil milik Bryan.
Sekitar 20 menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di sekolah. Bryan menyuruh Daisy untuk berjalan dahulu karena cowok itu bertemu temannya. Di sepanjang koridor, banyak murid yang menyapa Daisy. Daisy hanya tersenyum saja karena sejujurnya dia belum terlalu pulih. Tetapi, dia harus belajar karena sudah absen selama 5 hari.
"Akhirnya penulis kebanggaan kita berangkat juga!" ujar Moira ketika Daisy memasuki kelas.
Daisy hanya menanggapinya dengan senyuman. Gadis itu segera berjalan menuju kursinya untuk duduk.
"Emang udah enakan, Sy? Kok udah berangkat aja?" tanya Nesya.
"Masih agak nyeri, tapi bisa gue tahan kok. Lagian, gue nggak mau ketinggalan pelajaran. Sebentar lagi kan kita mau kenaikan kelas," jawab Daisy.
"Buset, Neng! Udah berangkat aja!" seru Varen ketika memasuki kelas. Dia datang bersama Kaizo dan Sofia.
"Astaga, Varen! Suara lo ngagetin tau!" tegur Moira.
"Maaf, Sayang," balas Varen seraya menyengir canggung.
"Syukur deh lo udah bisa masuk sekolah, Sy," ucap Sofia setelah duduk di kursinya.
"Kalo ada ngerasa sakit, bilang ke gue, Sy," timpal Kaizo.
"Emang boleh perhatian sama cewek lain di depan pacar?" cibir Varen.
"Boleh. Udah lo nggak usah jadi kompor!" balas Sofia.
Kaizo, Moira, dan Nesya tertawa karena Varen mendapat omelan dari Sofia. Sementara, Daisy hanya bisa tersenyum. Gadis itu tidak bisa tertawa karena akan merasakan sakit pada perutnya. Tidak lama kemudian, Bu Aya selaku guru Matematika datang memasuki kelas.
"Selamat pagi, Semua!" sapa Bu Aya.
"Pagi, Bu!" jawab seluruh murid kompak.
"Daisy, kamu sudah masuk, Nak?" tanya Bu Aya ketika melihat murid kesayangannya.
Daisy merekahkan senyum. "Sudah, Bu."
"Alhamdulillah kalau kamu sudah sehat. Murid-murid, silakan buka buku paket halaman seratus empat puluh lima," ujar Bu Aya.
Semua murid segera membuka buku paket mereka. Mata Daisy teralihkan ketika melihat Varen yang menguap. Daisy hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia sangat mengerti, jika sahabatnya itu sangat membenci pelajaran Matematika.
oOo
Seorang gadis dengan seragam putih abu-abu duduk di kursi yang menghadap ke arah danau. Dia adalah Daisy yang datang bersama Elang setelah pulang sekolah tadi. Elang sedang pergi untuk membeli es krim untuknya dan juga Daisy. Beberapa saat kemudian, Elang kembali dengan membawa dua buah es krim.
"Makasih, Kak," ujar Daisy setelah menerima es krim popsicle yang diberikan Elang.
Elang hanya mengangguk, lalu mendudukkan diri di sebelah Daisy.
"Ternyata, rasa matcha nggak terlalu buruk," ucap Daisy.
"Emang. Gue heran sama orang yang nggak suka matcha," balas Elang.
"Benar, Kak. Mana ada yang bilang matcha rasanya kaya rumput. Emang mereka pernah makan rumput?" tanya Daisy.
"Pernah kali."
KAMU SEDANG MEMBACA
CANDYTUFT [SELESAI]
Teen FictionSeperti makna bunga candytuft yang melambangkan ketidakpedulian, begitulah cara Daisy menghadapi Elang. Meskipun sering diabaikan, Daisy tidak pernah peduli. Daisy akan melakukan apa saja untuk mendekatkan diri dengan Elang dan membuatnya merasakan...
![CANDYTUFT [SELESAI]](https://img.wattpad.com/cover/326060770-64-k253787.jpg)