Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

50 - AKHIR BAHAGIA

174 35 46
                                        

HAPPY READING!💗

oOo

Damar duduk di sebuah sofa tepat berhadapan dengan Daisy. Suasana kembali hening dan sedikit terasa canggung. Elang hanya diam seraya menatap keduanya secara bergantian. Daisy yang biasanya ceria mendadak menjadi pendiam. Namun, suara Damar membuat keheningan itu seketika hilang.

"Apa kabar, Daisy?" tanya Damar.

"Kabar saya baik, Om," jawab Daisy berusaha tenang.

"Jangan terlalu formal. Oh iya, Om mau minta maaf untuk semua kesalahan yang terjadi sebelumnya. Om tidak masalah kalau kamu masih marah sama Om," jelas Damar.

"Nggak papa, Om. Semua itu udah berlalu dan seharusnya dilupakan. Kita nikmati saja masa sekarang."

"Kamu benar-benar gadis yang baik," Damar menatap putra pertamanya. "Jadi Elang, kapan kamu mau menjadikan Daisy sebagai istrimu?"

Baik Elang maupun Daisy sama-sama terkejut. Keduanya langsung memandang satu sama lain.

"Mungkin setelah dia lulus kuliah. Itu juga kalau Daisy mau," sahut Elang.

"Bagaimana, Daisy? Apa kamu bersedia?" tanya Damar.

"Iya, Daisy mau," jawab Daisy dengan malu-malu.

"Lihat. Dia mau," ucap Damar kepada Elang.

Elang hanya tersenyum seraya menatap Daisy.

"Kalau begitu, mari Om ajak Daisy berbelanja di luar. Apa saja yang kamu mau? Perhiasan? Pakaian? Make up? Skincare? Om akan belikan semuanya untuk Daisy," lanjut Damar.

"Eh, nggak perlu, Om."

"Tentu kamu perlu. Mari, kita keluar bersama. Sekalian nyusul Bunda yang lagi belanja bulanan," ajak Damar.

Daisy menatap Elang. Laki-laki itu mengangguk tanda Daisy harus setuju. Lalu Daisy menatap Damar dan mengangguk seraya tersenyum.

Ketiganya berjalan keluar dari rumah meninggalkan ruang tamu yang sepi. Di depan rumah, supir pribadi Damar sudah siap dengan mobilnya. Damar langsung duduk di kursi samping pengemudi. Lalu Elang membukakan pintu belakang untuk Daisy dan keduanya duduk berdampingan.

oOo

Hari demi hari telah berlalu. Dan sekarang, Daisy telah selesai dengan kuliahnya. Hari ini, Daisy telah resmi mendapatkan gelar sebagai S1 Psikologi. Kini, gadis itu sedang berfoto-foto dengan keluarga dan teman-teman yang hadir pada hari wisudanya. Mereka semua tampak bahagia menikmati momen ini.

"Om, izin, ya," ucap Elang kepada Levin.

Levin hanya mengangguk seraya tersenyum.

Elang berjalan mengampiri Daisy yang sedang sibuk berfoto dengan Nesya, Moira, Sofia, dan Zidny. Elang menarik tangan Daisy pelan, lalu berlutut di hadapan gadisnya seraya menyodorkan buket bunga mawar merah dan sebuah cincin yang ada dalam kotak.

Daisy menatap Elang terkejut. "Eh? Apa ini, Kak?"

"Aku udah minta izin ke Om Levin untuk lamar kamu hari ini. Tolong terima bunga dan cincin ini sebagai tanda kalau kamu terima lamaran aku. Maaf, kesannya nggak romantis. Karena aku Elang Darelano Narendra, laki-laki biasa yang nggak pandai merangkai kata," terang Elang.

"Kak Elang nggak romantis aja udah bikin Daisy salting banget, apalagi kalau romantis. Oke, Daisy terima bunganya," balas Daisy seraya mengambil buket bunga tersebut dari Elang.

Elang segera berdiri, lalu meraih tangan kiri Daisy dan memasangkan cincin itu di jari manisnya. Semua orang bertepuk tangan dan kalimat godaan keluar dari mulut teman-temannya. Sedangkan, Daisy menangis bahagia di dalam pelukan Elang.

CANDYTUFT [SELESAI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang