HAPPY READING!💗
oOo
Elang memasuki Ruang VVIP Daisy bersama sang Bunda. Wanita itu sangat khawatir setelah mendengar kabar bahwa calon menantunya mengalami kecelakan. Makanya, Livia meminta Elang agar membawanya menuju Daisy. Livia tersenyum ketika melihat Daisy yang baru saja bangun tidur.
"Bunda di sini?" tanya Daisy dengan nada lemah.
"Iya, Sayang. Kamu lapar, nggak? Bunda bawa sesuatu buat Daisy," ujar Livia.
"Bawa apa, Bunda?"
Livia mengeluarkan sesuatu dari tas tempat makan. "Bawa bubur sumsum spesial. Bunda bikin khusus buat kamu loh."
"Daisy mau coba dong, Bunda."
"Mau disuapin Bunda atau Elang?" goda Livia.
"Bunda aja," jawab Daisy malu-malu.
Livia mulai menyuapkan sesendok bubur sumsum ke mulut Daisy. Gadis itu mengunyahnya seraya tersenyum senang dan memuji masakan calon mertuanya itu. Livia merasa senang, lalu menatap putranya yang sedang tersenyum ke arah Daisy.
"Kamu mau Bunda suapin juga, Elang?"
"Enggak usah, Bunda. Buat Daisy aja," jawab Elang.
Setelah sekitar 10 menit mengobrol, tiba-tiba ponsel Bunda Livia berdering menandakan panggilan masuk. Wanita itu segera mengangkat panggilan dan mengobrol dengan orang di seberang. Setelah beberapa saat mereka mengobrol, Livia mematikan panggilan tersebut dan kembali menyimpan ponselnya.
"Siapa, Bunda?" tanya Elang.
"Teman arisan Bunda. Bunda lupa kalo hari ini ada jadwal kumpul," jawab Livia.
"Terus, Bunda mau ke sana?"
"Iya. Bunda pamit dulu, ya," Livia menatap Daisy seraya tersenyum. "Daisy, kamu cepat sembuh, ya. Biar bisa main lagi ke rumah Bunda."
Daisy ikut merekahkan senyum. "Iya, Bunda. Terima kasih udah jenguk Daisy."
"Sama-sama, Sayang. Bunda pamit, ya."
"Iya, Bunda. Hati-hati," jawab Elang dan Daisy bersamaan.
Livia mulai berjalan ke luar dari kamar Daisy meninggalkan kedua remaja itu. Elang mendudukkan diri pada kursi di sebelah brankar Daisy. Cowok itu menggenggam tangan Daisy yang berbebas dari selang infus. Lalu mencium pungung tangan gadisnya, membuat Daisy tersenyum senang.
"Kata Papi, Kak Elang yang bawa Daisy ke Rumah Sakit," ujar Daisy.
Elang hanya mengangguk seraya tersenyum tipis.
"Makasih, Kak Elang. Kalo nggak ada Kakak, nggak tau lagi deh gimana nasib Daisy."
"Lagian, lo berani banget ke luar malem-malem sendirian," ucap Elang.
"Waktu itu Daisy mau minta temenin Bang Bryan, tapi Abang lagi sama Kak Melva. Jadinya, Daisy pergi sendiri," jelas Daisy.
"Kenapa nggak minta gue temenin?"
"Jarak rumah Kakak ke rumah Daisy kan lumayan jauh. Daisy juga nggak mau ngerepotin Kak Elang."
"Gue pernah bilang kan, kalo ada apa-apa bilang ke gue. Terus, apa gunanya gue jadi pacar lo kalo nggak mau direpotin?" tanya Elang.
"Ya udah, habis ini bakal bilang. Maafin Daisy, Kak," balas Daisy.
"Iya, Daisy, dimaafin."
Daisy langsung memeluk Elang dan Elang membalas pelukan tersebut. Tiba-tiba pintu kamar dibuka, membuat pelukan keduanya terpaksa lepas. Beberapa teman sekelas Daisy menjenguk dengan membawa makanan untuk temannya itu. Elang berdiri dari duduknya dan membiarkan Moira duduk di kursi.
KAMU SEDANG MEMBACA
CANDYTUFT [SELESAI]
Ficção AdolescenteSeperti makna bunga candytuft yang melambangkan ketidakpedulian, begitulah cara Daisy menghadapi Elang. Meskipun sering diabaikan, Daisy tidak pernah peduli. Daisy akan melakukan apa saja untuk mendekatkan diri dengan Elang dan membuatnya merasakan...
![CANDYTUFT [SELESAI]](https://img.wattpad.com/cover/326060770-64-k253787.jpg)