EPILOG

162 23 2
                                        

Hujan turun pelan-pelan malam itu, membasahi kaca jendela kamar pengantin yang sunyi. Bukan hujan deras yang menggila, tapi gerimis lembut yang seperti mengusap bumi dengan kasih sayang. Seperti pelukan dari semesta yang ingin berkata, "Kamu telah sampai di tempat yang seharusnya."

Daisy duduk di tepi ranjang, masih mengenakan gaun pengantinnya. Rambutnya sedikit berantakan, dan make-up di sudut matanya telah luntur oleh air mata haru yang turun sepanjang hari. Di pangkuannya, ada sebuah buku novel pertamanya yang sudah lama dia simpan, tetapi hari ini Daisy kembali membukanya.

Daisy membuka halaman favoritnya, bagian yang paling menyentuh menurutnya...

"Suatu hari nanti, aku ingin bahagia. Bukan karena pura-pura kuat, tapi karena aku benar-benar merasakannya. Aku ingin dicintai, tanpa harus memohon dipilih."

Dulu, tulisan itu dibuat Daisy di tengah malam, ketika hidup terasa terlalu sunyi dan luka terlalu dalam untuk dibagi. Tetapi hari ini, tulisan itu terasa seperti mimpi yang akhirnya jadi kenyataan.

"Hey, istri," suara Elang pelan terdengar di ambang pintu.

Daisy menoleh ke asal suara. Elang berdiri di sana, masih mengenakan setelan pengantinnya. Wajahnya kelelahan, tapi tatapannya hangat. Ia melangkah mendekat, lalu duduk di samping Daisy.

"Aku nulis ini waktu aku ngerasa sendirian banget," ujar Daisy, matanya kembali berkaca-kaca.

Elang membaca tulisan itu, lalu menggenggam tangan Daisy. "Kamu nggak sendirian lagi sekarang. Ada aku, suami kamu."

Daisy mengangguk pelan. Air matanya kembali jatuh, tetapi kali ini bukan karena sedih, melainkan karena lega. Karena selama ini, dia berpikir tidak ada tempat yang benar-benar bisa disebut rumah. Tetapi ternyata, rumah bukan bangunan. Rumah adalah seseorang dan hari ini, Daisy telah menemukan rumahnya di dalam pelukan Elang.

"Aku takut bahagia ini cuma sementara," ucap Daisy pelan.

"Kalau suatu hari nanti kamu merasa takut, pegang tanganku," ujar Elang. "Aku akan ada di situ. Nggak janji untuk selalu buat kamu tertawa, tapi aku janji nggak akan ninggalin kamu sendiri."

Daisy menunduk, menyandarkan kepalanya di bahu Elang. Di luar, hujan masih turun. Tetapi di dalam hati Daisy, matahari perlahan terbit. Bukan karena hidupnya sempurna, tetapi karena dia belajar menerima semua ketidaksempurnaan yang membentuk dirinya.

Daisy kembali teringat pada masa-masa pahit, malam-malam panjang tanpa harapan, dan luka-luka yang Daisy pikir tidak akan pernah sembuh. Tetapi ternyata, luka bisa berubah menjadi sesuatu yang indah jika kita mau membuka diri untuk disembuhkan.

Dan sekarang, saat semuanya telah berlalu, Daisy tahu bahwa kebahagiaan bukan hanya tentang tawa dan pesta. Tetapi tentang rasa tenang yang datang setelah badai, tentang tangan yang tetap menggenggam saat semua orang memilih pergi. Tentang cinta yang tidak perlu sempurna, asal tulus.

Dan akhirnya, Daisy tidak lagi berharap dicintai. Karena kini, Daisy tahu kalau dirinya sudah dicintai. Dengan segenap hati.

-TAMAT-

Terima kasih telah membaca cerita ini sampai selesai...
Terima kasih yang selalu menekan tombol vote...
Terima kasih yang selalu memberikan komen positif...

Maafkan author yang satu ini, ya. Soalnya cuma bisa nulis waktu hujan turun. Soalnya kalau enggak, imajinasi malah ngilang entah ke mana.

Sampai jumpa di cerita berikutnya!
Dengan cinta,
-cyanaphiaa

CANDYTUFT [SELESAI]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang