31

120 21 4
                                        

Oke gak usah nunggu rame deh, spesial buat yang stay nungguin cerita ini💖

NIH AKU LANJUTIN YAA, HAPPY READING🙌

👻👻👻

Oniel masih merasa tubuhnya seperti terbuat dari batu.

Matanya bergerak-gerak, mencoba memfokuskan pandangannya pada lingkungan sekitar, tetapi rasanya semuanya begitu asing. Kepalanya berdenyut sangat sakit, dan saat dia membuka mulut untuk berbicara, hanya suara lirih yang keluar.

“A—ada... apa…?” Oniel mencoba bertanya, tapi kata-kata itu terhambat di tenggorokannya.

Dokter menyadari itu segera melepas oksigen konstrator Oniel kemudian memeriksa keadaanya sembari tersenyum tipis. “Halo Oniel. masih pusing kepalanya? pasti butuh waktu, Istirahat aja dulu, kami akan terus memantau kondisi kamu, perawat juga sedang menelfon kerbat kamu."

Selang beberapa menit, Oniel bisa mendengar suara langkah kaki yang mendekat.

Lulu, Olla, dan Jessi bergegas masuk ruangan membuang tas ke sembarang arah, kemudian buru-buru mendekat ke arah brankar Oniel.

Oniel tertegun, kepalanya semakin pusing. Tidak mungkin, bukankah mereka sudah....

Oniel ingat dengan jelas. Lulu yang mengguncang bahunya dengan wajah penuh air mata, Olla yang keras kepala bertahan sampai akhir, dan Jessi… dia ingat betul suara tembakan yang menggema, bagaimana tubuh mereka tak lagi bergerak. Itu nyata. Itu bukan mimpi.

Tapi sekarang, mereka ada di sini. Hidup.

“Lo… g-gimana…?” suara Oniel gemetar, masih terbata-bata, tapi lebih karena syok daripada kesulitan bicara. Matanya menatap Lulu, Olla, dan Jessi satu per satu, seolah memastikan kalau ini bukan halusinasi.

Lulu tertawa kecil, meski air matanya masih menggenang. “Yaelah, lo kenapa, sih? Jelas-jelas lo yang koma, bukan kita. Lo beneran masih inget kita kan?"

Oniel menggeleng pelan, napasnya tersengal.

“Tapi… lo semua… udah gaada… gue liat sendiri…” air mata Oniel mengalir perlahan, dirinya sangat takut jika momen ini bukanlah realitanya

Suasana langsung hening. Lulu dan Olla saling berpandangan, bingung dengan apa yang baru saja Oniel katakan. Jessi mengerutkan kening, sedikit maju mendekat.

"Oniel, lo mimpi apa?” Jessi bertanya dengan suara pelan, seolah takut sesuatu dalam diri Oniel bisa pecah kapan saja.

Tapi Oniel yakin. Dia tidak mungkin salah ingat. Semua yang dia alami selama ini terasa lebih nyata daripada sekadar mimpi biasa. “Gue… inget semuanya…” suaranya mulai melemah, tubuhnya terasa lemas. “Ledakan itu… darah di mana-mana… suara… suara mereka…”

Tangannya gemetar.

Lulu buru-buru menggenggam tangan Oniel, menenangkannya. “Niel, tarik napas. Lo abis koma, otak lo mungkin masih nge-glitch. Gue, Olla, dan Jessi gak pernah mati. Lo ada di rumah sakit, semuanya aman.”

Tapi kata-kata Lulu justru membuat Oniel semakin panik. Kalau semua ini hanya mimpi, kenapa rasanya begitu nyata? Dan kalau semua ini nyata… kenapa dia merasa ada yang salah dengan dunia ini?

Oniel membuka suara pelan. "Tolong... jangan tinggalin gue."

Lulu menggeleng cepat, "Kita semua selalu nungguin lo bangun, kita yang takut di tinggalin sama lo niel, jangan jadi pengecut, kita masih muda ya!"

Rasanya sangat berat untuk bicara, ia pun tidak ingat apa yang sebenarnya terjadi hingga ia bisa terbaring di ruangan ini dengan keadaan mengenaskan.

Lintas Semesta ( END )Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang