30

113 21 2
                                        

Marsha dan Zee berdiri terpaku, shock melihat keadaan di luar. Bau busuk menyengat menusuk hidung mereka, membuat perut terasa mual. Arwah-arwah tergeletak begitu saja, tak bergerak, seakan tak lagi memiliki tempat di dunia ini.

Marsha menutup mulutnya, menahan napas. Apa yang terjadi dengan Gita sebelumnya? Apa yang sudah dia lakukan?

Zee menatap sekeliling dengan gelisah, matanya dipenuhi kecemasan. Dia menggigit bibir bawahnya, berpikir keras. Lalu tiba-tiba, matanya membelalak. Sebuah ingatan melintas di kepalanya.

"Sha, aku ingat!" suaranya terdengar putus asa tapi penuh keyakinan. "Kita punya cara untuk menyelamatkan Oniel."

Marsha menoleh cepat. "Apa?"

Zee menatapnya tajam. Rahangnya mengeras sebelum dia mengucapkan satu kalimat yang bisa mengubah segalanya. 

"Bakar ruangan ini."

Marsha menatap Zee dengan ragu. Hatinya menolak usulan itu. 

"Enggak, Zee. Tempat ini besar, gak segampang itu." Suaranya penuh keraguan. Jika mereka benar-benar membakarnya, semuanya akan hangus. Semua.

Tapi Zee tetap kukuh. "Sha, Oniel itu manusia. Tempat ini adalah dunia kita, bukan dunia dia. Dia pasti akan selamat. Masalah kita… kita pikirkan nanti."

Marsha mengernyit, semakin bingung dengan logika Zee. "Bukannya kamu kekeuh banget ya buat hidup lagi? Jasadmu masih koma, Zee. Terus gimana dengan kembaranmu di penjara?"

Zee terdiam. Hening menggantung di antara mereka. 

Tapi kali ini… entah kenapa, ia merasakan sesuatu yang berbeda.

"Gak apa-apa," akhirnya Zee berkata, suaranya lebih lembut dari biasanya. "Oniel udah banyak berkorban. Setelah melihat teman-temannya tewas… aku sedikit gak tega."

Untuk pertama kalinya, Zee, yang selalu mementingkan dirinya sendiri, justru ingin melakukan sesuatu bukan untuk dirinya… tapi untuk orang lain.

Zee dan Marsha sudah siap. Api sudah menyala di tangan mereka, siap membakar tempat ini dan mengakhiri semuanya. 

Tapi tepat sebelum Zee melemparkan api itu, dia terdiam. Matanya beralih ke Marsha di sebelahnya. 

Jika aku masih punya sedikit kemungkinan untuk hidup… bagaimana dengan Marsha?

Zee menelan ludah. Pikirannya berputar, mengingat semua yang telah terjadi. Air matanya perlahan menetes.

Dulu, dia tidak pernah benar-benar peduli dengan Marsha. Bukan dia yang membunuh gadis itu, tapi… semua ini berawal juga karena dirinya.

Dia tidak pernah tahu bahwa Marsha hanya seorang anak polos yang sering dibully. Dia tidak pernah menyadari bahwa hati anak itu benar-benar baik.

Dan sekarang… semuanya terlambat. 

Zee mengertakkan giginya. Dia tidak punya pilihan lain.

Dengan suara bergetar, Zee menoleh ke Marsha. "Sha, Aku minta maaf."

Marsha mengerjap, terkejut dengan kata-kata itu. Tapi sebelum dia bisa merespons— 

Booom!

Zee meledakkan tempat itu. Api membesar, menghancurkan segalanya dalam sekejap. 

Asap memenuhi udara. Dunia mereka runtuh.

Dan di antara kobaran api itu, Zee akhirnya menebus kesalahannya.


👻👻👻

Suasana benar-benar berhenti sejenak. Dalam keheningan itu, ingatan-ingatan lama kembali berputar, seperti film yang diputar ulang sebelum akhirnya berakhir selamanya.  Mereka hanya anak anak SMA biasa

Lintas Semesta ( END )Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang