Hari ini Oniel bertingkah aneh saat jam ke-3. Tiba-tiba saja, ia kabur dari kelas di tengah pelajaran. Sebagai ketua kelas sekaligus anggota OSIS, jelas ini bukan sesuatu yang biasa ia lakukan. Lulu, Olla, dan Jessi yang sudah curiga sejak awal langsung saling pandang sebelum diam-diam mengikuti Oniel.
Tanpa mereka duga, Oniel menuju sebuah apartemen—tepatnya, apartemen yang dulu pernah ditinggali Kathrin. Setibanya di sana, ia mendekati resepsionis dan memesan kamar nomor 5.
“Kamar nomor 5?” Resepsionis tampak ragu. “Tempat itu... sudah lama kosong.”
“Tapi masih bisa disewa, kan?” Oniel menegaskan.
Resepsionis mengangguk pelan sebelum akhirnya menyerahkan kunci. Memang, kamar bekas orang bunuh diri jarang sekali ada yang mau menempatinya.
Saat Oniel membuka pintu, kamar itu tampak kosong. Namun, samar-samar, ia mendengar suara air mengalir dari dalam kamar mandi. Hening. Kemudian, suara pintu kamar mandi terbuka.
Seorang gadis keluar dengan wajah segar khas orang yang baru selesai mandi. Rambutnya basah, kulitnya terlihat sehat, tidak pucat, matanya lentik, tubuhnya benar-benar tampak seperti manusia biasa.
Kathrin.
Jantung Oniel mencelos. Ia nyaris tak bisa berkata-kata.
Sementara itu, di luar kamar, Lulu, Olla, dan Jessi saling berbisik.
“Lo yakin kita ngikutin dia masuk?” bisik Olla.
“Udah kepalang basah, kita harus tahu Oniel ngapain,” sahut Jessi.
Tanpa banyak pikir, mereka bertiga mengetuk pintu. Begitu Oniel membukanya, mereka langsung nyelonong masuk.
Dan di sana, di atas kasur, mereka melihatnya.
Kathrin.
Duduk dengan ekspresi santai. Segar. Seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Tiga sekawan itu langsung berteriak sekencang-kencangnya seperti orang konyol.
“AAAAAAAAAA!!”
👻👻👻
Mereka langsung ditegur Oniel—lebih tepatnya, dimarahi. Bisa-bisanya mereka ikut-ikutan bolos. Kini, mereka duduk di atas karpet, diam tanpa banyak bicara. Di depan mereka, Kathrin duduk manis dengan ekspresi tenang.
"Mereka pasti nggak ingat aku," ujar Kathrin santai.
"Hah?" serempak Lulu, Olla, dan Jessi bersuara. Mereka langsung menatap Kathrin dengan ekspresi bingung.
Oniel menghela napas panjang, memijat pelipisnya. Ia tidak tahu harus mulai menjelaskan dari mana. Sementara itu, Kathrin hanya melirik mereka sekilas sebelum berdiri dan berjalan mendekati jendela.
"Selamat, kalian bisa melihat saya cantik hari ini," ujarnya sambil tersenyum tipis. "Saya cuma mau bilang, apa yang pernah dimimpikan Oniel itu bentuk kejadian atau kebenaran yang belum terungkap pada saat ini."
Ia berbalik, menatap mereka satu per satu dengan tatapan penuh arti.
"Kalian bertiga teman Oniel, kan?" lanjutnya. "Bantu dia mengungkap kebenaran. Tenang saja, Oniel sudah tahu semua cluenya. Tinggal eksekusi dan bukti aja."
Lulu, yang masih diliputi rasa penasaran meski tubuhnya gemetar, memberanikan diri bertanya. "Gimana bisa... kamu hidup lagi?"
Kathrin tersenyum tipis. "Saya nggak hidup. Saya cuma mampir." Ia mengangkat alis, menatap mereka dengan tatapan iseng. "Kenapa? Baru kali ini lihat arwah cantik?"
Lulu menelan ludah, sementara Olla dan Jessi membeku di tempat.
Kathrin lalu melirik Oniel. "Oniel juga sudah tahu mengapa saya ngelakuin itu. Dia tau segalanya. Sekarang, kamu tinggal mencari tahu siapa dalang dari kecelakaanmu itu."
Setelah mengatakan itu, ia berbalik, berjalan menuju pintu, lalu menghilang begitu saja.
Jantung ketiga temannya seolah berhenti beberapa detik. Mereka kompak menatap Oniel dengan tajam.
Oniel menghela napas panjang, jelas-jelas sudah memperkirakan ini bakal terjadi. Tapi tetap aja, tatapan tiga temannya sukses bikin dia geli sendiri.
"Apa?" Oniel menatap balik mereka, sok gak peduli.
Lulu yang pertama bereaksi, masih dengan ekspresi syoknya. "Lo bercanda kan? Ini tadi halu massal, kan?"
"Kalau lo halu massal, harusnya lo gak bisa nanya gitu, Lu," sahut Olla, suaranya lirih tapi sarkas.
Jessi menelan ludah, tangannya refleks mencubit lengannya sendiri. "Anj, sakit. Berarti gue gak mimpi."
"Tuh kan, gue udah bilang," Oniel melirik mereka satu per satu, "Tapi lo semua malah sibuk teriak-teriak kayak bocil kesurupan."
Lulu masih tampak linglung. "Tapi ini kan aneh! Arwah Kathrin beneran datang, kita ngobrol sama dia, terus dia hilang gitu aja? Udah kayak... kayak—"
"Kayak film horor yang endingnya bakal nyakitin otak kita," potong Olla sambil menatap kosong ke arah pintu.
Jessi menggeleng cepat, berusaha berpikir jernih. "Gue gak peduli setan atau bukan, tapi ini ada hubungannya sama kecelakaan Oniel. Dan sekarang lo harus jelasin ke kita, biar kita bisa bantu lo."
Oniel mendengus pelan, nyengir miring. "Makanya jangan sok ikutan bolos, kan ujung-ujungnya jadi kena juga."
"Lah, kita kan peduli!" Lulu membela diri.
Oniel akhirnya tertawa kecil sebelum berdehem, wajahnya perlahan kembali serius. "Oke, gue jelasin dari awal... tapi lo semua siap dengernya?"
Mereka bertiga saling pandang, lalu serempak mengangguk.
"Ayo, mulai."
👻👻👻
SORRY NARASINYA DIKIT-DIKIT DULU YA
Tenang guys, cerita ini langsung satset kok
Udah siap menuju ending?
JANGAN LUPA VOTE DAN KOMENYA YA CINGTAHH, SEE YOU♥️

KAMU SEDANG MEMBACA
Lintas Semesta ( END )
Mistero / ThrillerOniel bisa lihat hantu! Kemampuannya bukan menjadikan ia di jauhi banyak orang, alih alih kepo bagaimana cara kerja makhluk halus itu? Apakah kegiatan mereka sama seperti manusia pada umumnya? Ini bukan kisah romance. Ini kisah oniel yang mendapat...
