Di sisi lain Jessi, Lulu, dan Olla ternyata punya rencana lain di belakang Oniel. Sejak awal, mereka sudah sedikit curiga dengan Bu Nabila. Kini, Olla duduk di depan laptopnya, kacamatanya bertengger di pangkal hidung, dan fokusnya tak bisa terbagi sedikit pun.
"Bu Nabila ini... aneh," gumam Olla sambil menggerakkan mouse, matanya menelusuri beberapa biodata guru di sekolah.
Lulu yang duduk di sampingnya ikut mengintip layar. "Maksudnya?"
"Nama panjangnya nggak ada di sistem, alamatnya setiap tahun berubah-ubah, belum menikah, dan masih honorer," jelas Olla, matanya menyipit. "Tapi, dia selalu bawa mobil ke sekolah. Aneh nggak sih? Gaji guru honorer nggak seberapa, tapi dia bisa punya mobil? Artinya, dia pasti punya pekerjaan lain."
Jessi yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara. "Bisa aja dia punya keluarga kaya."
Olla menggeleng. "Nggak segampang itu. Gue udah cek, dia nggak punya saudara atau siapa pun yang bisa jadi sumber dana. Ini ada yang janggal."
Lulu menatap kedua temannya dengan serius. "Jadi... kita harus selidikin lebih jauh?"
Olla mengangguk.
Jessi mengelus dagunya, pikirannya bekerja lebih keras. "Gimana kalau kita ambil tasnya? Siapa tau ada sesuatu di dalamnya."
Lulu langsung menghela napas panjang. "Gimana caranya? Masa kita nyolong gitu aja?"
Olla yang sejak tadi memperhatikan akhirnya menyahut, "Nanti Bu Nabila ada pelajaran di kelas lain, kan? Biasanya kalau jam pelajaran, kantor guru kosong. Mungkin kita bisa masuk pas itu."
Lulu masih ragu. "Tapi tetap aja, kita nggak bisa sembarangan ngambil barang orang."
"Kita nggak ambil, cuma ngecek," kata Jessi cepat. "Gimana kalau kita pura-pura ngumpulin lembar LKS dan taruh di meja Bu Nabila? Dari situ, kita bisa cari sesuatu yang mencurigakan di tasnya."
Olla menyesuaikan letak kacamatanya, lalu mengangguk. "Kedengaranya cukup masuk akal. Kita butuh rencana yang lebih matang, tapi ini bisa kali, kita coba."
Mereka bertiga saling berpandangan, menyadari bahwa ini bukan hal yang mudah. Tapi kalau firasat mereka benar, ada sesuatu yang disembunyikan oleh Bu Nabila.
Lulu dan Jessi membawa beberapa lembar LKS Bahasa Inggris yang mereka pinjam dari teman sekelas. Dengan langkah hati-hati, mereka memasuki ruang guru. Kebetulan, seperti dugaan mereka, tas Bu Nabila tergeletak di kursi dekat mejanya.
Jessi menelan ludah, lalu tanpa ragu merogoh tas tersebut. Lulu berjaga di pintu, matanya terus mengawasi sekitar.
“Cepetan, Jess,” bisik Lulu, tangannya sedikit gemetar.
Jessi mengacak-acak isi tas, tapi yang ia temukan hanya dua buah ponsel. Tak ada dokumen mencurigakan atau barang lain yang aneh.
"Dia punya dua HP?" gumam Jessi pelan.
Tanpa berpikir panjang, Jessi mengambil dua hp dan buru-buru keluar dari ruangan. Lulu mengikuti di belakangnya, jantung mereka berpacu cepat. Sejauh ini, mereka belum ketahuan.
Di dalam gudang yang remang-remang, Olla duduk dengan laptop terbuka di pangkuannya. Cahaya dari layar biru pucat memantul di kaca matanya, menambah kesan serius di wajahnya. Begitu Jessi dan Lulu datang tergesa-gesa, ia langsung menyambar salah satu ponsel yang mereka dapatkan.
"Satu nggak dikunci," kata Jessi sambil terengah-engah.
"Bagus," Olla bergumam, jari-jarinya lincah menyalin seluruh data ke laptopnya. Matanya menelusuri isi ponsel dengan penuh konsentrasi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lintas Semesta ( END )
Misterio / SuspensoOniel bisa lihat hantu! Kemampuannya bukan menjadikan ia di jauhi banyak orang, alih alih kepo bagaimana cara kerja makhluk halus itu? Apakah kegiatan mereka sama seperti manusia pada umumnya? Ini bukan kisah romance. Ini kisah oniel yang mendapat...
