Oniel bisa lihat hantu!
Kemampuannya bukan menjadikan ia di jauhi banyak orang, alih alih kepo bagaimana cara kerja makhluk halus itu?
Apakah kegiatan mereka sama seperti manusia pada umumnya?
Ini bukan kisah romance. Ini kisah oniel yang mendapat...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hari-hari berlalu begitu cepat. Seiring waktu, kondisi Oniel pun berangsur membaik. Ketika akhirnya ia kembali ke sekolah, suasana tampak lebih ramai dari biasanya. Kedatangannya disambut dengan antusias, tak lepas dari berita kecelakaannya yang sempat menghebohkan seluruh sekolah.
Bagaimana tidak? Kecelakaan itu begitu parah, dan semua orang tau betapa tipisnya batas antara hidup dan mati dalam kejadian itu. Syukurlah, Oniel masih selamat.
Beberapa siswa langsung menghampirinya, menanyakan kabarnya dengan wajah penuh kekhawatiran. Sebagian lain lebih fokus pada tugasnya di OSIS, memastikan apakah ia masih bisa melanjutkan pekerjaannya. Namun, ada juga yang justru menanyakan hal-hal aneh yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
"Rasanya koma, ginana sih?"
Oniel hanya bisa mengerjap, bingung harus menjawab apa. Namun ia memutuskan untuk menanggapi pertanyaan-pertanyaan itu dengan santai, bahkan dengan sedikit iseng.
Oniel menyandarkan tubuhnya ke bangku, memasang ekspresi serius seolah akan menjawab sesuatu yang dalam. Tapi, yang keluar justru, "Kayak tidur siang, tapi diskonnya kebablasan."
Seketika, beberapa temannya menghela napas, sementara yang lain tertawa.
"Beneran anjay! Lo ngalamin pengalaman aneh nggak pas koma? kayak di film-film gitu."
Oniel mengangkat alis. "Aneh gimana? Kayak tiba-tiba bisa ngelihat masa depan gitu?"
"Nah! Nah! iya, kayak gitu. lo liat apa?"
Oniel menatap mereka satu per satu sebelum akhirnya menjawab dengan nada misterius. "Gue liat lo semua masih jomblo sampai tahun depan."
"ONIEL!" seru mereka hampir bersamaan, membuat Oniel tertawa puas melihat ekspresi mereka yang kesal sekaligus geli.
Tiba-tiba, seorang siswi dari kelas lain masuk ke dalam kelas Oniel, membawa sebuket bunga yang dihiasi dengan note kecil berdesain cantik. Suasana kelas langsung dipenuhi tatapan penasaran.
Oniel menatap anak itu dengan dahi berkerut. Wajahnya tampak familiar, tapi ia tidak bisa mengingat siapa atau dari mana ia mengenalnya. Sebenarnya, ia ingin bertanya, tapi yang keluar dari mulutnya justru, "Ini dari siapa?"
Siswi itu hanya menunjukkan ekspresi datar, lalu mengangkat bahunya. "Baca aja sendiri," katanya, sebelum berbalik pergi meninggalkan kelas.
Oniel melirik bunga di tangannya, lalu menatap note kecil yang terselip di antara kelopaknya. Perasaannya campur aduk, penasaran, bingung, dan sedikit deg-degan. Siapa yang mengirim ini?
Oniel baru saja hendak membuka note di antara kelopak bunga namun bel keburu berbunyi, menandakan pelajaran akan segera dimulai. Ia menghela napas, menunda rasa penasarannya, lalu meletakkan buket itu di kolong meja.
Namun, belum sempat ia benar-benar fokus, ponselnya tiba-tiba bergetar. Sebuah pesan masuk dari papanya.
"Kamu udah siuman? Kok nggak pernah ngabarin papa?"
Oniel menatap layar ponselnya dengan ekspresi datar. Ada dorongan dalam dirinya untuk membalas, tapi entah kenapa, ia malah merasa enggan.
Dulu, ia selalu berharap mendapatkan perhatian lebih dari papanya. Dulu, ia ingin sekali mendengar suara laki-laki itu menanyakan kabarnya, menunjukkan kepedulian. Tapi sekarang?
Mana ada anaknya koma, lalu dia bahkan nggak tau kapan anaknya siuman dan mulai kembali beraktivitas lagi?
Oniel menekan tombol lock pada ponselnya, membiarkan pesan itu menggantung tanpa balasan. Di dalam hatinya, ada rasa yang sulit ia jelaskan, entah kecewa, atau sudah terlalu lelah untuk peduli.
Belum semenit sejak ia mengabaikan pesan pertama, ponselnya kembali bergetar. Oniel melirik layar dengan malas, lagi-lagi dari papa.
"Papa bakal pulang seminggu lagi. Tapi selama papa di rumah, jangan ajak teman-temanmu main ke rumah."
Oniel menghela napas panjang. Bukan bertanya "gimana keadaanmu sekarang?" atau "apa kamu butuh sesuatu?"—melainkan larangan yang terasa lebih seperti perintah daripada perhatian.
Jari-jarinya sempat bergerak di atas layar, ingin mengetik balasan. Tapi apa? Mengiyakan? Mengeluh? Menanyakan alasannya? Pada akhirnya, ia hanya mengunci ponselnya lagi dan menyelipkannya ke dalam saku.
Tak ada gunanya. Papa selalu begitu.
👻👻👻
Saat bel istirahat berbunyi, Oniel dan ketiga temannya memilih menghabiskan waktu di kantin, seperti biasa, makan, ngobrol, dan sesekali melontarkan guyonan receh.
Jessi mengangkat bahu santai. "Gue nggak makan cepet, kalian aja yang slow motion."
Olla terkekeh, lalu ikut menimpali, "Gini ya, Jess, makan tuh dinikmati, ini sambel juga enak banget dah. Jangan kayak orang susah."
"Nggak ada waktu buat nikmatin hidup, beb. Makan cepet biar bisa tidur lebih lama di kelas nanti." Jessi menyeringai, membuat Oniel dan yang lain tertawa.
Di tengah obrolan santai mereka, Oniel akhirnya teringat sesuatu. Ia merogoh saku rok nya dan mengeluarkan note kecil yang terselip di buket tadi. Dengan rasa penasaran, ia membuka dan membaca isinya.
"Welcome back, Oniel. Maaf, saya tidak bisa datang menjenguk kamu kemarin."
Oniel mengerutkan kening. Pesan ini… dari Bu Nabila?
Ketiga temannya yang melihat ekspresi bingung Oniel langsung mencondongkan tubuh, ikut membaca note tersebut.
Lulu meletakkan es jeruknya setelah puas menyedotnya hingga setengah "Nggak salah nih, Bu Nabila ngasih buket kayak gitu?"
"Iya, sih. Bu Nabila emang baik, tapi ya nggak sampai se-level ngasih buket juga," tambah Olla, mulai memasukkan bakso ke dalam mulutnya.
"Kayak pacar aja," Jessi berkomentar, membuat mereka semua berpandangan satu sama lain.
Oniel hanya bisa diam, menatap note itu dengan perasaan campur aduk.
👻👻👻
SEPERTI BIASA, MOHON DUKUNGANYA UNTUK VOTE DAN KOMEN YA GESKU!
SIAPA YANG MAU LANJUT LAGI?
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.