"Bbunuh saya.." Suara gemetar Oniel sukses membuat Lulu mebelalakan mata.
"Bunuh saya.. bunuh saya.. bunuh saya.. AYO BUNUH SAYA!"
Lulu terkejut ketika mendengar permintaan Oniel kepada Master Indah untuk membunuhnya. Tanpa berpikir panjang, Lulu segera berlari menghampiri Oniel, mengguncang bahu Oniel dengan kuat, berusaha menyadarkannya. Matanya penuh dengan kepanikan, suaranya melengking histeris.
"Gak! Lo gila? Kita udah sejauh ini, gak mungkin nyerah gitu aja!"
Namun, Oniel hanya menatapnya dengan tatapan kosong, wajahnya dipenuhi keputusasaan.
"Tapi, Lu... bokap gue jahat, dia gak pantes—"
Lulu tak membiarkan Oniel menyelesaikan kalimatnya. Dadanya sesak oleh amarah dan kesedihan yang bercampur aduk.
"Olla dan Jessi mati gara-gara mereka! Terus lo gak mikirin gimana perasaan gue? Segampang itu lo ikhlasin kematian Olla dan Jessi, hah?"
Suasana menjadi hening sejenak. Lulu menatap Oniel dengan mata berkaca-kaca, berharap sahabatnya itu sadar bahwa menyerah bukanlah pilihan.
"Lo punya mantra Oniel, langkah kita sedikit lagi sampai!—
"Tapi saya punya liontin ini" Saut Master Indah penuh kemenangan sembari menentang liontin di tanganya. Senyum mengerikan itu membuat Lulu bertanya tanya, apa maksud liontin itu?
"Mungkin sama pentinganya, entah mana yang lebih kuat antara mantra Oniel, atau liontin ini."
Lulu langsung naik pitam. "Orang gila! Anda gak tau di untung sama sekali!"
Lulu merasakan dadanya semakin sesak. Amarahnya memuncak saat Master Indah mengeluarkan kalimat yang terdengar seperti sampah di telinganya. Kata-kata itu menusuk hatinya, membuat darahnya mendidih.
Tanpa bisa menahan diri, Lulu berteriak penuh emosi, lalu melesat ke arah Master Indah. Tangannya terkepal erat, siap menghantam wajah gadis itu. Tidak ada lagi rasa takut, tidak ada lagi keraguan. Yang ada hanya kemarahan yang meledak-ledak.
"Mulut lo keterlaluan!" Lulu menghantam Master Indah dengan kekuatan penuh, membuat gadis itu terhuyung ke belakang.
Master Indah tersenyum miring, seolah menikmati amukan Lulu. Tapi sebelum Lulu bisa menyerang lagi, suara tembakan tiba-tiba menggema.
Dor!
Semuanya terasa membeku. Seolah dunia berhenti berputar. Lulu terpaku di tempat, napasnya tersengal. Tatapannya beralih pada Oniel, lalu ke arah Master Indah.
Seseorang terluka.
Gita! mengapa Gita ada di sana?
Oniel membelalakkan mata, dadanya mencelos saat melihat Lulu terhuyung ke belakang. Peluru itu… berhasil menembus tubuhnya.
"Lulu!" Oniel berlari, tapi tubuhnya terasa kaku, seolah waktu melambat di hadapannya.
Pandangan Oniel dengan cepat beralih, mencari sumber tembakan. Dan di sanalah— Gita berdiri, senapan masih terangkat, asap tipis mengepul dari ujung larasnya. Tatapannya dingin, tanpa ragu.
Oniel menggertakkan giginya, otaknya berpacu, tapi dia sudah kehabisan akal. Satu per satu teman-temannya telah tumbang di tangan Gita. Olla, Jessi, dan kini… Lulu.
Tidak. Dia tidak bisa membiarkan ini berlanjut.
Dengan napas tersengal dan tangan terkepal, Oniel menatap Gita penuh kebencian.
"Kenapa lo lakuin ini?" suaranya bergetar, bukan karena takut, tapi karena kemarahan yang berusaha dia tahan.
Gita hanya menyeringai. "Karena aku bisa."
Dunia terasa semakin sesak. Oniel tahu… waktunya hampir habis.
Oniel tak lagi ragu. Dengan napas memburu dan tangan gemetar, dia merapalkan mantra yang sudah terpatri di luar kepala. Suaranya tegas, penuh keyakinan. Kertas mantra yang digenggamnya erat kini bersinar samar, dipenuhi energi yang bergetar di udara.
Tanpa pikir panjang, Oniel melemparkan kertas mantra itu ke arah papanya—sosok yang kini sudah terkapar, nyaris tak berdaya. Begitu menyentuh tubuhnya, kertas itu langsung bereaksi, menyelimuti papanya dengan cahaya yang berpendar.
Di sisi lain, Master Indah bergerak cepat. Tangannya bergerak memainkan liontin di tanganya. Tanpa ragu, dia menyulutnya dengan api kecil yang sudah ia siapkan sebelumnya. Dalam hitungan detik, liontin itu terbakar, nyala api berwarna biru keunguan berputar-putar di sekelilingnya.
Kekuatan mereka mulai bertabrakan. Udara bergetar, tanah bergemuruh, seolah tak sanggup menahan energi yang dilepaskan.
Gita mundur selangkah, matanya membelalak. Dia tahu, ini bukan lagi pertarungan biasa. Ini perang antara dua kekuatan besar.
Dalam hati Oniel bergejolak. Gue tau Papa juga gak pantas hidup. Dia bukan orang baik, terlalu banyak kesalahan yang sudah dia buat. Semua kekacauan ini… ada jejaknya di setiap sudutnya.
Gue nggak lakuin ini karena papa. Gue lakuin ini karena teman-teman gue.
Teman-teman yang gak berdaya. Olla, Jessi, Lulu… Mereka semua terlibat dalam perang yang bukan milik mereka. Mereka seharusnya masih hidup, masih bisa tertawa. Tapi kini? Hanya kesunyian dan darah yang tersisa.
Lalu dia, Master Indah.
Dulu, dia baik. Dulu, dia adalah seseorang yang bisa mereka percaya. Tapi sekarang? Dia gak berhak memperlakukan teman-temannya seperti ini.
Seharusnya gue yang mati. Kenapa begini..
Oniel menggenggam erat jemarinya. Rasanya sudah tak ada air mata tersisa. Yang ada hanya kehampaan… dan satu keyakinan.
Semua ini harus diakhiri.
Oniel melirik sekeliling dengan waspada. Napasnya semakin berat, pikirannya penuh dengan kekacauan yang baru saja terjadi. Tapi ada sesuatu yang terasa janggal…
Zee dan Marsha.
Mereka tadi ada di sini. Dia yakin itu. Tapi sekarang? Mereka menghilang.
Oniel menelan ludah. Mereka kabur? Atau… mereka sedang merencanakan sesuatu?
Ketidakpastian itu membuat dadanya semakin sesak. Dia tidak tahu mereka akan berpihak kepada siapa. Apakah mereka akan kembali untuk membantu, atau justru menjadi musuh baru?
Di tengah pertempuran yang semakin memanas, misteri tentang Zee dan Marsha menambah beban di pundaknya. Siapa yang benar-benar bisa dia percaya sekarang?
👻👻👻
Lanjut? maap ya guys ini lama karena draftnya ada yang hilang
huhu sedih banget
KAMU SEDANG MEMBACA
Lintas Semesta ( END )
Misterio / SuspensoOniel bisa lihat hantu! Kemampuannya bukan menjadikan ia di jauhi banyak orang, alih alih kepo bagaimana cara kerja makhluk halus itu? Apakah kegiatan mereka sama seperti manusia pada umumnya? Ini bukan kisah romance. Ini kisah oniel yang mendapat...
