Vivian Zaline, seorang gadis yang terjebak dengan suaminya yang kejam. Ia mengalami KDRT di rumah tangganya. Setiap hari, ia memikirkan bagaimana caranya lari dan bersembunyi dari suaminya namun setiap ia ingin melarikan diri, suaminya selalu bisa m...
Pagi itu, Vivian terbangun dengan perasaan campur aduk. Cahaya matahari menyelinap masuk melalui celah tirai, menerangi kamar dengan lembut.
Ia mengerjapkan mata, berusaha mengumpulkan kesadarannya.
Di sebelahnya, Azka masih tertidur. Napasnya tenang, ekspresinya damai.
Vivian menatapnya sejenak sebelum perlahan bangkit dari tempat tidur.
Ia berjalan menuju jendela, menyibak tirai sedikit.
Udara pagi terlihat segar, dedaunan di taman kecil di halaman belakang rumah mereka masih basah oleh embun.
Kemarin malam terasa seperti mimpi. Ia tidak menyangka pamerannya akan sesukses itu.
Meskipun hanya bisa melihatnya dari layar televisi, ia tetap merasa bangga. Apalagi setelah mendengar pujian dari banyak orang, termasuk dosennya.
Dan yang paling membuatnya lega adalah perkataan Azka—bahwa semua lukisannya telah terjual.
Vivian tersenyum kecil. Itu berarti orang-orang benar-benar menyukai karyanya, bukan?
Ia berbalik dan berjalan menuju dapur. Hari ini, ia ingin membuat sarapan untuk Azka sebagai bentuk terima kasih.
Di sisi lain, Azka terbangun dengan perasaan gelisah. Tangannya meraba sisi ranjang tempat Vivian seharusnya berbaring,
tetapi yang ia rasakan hanyalah dinginnya seprai kosong. Matanya langsung terbuka lebar.
"Vivian?" panggilnya, suaranya sedikit serak karena baru bangun tidur.
Tidak ada jawaban.
Jantungnya berdebar. Ia segera bangkit dari tempat tidur, berjalan cepat menuju kamar mandi—kosong. Ia memeriksa ruang tamu—tidak ada.
Panik mulai merayap di dadanya. Ia mempercepat langkahnya, membuka setiap pintu di dalam rumah.
"Vivian!" serunya lebih keras.
Langkahnya terhenti ketika ia mendengar suara dari dapur. Suara gelas yang beradu pelan, suara langkah kaki ringan di atas lantai.
Ia bergegas ke sana dan melihat Vivian berdiri di depan meja, mengenakan gaun tidur putihnya, sedang menuangkan teh ke dalam cangkir.
Vivian pun menoleh dan tersenyum manis. "Selamat pagi Azka"
Azka berdiri diam sejenak, mencoba menenangkan napasnya.
Matanya menatap Vivian dengan intens, masih terpengaruh oleh kepanikan yang tadi melandanya.
Tanpa berkata apa-apa, ia melangkah cepat dan langsung memeluk Vivian dari belakang, mendekapnya erat.
Vivian terkejut sejenak, tetapi kemudian tersenyum kecil, menikmati kehangatan pelukan Azka. "Ada apa? Kau terlihat cemas."
Azka menghela napas panjang, menyembunyikan wajahnya di bahu Vivian.
"Aku tidak melihatmu di kamar. Aku pikir… aku pikir kau melarikan diri lagi."
Vivian terkekeh kecil. "Aku hanya ingin membuat sarapan untuk kita."
Azka semakin mengeratkan pelukannya.
"Jangan pernah melarikan diri dariku, Aku tidak bisa membayangkan jika kau tidak ada."
Vivian mengangguk pelan.
"Maaf… Aku tidak bermaksud membuatmu panik seperti tadi."
Azka mengecup puncak kepalanya dengan lembut.
"Tidak apa-apa. Aku hanya… tidak ingin kehilanganmu."
Vivian tersenyum, menatap cangkir teh di tangannya.
"Lagipula kau tidak perlu repot-repot, sayang. Bukankah ada pembantu disini yang menyiapkan sarapan?", ucap Azka
Vivian terkikik kecil. "Tetap saja, aku ingin melakukannya."
Azka pun mengecup pipi Vivian dan tersenyum, "Baiklah, ayo kita sarapan bersama"
Mereka pun menikmati sarapan bersama, berbincang ringan tentang hal-hal kecil. Vivian merasa nyaman, seperti tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Hingga akhirnya Azka menatapnya dengan lembut dan berkata,
"Bagaimana kalau kita merayakan kesuksesanmu hari ini? Kita bisa pergi ke luar, berjalan-jalan, atau makan di tempat yang kau suka."
Mata Vivian berbinar.
"Benarkah? Aku ingin pergi ke taman bunga! Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku ke sana."
Azka tertawa kecil. "Baiklah, kalau itu yang kau mau, asal jangan menghilang dari pandanganku terus tetap di sisiku, kau paham sayang?"
Vivian hanya mengangguk dengan cepat dan tersenyum bahagia.
Vivian tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.
Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi di balik semua ini—tentang siapa yang sebenarnya membeli lukisannya atau apakah ada sesuatu yang disembunyikan darinya.
Ia hanya tahu satu hal: ia bahagia. Dan itu sudah cukup baginya.
•••
PROMOSI CERITA AUTHOR LAINNYA TERBARU BERJUDUL "SOULLESS DOLL" JANGAN LUPA UNTUK DIBACA DAN DIBERIKAN VOTE NYA
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
BISA CEK DI AKUN AUTHOR DAN KLIK JUDUL "SOULLESS DOLL", HARAP SUKA DAN BERIKAN SARAN YANG BAGUS DAN SOPAN, TERIMAKASIH 🤍🤍