Tara adalah perempuan bebas. Bebas tidur sembarangan, bangun siang, belanja sekehendak hati, makan junk food, nyetir kemana aja dia suka, dan yang pasti nggak ada orang ribet yang akan negur dia.
Nggak lagi-lagi akan dia ulangi hidup dalam kekangan...
Btw, di KK udah bab 40 ya gaes. Cuss yg mau versi ngebut baca.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
----
Yang memiliki sapu lidi melayang nggak cuma nenek sihir, Harry Potter dan kawan-kawannya. Kak Tiyapun punya.
Aku memutuskan duduk di sofa. Tangan bersidekap. Kaki kanan menyilang di atas kaki kiri. Gino ikut berlutut di belakang Bagas. Ya, gimana? Pangerannya berlutut, masa abdi dalemnya masih berdiri.
"Tiya udah!" gertak Mami. Kepala Mami pasti udah pening bukan main.
"Dia udah nginjak-injak kehormatan keluarga kita, Mi! Seenaknya aja nikahin adik gue, terus elo telantarin macem kulit kacang! Papi meninggal juga elo nggak datang kan?!" Tunjuk Kak Tiya lurus ke muka Bagas. "Cih! Kecelakaan! Sembuhnya 9 tahun? Monyet aja bisa langsung lompat ke pohon dia kecelakaan!"
Aku jadi mikir. Kecelakaan monyet palingan nabrak pohon karena meleng atau ngantuk waktu gelantungan. Lah ini, si Bagas? Iya juga ya? Kerdil amat nyalinya. Nikah lagi sama Bagas? No way! Kayak gini udah nggak masuk spek idaman saya, Mbake!
"Kan, Mami bilang ini salah paham. Kamu juga udah denger, kan, dari Bagas?"
"Maaf, Mi! Tiya nggak bisa jadi ibu peri kayak Mami. Tiya yang gantiin peran Papi setelah meninggal. Jagain Mami dan Tara. Tiya nahan dongkol lama banget! Kalau penjaga di rumah dia ngga kayak kerajaan aja, udah Tiya lempar batu tuh jendela biar kacanya pecah!!!"
Ngomong pecahnya Kak Tiya pakai mangap lebar banget. Mirip naga nyembur. Ibarat main game, ini semangat Kak Tiya ngalah-ngalahin Iyut kalau lagi mukul-mukulin si buaya pake palu gada di Timezone.
Bagaimana perasaanku?
Jujur, aku nggak menemukan cara mendamaikan Bagas dengan Kak Tiya sampai detik tadi menginjakkan kaki di rumah ini. Bagas sendiri yang mengumpankan diri. Aku bisa apa? Biarlah Kak Tiya memuaskan amarahnya selama ini. Kalau benci kelamaan, nanti anak dia mirip Bagas lagi. Kan, Mas Yogi yang bakal bingung. Jadi, nih, mumpung belum lahir, kuharap hati Kak Tiya lega dan melahirkan dengan aman sentosa tanpa dendam.
Kurasa, punggung Bagas masih kuat menerima pukulan sapu lidi yang nggak seberapa tebalnya itu. Kak Tiya mungkin memukulnya juga tak sekeras ketika memergoki maling. Dirinya hanya ingin melampiaskan marah terpendam. Kekecewaan mendalam. Bagas ini menantu kesayangan Kak Tiya dan Mami. Apalagi, Kak Tiya dulu rela dilangkahi menikah tanpa permintaan macam-macam ketika tahu jika calon suamiku adalah Bagas.
Aduh, semoga Gino dan Mbok Iyem nggak menuntut keluarga kami karena menyiksa pangerannya.
"Kamu kenapa diam aja? Ayo bantu Kakak, Ra!"
"Aku udah nampar waktu dia dirawat."
Bagas menoleh padaku. Aku berpaling membuang muka.
"Oh, bagus! Berarti aku tinggal nonjok aja ya ini?!" Kak Tiya merubah pandangan ke Bagas. "Bangun lo! Gue masih belum puas!"