"WAH... KEREN! Banyak makanan! Ada Dimsum... pasta... om, itu apa? Tante Brina, yang warna-warni itu apa? Permen, ya? Apa Es Krim? Aku mau makan semuanya!"
Bagi anak seusia Garda, aula hotel yang disulap dengan segala pernak-pernik bunga dan makanan berlimpah tak ubahnya sarana tempatnya mengeksplor rasa. Matanya berbinar-binar sejak kakinya pertama kali menginjak karpet hotel. Garda menarik-narik lengan pasangan muda yang berdiri di kedua sisinya. Tak sabar mencicipi rasa dari aroma manis, gurih dan menyegarkan yang merangsang nafsu makannya.
"Mama tidak pernah ajak aku ke pesta ulang tahun yang meriah kayak ini! Tante Brina keren, deh...! Aku jadi iri! Ulang tahun Ilham saja tidak sekeren ini!"
Wira sedikit terganggu oleh komentar dan fakta betapa antusias keponakannya. Mendehem, membungkukkan tubuh pada bocah di sampingnya. Bersikap layaknya pria dewasa yang sedang "kepanasan"-- apalagi kalau bukan mengompori pikiran Garda yang masih polos.
"Kau belum melihat resepsi cinta pertamanya."
"Apa di sana lebih keren?"
Mengedikkan bahu, Wira menjatuhkan bibir bawahnya dengan maksud mengejek. "Heh. Biasa aja. Spoiler alert, makanannya tidak enak."
"Tidak enak, tapi antri Es Buah sampai tiga kali."
"Demi siapa?"
Wira ingin menegaskan bahwa apapun yang ia lakukan di resepsinya Bastian hanya demi menyenangkan Zabrina. Bodoh amat mau dipelototi atau dirasani, pokoknya, apapun yang terjadi, semua Alpukat itu punya wanitaku!
Namun, bukannya mendapatkan pujian atas kerja keras teman prianya, Zabrina justru menyinggung persoalan lain. "Apa yang kau bicarakan dengan Mas Novan? Kalian membicarakanku, 'kan?"
"Ng... nggak. Ge-er amat, sih, Mbak."
Well, yah... Dari prespektif si wanita, pasti Wira tampak seperti mantan brengsek yang akan menggunjingkan keburukan Zabrina di depan senior yang dulu disukainya.
Adanya campur tangan yang tak diharapkan dari Zabrina membuat Wira kicep. Pun tak mengira wanita itu mendengarkan selagi ia mencekoki Garda dengan ujaran-ujaran kebencian terhadap pria yang membuatnya cemburu setengah mati.
"Anyway..." Wira, yang tertangkap basah memandangi pasangan kondangannya, bangkit seraya melengos. "Pesta ini tidak buruk juga, kecuali..."
Pandangan Wira lantas berlabuh pada panggung pelaminan yang menjadi destinasi dari antrian tamu yang mengular. Mengutuk dalam hati kala dihadapkan pada seraut wajah yang tidak pernah bisa dilupakannya.
Setelah Bastian, kini ia harus menghadiri pernikahan Bagas, mantan rekan satu klub basketnya yang tidak pernah suka padanya. Seriuslah, takdir apa ini? Kenapa urusan permantanan ini tidak ada habisnya, sih?!
Kalaupun ada yang beda, itu adalah statusnya dan Zabrina yang kini adalah pasangan sungguhan. Yah, setidaknya sampai sebelum mereka tiba di basement hotel. Karena, jika tidak segera mengambil sikap, pangkatnya bisa turun lagi jadi "Agen Kondangan" seperti saat pertama kali mereka bertemu setelah sekian lama.
Selagi Wira bergulat dengan sisi anak-anak dalam dirinya dengan segala emosinya, Garda menarik-narik lengan jasnya dengan tak sabar.
"Om! Om! Aku boleh makan apa saja di sini, 'kan? Janji, ya? Pokoknya aku mau makan Es Krim, ya!"
"Iya, sayang," Wira berkata, sambil mengusap kepala keponakannya. Lalu membisik, "mumpung mamamu tidak ada. Kamu boleh makan apa saja yang ada di sini. Om yang traktir."
"YES! Aku mau ambil Dimsum dulu, ya, Om!"
"Dimsum kelihatan enak. Tapi pertama-tama, Kambing Guling!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Salah Order
RomanceDemi menghadiri resepsi pernikahan sahabatnya, Zabrina menyewa seorang agen dari aplikasi online. Alih-alih mendapatkan pria sesuai kriteria yang diinginkan, ia justru dikejutkan oleh kedatangan Wira, mantan kekasihnya yang merupakan bos dari perusa...
