Aku mengenangmu... menulismu... menggambarkan dirimu... secantik, seabsurd dan selebay mungkin, sehingga kamu mengira aku sedang merencanakan balas dendam terindah.
.
.
.
Dinding yang tinggi, ditambah dominasi warna hitam pada pagar dan atapnya membuat Kediaman Seta tampak seperti penjara. Sebaliknya, keberadaan Pohon Sawo, pun ranting Alamanda dan Bougenville Merah Jambu yang menjuntai manis bak air terjun yang jatuh dari balkon lantai 2, memberikan kesan hangat nan sejuk pada bangunan yang berusia hampir 3 dekade tersebut.
Tidak banyak yang berubah, pikir Zabrina. Menarik bibir, pandangannya beralih dari bangunan rumah di ujung gang kepada sosok wanita berusia lima puluh tahunan.
"Brina sayang!" teriak Tante Shanti, membuka pagar lalu berlari tergopoh-gopoh menghampirinya. "Kemari, anakku. Kemarilah, sayang."
Sudah lama sekali sejak Zabrina berbincang dengan ibunya Wira dan harus diakui, ia senang bisa mendengar suara lembut bak malaikat itu lagi. Mengusap sepetik air di ekor mata, Zabrina kemudian mencium punggung tangan calon mertuanya.
"Apa kabar, Tan--"
"Haduh! Brina ngomong apa, sih? Brina 'kan Mama anggap seperti anak Mama sendiri! Jadi, artinya... Mama ini Mamanya Brina juga! Iya, 'kan?"
Zabrina menyerngir kuda. Mengangguk malu-malu. "Iya..."
Ungkapan "usia hanyalah angka" sepertinya berlaku untuk Tante Shanti. Energi yang membara dan gaya centil yang khas masih melekat pada sang wanita, meski rambutnya kini dipenuhi uban. Tanpa tedeng aling-aling, Tante Shanti melingkarkan kedua tangannya pada tubuh Zabrina dan berbisik,
"Mama senang sekali waktu Wira bilang kalian akhirnya balikan! Dari dulu, Mama yakin kalau hanya Brinalah yang paling cocok mendampingi Wira. Apalagi, Brina juga tahu, 'kan, kalau Wira itu petakilan dan susah diatur?"
"Ma..."
Tante Shanti menjulurkan lidah pada putranya yang berdiri di belakang Zabrina dan tertawa. Melonggarkan pelukan, dengan mata berkaca-kaca memandangi dara muda di hadapannya. Masih menyungging senyum, ia mengelus-elus lembut lengan Zabrina.
"Pokoknya... mulai sekarang, Mama titip Wira, ya. Anak kesayangan Tante satu-satunya itu! Walau kadang bisa sangat menyebalkan... tapi tolong dijaga betul-betul. Sejak papanya tidak ada, anak itu jadi sedikit lebih pendiam."
Wajah Wira merah padam kala tak sengaja bertukar pandang dengan Zabrina. Menendang-nendang kerikil, lantas memutar tubuhnya kikuk. Dan sebelum pembicaraan melantur kemana-mana, ia mendorong dua wanita di depannya untuk masuk.
Sebelas dua belas tampak luar, adanya taman indoor, pun lantai mezzanine membuat bagian dalam hunian Kediaman Seta begitu asri dan enak dipandang. Gemericik air kolam terdengar dari ruang keluarga yang luas begitu pintu depan dibuka. Dulu, tiap kali main ke sini, Zabrina selalu menyempatkan diri untuk memberi makan Ikan Koi. Ia juga amat menyukai suasana dan aroma di dalam sini-- rasanya seperti berjalan-jalan tanpa alas kaki selepas hujan.
"Maaf ya, rumahnya berantakan," kata Tante Shanti saat Zabrina memerhatikan sisi taman dimana gundukan pasir, karung semen dan sekop diletakkan. Sebagai informasi tambahan, beberapa kamar di lantai mezzanine kini sedang dijebol untuk dibuat ruangan baru yang lebih lega.
"Renovasinya makan waktu sedikit lebih lama. Wira, sih! Seandainya dia bilang jauh-jauh hari... aduh, pokoknya Mama senang sekali kalian bersama!" Sambil menepuk pundak Zabrina, wanita bersanggul dengan make up serba cetar itu berseru senang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Salah Order
RomanceDemi menghadiri resepsi pernikahan sahabatnya, Zabrina menyewa seorang agen dari aplikasi online. Alih-alih mendapatkan pria sesuai kriteria yang diinginkan, ia justru dikejutkan oleh kedatangan Wira, mantan kekasihnya yang merupakan bos dari perusa...
