ketika dokter magang menyelamatkan tentara yang bersimbah darah di unit gawat darurat, betapa terkejutnya melihat wajah lelaki tampan terbujur kaku di bangsal adalah seseorang yang ia kagumi sewaktu masa Sekolah
Apakah cinta lama dokter cantik ini t...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Misi terakhir 01-03-24
Ahlia menyibak selimut pada tubuh polosnya. ingatan seketika berputar-putar dikepala mengingat performa pertama Zein yang membuatnya panas dingin semalam. dengan terburu menapakkan kakinya namun tiba-tiba rasa nyeri berdenyut diantara kedua pangkal paha sampai membuatnya jatuh terduduk ke lantai.
"Kenapa?" Zein terbangun dengan raut khawatir dia segera meraih tubuh Ahlia naik kembali ke atas ranjang.
" Yakin cuma pegel, sini saya lihat, Sampai jatuh gitu" delik Zein menarik paha Ahlia agar terbuka lebar namun sigap sang empu mundur menjauh menutupi tubuhnya kembali dengan selimut.
"Mas! jangan diperjelas, ngilu dikit doang lagian Mas semalem aktif banget" cibir Ahlia bersamaan semburan merona diwajahnya.
Zein menyipitkan matanya menatap Ahlia lalu menyibak selimut berbalut didada bidangnya terlihat buah karya abstrak berwarna merah menandakan betapa panasnya percintaan mereka.
"Sudah jelas kan bukan cuma saya saja yang antusias semalam" sambung Zein
Ahlia membulatkan mata melihat tanda merah tersebar di dada yang Zein pamerkan, gadis sepolos ini kenapa bisa membuat tanda yang begitu ganas.
"oke fine, kita sama-sama aktif tapi ga adil dong cuma aku yang kesakitan" delik Ahlia.
"kita berbeda Ahlia saya sering latihan fisik sementara kamu tidak, mungkin karena ini pertama kali dan kita berdua juga terlalu bersemangat. deketan sini biar sakitnya Hilang" ucap Zein merangkak mendekat kearahnya.
"Mau ngapain, ga ada yang namanya part dua Zein gila ini Masih pagi"
Zein tersenyum gemas menarik pinggang Ahlia memberikan pijatan halus disana berharap meredakan rasa pegal istrinya, Ahlia yang nyaman menyadarkan punggungnya tepat di dada Zein merasakan hembusan nafas hangat sang empu menerpa ceruk lehernya.
"udah enakan belum, nanti mandinya pakai air hangat supaya otot kamu rileks" ucap Zein. pijatan itu lama kelamaan turun ke bawah pinggang, ritme yang tadi halus kini bertempo sedang membuat Ahlia memejamkan matanya entah apa yang ia pikirkan setiap sentuhan Zein selalu membuatnya terbuai.
"Ahlia"
"ehmmh" gumaman tipis dari Ahlia membuat Zein menghentikan aktivitasnya.
"nakal, kamu mancing saya?"
"Mas mandi duluan sana, aku mandinya berendam lama, nanti Mas bisa telat kerja" ujar Ahlia mendorong tubuh Zein mengalihkan suasana.
Ketika Zein mengambil aba-aba bangkit ia menoleh kembali "bareng aja mau ya" entah itu pertanyaan atau pernyataan ia langsung meraih tubuh Ahlia hingga sang empu memekik histeris dalam gendongan bagaimana tidak tubuhnya kini tanpa sehelai benang melayang di udara pergesekan antar kulit sangat tajam ia rasakan.