40.Ending

4.5K 109 3
                                        


sebelumnya mengingtkan untuk vote terakhir.

Happy reading
misi terakhir

"Nyonya greya dan putri nya tampak akrab"

"Ya, aku dengar hubungan dia dan putrinya membaik setelah mantan suaminya meninggal" desas desus kursi di samping podium dapat mereka rasakan, hanya helaan nafas menjadi balasan.

Siaran langsung dimulai. Kamera-kamera televisi nasional menyorot podium dengan latar belakang bendera partai. greya berdiri di tengah sorotan itu, mengenakan blezer merah muda, wajahnyaTegas. Tapi sorot matanya lelah, seolah menanggung beban berat yang tak terucapkan.

Dengan suara yang kuat namun bergetar, Greya membuka konferensi persnya. "Saya ingin mengumumkan..bahwa saya mengundurkan diri dari jabatan saya sebagai ketua partai," katanya.

"Keputusan ini bukanlah hal yang mudah, tapi kesehatan saya-baik fisik maupun mental-mengharuskan saya untuk fokus pada pemulihan. Saya telah berjuang melawan penyakit ganas selama beberapa bulan terakhir, dan demi kebaikan partai serta keluarga saya, saatnya untuk mundur dan memberi ruang bagi pemimpin baru."

Para awak media terdiam sejenak, kemudian bergejolak dengan pertanyaan yang memenuhi ruangan. Namun Greya tetap tenang, meski di balik ketenangan. ada rasa takut yang tersembunyi.

sekumpulan mata elang lebih tajam menyorot daripada kamera, orang-orang berjas Hitam seolah melucuti greya dengan tatapan mereka.

"Ini lebih dari sekadar konferensi pers. Ini adalah pertarungan hidup dan mati, dan aku tak akan mundur." batin greya.

bagaimana tidak, semuanya hancur dalam sekejap.. segala rencana, orang-orang ber jas hitam kehilangan boneka mereka.

Ahlia melihat ibunya gelisah segera melambaikan tangan, ia memberikan gerakan tenang supaya greya segera turun dan menghindari pertanyaan yang menyerbu. Ahlia sigap pasang badan merangkul sang ibu keluar dari kerumunan. matanya mencari kemana semua pengawal sang ibu, namun ia susah sekali mengenali karna hampir semua pengawal disini berpakaian sama.

Di antara kerumunan itu, satu sosok berdiri tegak dengan wajah tanpa ekspresi, matanya menempel pada Greya seperti menunggu saat yang tepat untuk menghancurkan. Greya tahu, tekanan yang ia berikan menggulingkan semuanya.

"Ahlia, cepet pergi dari sini jangan pikirkan ibu, kita sedang di intai" bisik greya, menarik Ahlia pada dekapannya.

belum sempat ia menafsirkan kalimat sang ibu, suara tembakan memecah kerumunan suasana di ruang konferensi pers berubah drastis. Tiba-tiba lampu ruangan padam, suara alarm mendengung keras memenuhi gedung, dan para awak media serta tamu panik berhamburan mencari jalan keluar.

"Kondisi darurat! Semua tenang dan ikuti petunjuk evakuasi!" suara pengumuman dari ruang kontrol.

Satu tembakan sebagai peringatan atas ketidaksetujuan, Bukan sekadar ancaman. Tapi penegasan. Bukan untuk membunuh. tapi untuk membekukan seluruh ruangan.

Bahwa pengunduran diri Greya tidak disetujui.

"Ibu, apa yang terjadi kenapa bisa ada tembakan?" tanya Ahlia cemas.

"tak ada waktu untuk bertanya Nak, larilah ke mobil sekarang!" jawab greya tegas ia menarik tubuh anaknya menjauh, beberapa anak buahnya melingkari mereka berdua perlahan membuka jalan.

...

Ponsel Zein menyala, semacam notifikasi darurat tim pengawalan, hari ini Zein benar-benar lelah ia berusaha tak peduli, Zein merasakan sesuatu aneh dia benar-benar kehilangan rasa tenang setelah pagi ini Apakah Ahlia begitu menginginkan perpisahan? setidaknya karena posisinya Zein lebih untungkan prosedur perceraian abdi negara begitu rumit segala berkas pengadilan dan semua itu belum bisa Ahlia jalani tanpa surat izin dari atasannya

Misi TerakhirCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang