ketika dokter magang menyelamatkan tentara yang bersimbah darah di unit gawat darurat, betapa terkejutnya melihat wajah lelaki tampan terbujur kaku di bangsal adalah seseorang yang ia kagumi sewaktu masa Sekolah
Apakah cinta lama dokter cantik ini t...
Manusia selalu memelihara dan memberi makan ego mereka, seolah tak mereka sadar jika sedikit waktu yang mereka punya.
misi terakhir 13-03-24
Vote dan coment agar aku bisa merasakan kehadiran kalian
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
di koridor rumah sakit Zein duduk termenung, memikirkan tindakan kasarnya terhadap istrinya. berulang kali ia merutuki dirinya yang bernaluri binatang, seperti maniak sex yang menjijikkan.
"nona grace Ahlia" panggil suster, membuat tubuh Zein beranjak mengambil sekantung obat resep dokter.
Zein membuka pelan pintu ruangan menampakan istrinya tengah berbaring memunggunginya. ia melirik semangkuk bubur di nakas ternyata benar Ahlia belum menyentuhnya sama sekali.
"kenapa ga dimakan?"
Ahlia menjawab ketus tanpa berbalik badan "kenapa harus peduli"
Zein menarik nafasnya dalam mencoba tetap tenang dia tak ingin jika terpancing emosi saat ini. "Ahlia, kamu harus minum obat mangkanya saya suruh makan tadi, jangan lupa kamu lagi mengandung"
"ohh, karena aku lagi hamil anak kamu, mangkanya peduli"
"Asstagfirullah, saya benar-benar tidak mengerti jalan pikiran kamu". sungguh Zein dibuat frustasi oleh istrinya
Melihat Ahlia yang beranjak duduk, sigap Zein membenarkan bantal sebagai sandaran punggung istrinya, Ahlia menatap nanar dan meraih cepat bubur yang disodorkan tak membiarkan Zein menyuapinya, sungguh ia benar-benar tak nafsu makan mencium aromanya saja sudah membuat perut kosongnya ingin keluar. namun ia harus melahapnya, sistem imun nya akan menurun drastis jika tidak dipaksakan makan.
setengah bubur sudah berhasil dia habiskan, dan tiba-tiba perasaan yang ia takutkan pun terjadi.
"huek!"
Matanya membulat ketika selimut dihadapanya banjir cairan, Zein yang mengambil posisi didepan Ahlia pun terkena cipratan pada kemejanya. dengan sigap Zein menggulung selimut itu dan menjauhkan dari jangkauan. jemarinya telaten meraih tisu dan mengelap bekas cairan yang tersisa di telapak tangan dan bibir Ahlia.
"Masih mual? gapapa, muntahin sini aja" ucap Zein lembut menatap mata istrinya yang berair. Ahlia menggeleng ia merasa bersalah tiba-tiba muntah seperti ini bahkan Zein tak menghiraukan kemejanya yang kotor, tatapanya hanya berpusat pada Ahlia.
"Maaf Mas, ga sengaja"
Zein menggeleng tersenyum teduh "jangan ngerepotin Mama kamu Nak, kasihan mama kamu" ucap Zein sembari mengusap lembut perut rata istrinya dengan minyak kayu putih, membuat Ahlia tak bisa menahan air matanya entah kenapa dia mudah sekali menangis.