38. keadaan diluar kendali

2.8K 127 7
                                        

2905 kata for you

misi terkahir 08-04

Zein begitu merindukan sentuhan istrinya, beberapa hari ini Ahlia terfokus merawat sang ibu, Zein bersyukur berapa waktu ini hubungan ibu dan anak itu perlahan membaik namun dengan tidak adanya keberadaan Ahlia disisinya, serasa hampa menyelimuti ...

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Zein begitu merindukan sentuhan istrinya, beberapa hari ini Ahlia terfokus merawat sang ibu, Zein bersyukur berapa waktu ini hubungan ibu dan anak itu perlahan membaik namun dengan
tidak adanya keberadaan Ahlia disisinya, serasa hampa menyelimuti seolah memberikan tamparan pada diri Zein yang suka meninggalkan Ahlia karena tuntutan pekerjaan.

terdengar suara decitan pintu, insting Zein begitu kuat aroma tubuh istrinya begitu menyeruak membuatnya bangkit segera turun ke lantai bawah.ditatapanya punggung sang empu yang tengah membuka kulkas, jika mengikuti kata otak rasanya ia ingin sekali memeluk Ahlia dari belakang dan melucuti seluruh pakaian istrinya itu sekarang, namun berusaha ia tahan, istrinya perlu istirahat saat ini.

Ahlia mengambil nafasnya dalam kepalanya begitu pening , kedua lenganya menumpu tubuhnya di pantry tak sadar jika sedari tadi diperhatikan oleh Zein.

"Kamu pusing? udah makan belum?" tanya Zein mendekat diri, lengannya sudah berjaga-jaga jika tubuh mungil istrinya itu limbung.

"belum Mas"

"ck.. jangan bilang dari pagi belum makan". decak Zein membalikan pelan tubuh Ahlia netra teduh menatap bibir pucat Ahlia, dengan tanpa beban Ahlia mengangguk lemah, bagaimana bisa Ahlia lupa jika bukan dirinya saja perlu asupan tapi bayi mereka.

"Stop ngunyah es batunya, makan dulu" tegur Zein sembari mengeluarkan makanan dari dalam kulkas dengan telaten Zein panaskan lalu ia sajikan dengan penuh cinta. bagian Zein berkutat didapur adalah favorite Ahlia, dia tak hentinya memperhatikan tiap gerakan sang suami.

"kenapa merhatiin saya begitu nanti naksir berat kamu". goda Zein ketika tatapan mereka bertemu

"Emang udah naksir berat dari dulu" guman Ahlia spontan berharap Zein tak menanggapi

"coba diulangi ngomong apa tadi"

Ahlia menatap jengah Zein "kayaknya lidah aku kepeleset tadi" balas Ahlia mengulum bibirnya lamat kala melihat tatapan kesal dari Zein.

tatapan Zein tak hentinya lepas dari setiap gigitan masuk ke mulut Ahlia, seolah tak ingin sang empu tersendak, segelas air putih sudah siap siaga ia gengam jika itu terjadi.

Melihat Ahlia yang tak henti menguyah tanpa jeda, Zein mengetuk-ngetuk cemas meja makan setahunya rendang bundanya begitu pedas, Zein lega ketika Ahlia berhasil menelan nasi tanpa tanda-tanda gejolak diperutnya.

"minum dulu nanti seret" ucap Zein menyodorkan segelas air

"atau saya potongin buah mau? ibu hamil harus banyak makan serat bukan" tawar Zein.

"cuci tangan bersih-bersih, abis itu tidur" ujar Zein ketika melihat suapan terkahir selesai.

Ahlia meletakan sendoknya spontan, nasi diperutnya saja belum turun ke lambung. "Mas.. aku bukan anak kecil, yang tahu waktunya laper, haus, mau makan buah itu aku, aku bisa sendiri Mas, jangan bilang karena aku hamil anak kamu mangkanya dari protektif naik level ke super protektif"

Misi TerakhirCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang