Sarapan pagi ini cukup mencekam dimana terlihat sekali aura negatif yang Canny keluar kan dengan terus menatap Ahyeon tajam. Asa yang sudah jengah akhirnya bersuara.
"Sudah dong baby, jangan terus menatap Kak Ahyeon seperti itu kasian Kak Ahyeon nya sayang."Asa memberi pengertian kepada anaknya.
"Tapi Yeyon udah habisin kue baby, Mami. Baby gak telima pokoknya."kesal Canny tanpa mengalihkan tatapannya dari Ahyeon.
"Memang nya ada apa sih ini? Sampai Canny semarah itu sama Ahyeon. Yeon, kamu buat salah apa sama bayi biduan kita?"tanya Ruka mengalihkan tatapannya pada Ahyeon yang duduk tepat di sebelahnya.
"Aku juga gak tau Kak, tiba-tiba Canny datang ke dapur lalu menuduh ku yang menghabiskan kue lava nya. Padahal aku cuma pegangin piring kosong aja yang baru aku keluarin dari kulkas."jawab Ahyeon polos.
"Du-du-du-dudu.. aku duluan ya guys? Bye!!"Pharita pergi dengan perasaan tidak berdosa nya.
Bersenandung ria tidak peduli saudaranya mengintrogasi Ahyeon, padahal dialah pelakunya.
"Kak mprit rada aneh pagi ini, tiba-tiba pergi gitu aja padahal makanan nya belum habis. Apa dia gak penasaran apa tentang kelanjutan kisah Chiyeon?"gumam Rami terus menatap punggung Pharita yang mulai menjauh.
"Memang nya Kak mprit itu lu gong? Yang suka kepo dan gak akan berhenti sebelum masalah nya tuntas?"julit Rora dengan tatapan mautnya.
"Gak gitu juga kali Ra, tapi rada aneh aja kak mprit hari ini."Rami masih merasa Pharita menyembunyikan sesuatu tapi ia tidak tau apa itu.
"Sudah, lanjutkan makan kalian lalu berangkat ke Sekolah."tegas Ruka.
"Baik, Kak."Rora Rami dan Ahyeon menjawab tak kalah tegasnya.
Dan mereka kembali menikmati sarapan tanpa adanya keributan lagi.
_
_
_
Ketika Matahari semakin naik, Asa menemani Canny berlatih Takwondo di dojang cabang Korea. Asa benar-benar kagum pada Canny karena baru 2 Minggu masuk putri nya sudah mendapatkan sabuk kuning.
"Putri ku keren sekali, tidak menyangka dia sudah berusia 3 tahun sekarang. Padahal.. rasanya baru kemarin aku merasakan tendangan nya di perut ku, tapi kini dia sudah bisa menendang orang lain."Asa teramat bangga pada Canny sampai tak sadar air matanya menetes.
"Mami~"Canny berlari kecil ketika sesi pemanasan selesai mereka di berikan jeda waktu untuk istirahat sebentar.
"Mami kok nangis? Katakan sama baby siapa yang udah buat Mami nangis seperti ini, bial baby smackdown olang nya."raut wajah Canny terlihat bringas seperti ingin menghajar siapapun ketika melihat ibunya menangis. tapi dengan segera Asa menenangkan nya.
"Baby tidak boleh kasar sama orang lain sayang. Ingat loh! Mami izinin baby belajar Takwondo bukan untuk kekerasan melainkan untuk menjaga diri. Lagi pula tidak ada siapapun yang membuat Mami nangis sayang, Mami cuma terharu saja lihat baby sudah besar sekarang."sangat dalam dan menyayat hati namun itu yang Asa rasakan saat ini.
"Belalti secala tidak langsung baby dong yang buat Mami nangis?"pertanyaan polos Canny membuat Asa tersenyum tipis lalu menarik Canny untuk duduk di pangkuan nya.
"Mami tidak bilang loh kalo baby yang buat Mami nangis. Mami cuma bilang kalo Mami merasa terharu karena baby sudah besar sekarang. Mami sangat tidak menyangka sekali bahwa Mami bisa membesar kan baby sampai detik ini, padahal.. Mami sempat ragu apakah Mami bisa menjaga baby dengan baik atau tidak jika Mami tetap mempertahankan baby di perut Mami."
