limapuluhlima

664 60 29
                                        

Adara mulai membuka matanya, merasakan sakit di wajahnya, tangan dan kakinya di ikat

"gue dimana..." ia tak tau ini dimana. tempatnya kumuh, pencahayaan minim, seram, seperti gedung tak terpakai

"udah bangun lo?"

suara itu terdengar dingin dan tajam, menggema di ruangan yang remang. 

dia mengerjap, matanya masih berat, tapi begitu melihat sosok di depannya, dadanya langsung menegang. "Vio?" ucapnya kaget, suaranya serak. 

Vio menyeringai. "Kenapa? Kaget?" tatapannya tajam, penuh amarah yang membara di balik matanya. 

dia mencoba bergerak, tapi pergelangan tangannya terasa berat—terikat. "Vio, tolong lepasin gue," suaranya memohon, hampir berbisik. 

Vio mendekat, wajahnya semakin jelas di bawah cahaya temaram. ada sesuatu di matanya—sesuatu yang gelap, sesuatu yang seharusnya ga ada di sana. "lepasin lo?" Vio terkekeh rendah. "ga mungkin."

"Kenapa? Kok lo jadi gini..." Napasnya memburu, kepalanya masih sedikit pusing, tapi rasa takut mulai merayap di dadanya. 

Vio diam sejenak, lalu menunduk, mendekatkan wajahnya, "gue ga sebaik yang lo kira, Adara. gue cuma mau bales dendam sama Dika dan Rasya lewat lo" ucap vio


"dan gue juga mau bales dendam ke Dika, karna keluarga nya udah hancurin keluarga gue, lewat lo juga" ucap Aksa

"vio? lo kenapa? kenapa lo mau bales dendam sama ka dika?" tanyanya dengan suara bergetar

"karna dia..." suaranya parau sebelum akhirnya melengking, "Kaka gue meninggal!!" dadanya naik turun, nafasnya tersengal "dan Abang lo itu, selalu ngehalangin gue!!" ucap vio dengan suara keras,

"Rasya ga tau gimana rasanya kehilangan, makanya gue kasih tau dia gimana rasanya kehilangan adek kesayangan nya" ucap vio tersenyum miring

"lo salah vio.." suaranya nyaris berbisik, "gue sama bang Rasya tau, gimana rasanya kehilangan. kita kehilangan orang tua kita" ucapnya dengan mata berkaca-kaca

matanya menatap Vio, penuh luka yang tak pernah benar-benar sembuh.

"tapi, setidaknya Rasya masih punya lo..." vio menggantung ucapannya "lo masih punya Rasya"

"sedangkan gue... ga ada" ucapnya lirih "gue sendirian Adara!!" bentak nya

Aksa menghampiri Adara "kira kira mulai dari mana dulu ya?" ucap Aska

"jangan..." pinta Adara

Adara menggigit bibirnya, mencoba menahan gemetar di seluruh tubuhnya. Nafasnya tersengal, jantungnya berdetak cepat seiring suara langkah kaki Aksa yang semakin mendekat. bau lembap dan anyir dari ruangan itu semakin menusuk hidungnya. ia berusaha menarik pergelangan tangannya, tapi ikatan itu terlalu kuat.

Aksa berjongkok di hadapannya, wajahnya hanya beberapa senti dari wajah Adara. tangannya yang dingin menyusuri pipi Adara yang lebam, lalu turun ke dagunya, mencengkeramnya dengan kuat. 

"Aksa... tolong," lirih Adara, suaranya bergetar. 

Aksa tertawa kecil, senyumannya bengis. "denger itu, Vio? dia minta tolong." 

Ini Kisah Dika Adara [DIRA] - endCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang