Adara duduk di meja belajar, buku-buku terbuka di depannya, tapi pikirannya melayang entah ke mana. miss Rina, guru home schooling-nya, sedang menjelaskan sesuatu, tapi rasanya suara itu hanya terdengar sebagai gumaman di telinganya.
dia merindukan kebebasan. merindukan hari-hari ketika dia bisa tertawa lepas, pergi ke sekolah, bercanda dengan teman-temannya. tapi sekarang, semuanya terasa begitu terbatas.
dada Adara tiba-tiba terasa berat. nafasnya mulai pendek-pendek, dan tanpa sadar, tangannya mencengkeram ujung meja. dia mencoba menarik napas pelan, berharap rasa sesak ini segera hilang.
tapi rasanya malah makin sulit.
dia menggigit bibirnya, berusaha tetap terlihat biasa saja. ga boleh ada yang sadar, ga boleh panik.
“Adara?”
Suara Miss Rina membuatnya tersentak. Adara buru-buru mengangkat kepala dan memaksakan senyum. “iya, miss?”
Miss Rina mengernyit. “kamu baik baik aja?"
Adara buru-buru mengangguk, memaksakan senyum kecil. “iya, miss. aku cuma agak ngantuk.”
miss Rina masih menatapnya, jelas ga sepenuhnya percaya. “kamu yakin? muka kamu agak pucat, loh.”
Adara menggeleng cepat, mencoba terlihat santai. “beneran, miss. aku gapapa"
Miss Rina masih menatapnya ragu, tapi akhirnya hanya menghela napas. “baiklah, tapi kalau kamu butuh istirahat, bilang, ya.”
Adara mengangguk lagi, lalu kembali menunduk menatap bukunya. Padahal, fokusnya masih berantakan. nafasnya masih belum sepenuhnya stabil.
"Miss, aku izin ke kamar sebentar, ya"
"iyaa, jangan lama"
Adara pun beranjak dari kursinya, tangannya diam-diam meremas dadanya yang masih terasa sesak.
baru saja Adara kembali ke ruang belajar dan duduk di kursinya, nafasnya sudah mulai lebih teratur, meski dadanya masih terasa sedikit berat. dia menarik napas pelan, berusaha tetap tenang.
bel rumah tiba-tiba berbunyi. beberapa detik kemudian, suara langkah kaki terdengar di koridor. Rasya muncul dari balik pintu, menyelipkan tangan ke saku celana, senyum khasnya mengembang.
"miss, aku boleh duduk sini?" tanya Rasya santai.
miss Rina menoleh sekilas dan mengangguk. "Silahkan, tapi jangan ganggu Adara belajar, ya."
Rasya mengangguk polos, lalu duduk di sofa dekat jendela. tapi tatapannya beberapa kali melirik Adara yang terlihat lebih diam dari biasanya.
begitu Miss Rina akhirnya izin ke toilet, Rasya langsung bergerak mendekat. dia bersandar ke meja, menundukkan tubuhnya sedikit mendekati Adara.
"dek, kamu mau jalan-jalan engga?" bisiknya pelan.
Adara mengerjap, refleks menoleh ke arah Miss Rina dulu sebelum kembali menatap Rasya. "hah?"
Rasya menyeringai. “ya terserah, yang penting kamu keluar rumah.”
mata Adara langsung berbinar, antusiasme yang lama hilang kini muncul kembali. “serius? mau ke mana?”
Rasya hanya mengangkat bahu, ekspresinya tetap santai. "Pokoknya kabur bentar. udah lama kan, kamu ga ke mana-mana?"
Adara nyaris teriak kegirangan saking senangnya, tapi belum sempat dia membuka mulut, Rasya buru-buru menutupnya dengan tangannya.
"Ssst! jangan heboh," bisiknya tajam, matanya melirik ke arah pintu.
Adara mengangguk cepat, berusaha menahan tawa. Rasya akhirnya melepas tangannya, dan mereka saling pandang dengan senyum jahil.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ini Kisah Dika Adara [DIRA] - end
Jugendliteratur"lo sentuh dia artinya lo siap mati di tangan gua"ucap dika penuh penekanan - "kak pengin peluk"ucap Adara merentangkan tangannya - "I LOVE YOU ADARAAA"teriak dika memberi tau seluruh dunia bahwa ia sangat mencintai gadisnya penasaran dengan kisah m...
![Ini Kisah Dika Adara [DIRA] - end](https://img.wattpad.com/cover/376819827-64-k586054.jpg)