limapuluhsembilan

1.1K 69 26
                                        

jantung Adara berdegup semakin kencang. tangan yang memegang handphone-nya mulai gemetar, pikirannya penuh dengan dugaan yang bikin kepalanya berdenyut. 

jangan-jangan… Rey. 

pikirannya langsung berlari ke hari-hari di mana Rey selalu mengawasi setiap gerak-geriknya. larangan Rey yang makin lama makin mengekangnya. handphone-nya yang pernah diambil Rey dengan alasan “biar kamu ga kepikiran hal yang ga perlu.” 

Dika masih menatapnya dengan ekspresi cemas. "babe?" panggilnya, suaranya lebih pelan tapi penuh tekanan. 

Adara menggigit bibirnya, mencoba menenangkan diri. "aku… aku ga ngerti, kak. handphone aku keliatan normal, tapi kalau memang kamu nelfon aku dan nomornya ga aktif, itu…" ia menggeleng, otaknya mulai menyusun potongan-potongan yang sebelumnya terasa acak. 

Dika menatapnya lebih dalam, lalu tiba-tiba dia meraih handphone Adara dari tangannya. "boleh aku coba sesuatu?" 

Adara mengangguk. 

Dika buru-buru membuka kontaknya dan mengetik nomornya sendiri di ponsel Adara, lalu menekan tombol panggil. mereka sama-sama menunggu... namun, tak sampai satu detik, panggilannya langsung terputus. 

Adara mengernyit. "hah? kok mati sendiri?" 

Dika mengetuk layar HP Adara, memastikan panggilannya benar-benar gagal. dengan rahang mengeras, dia buru-buru merogoh sakunya dan mengeluarkan ponsel-nya sendiri, lalu menatap layar, berharap ada panggilan masuk. tapi tidak ada apa-apa. 

lalu dia mencoba menelepon Adara dari ponsel-nya sendiri. sekali lagi, panggilannya langsung mati—tanpa nada sambung, tanpa suara operator, seolah-olah nomornya tidak pernah ada. 

"ra," suara Dika terdengar rendah, matanya menatap Adara bingung. "kayaknya nomor aku diblokir di handphone kamu."

Dika langsung mendongak, "lihat, Ra? aku ga bisa nelpon kamu." 

Adara mengerjap, perasaannya semakin tidak karuan. "tapi… kok bisa? Aku masih bisa akses internet, masih bisa buka aplikasi..." 

Dika mengetuk dagunya, berpikir keras. "Coba cek pengaturan handphone kamu." 

Adara membuka pengaturan panggilan dan kontak. saat dia menggulir layar, tiba-tiba matanya membesar. 

ada daftar nomor yang diblokir—dan di sana, tertera nomor Dika, Gibran, Naura, bahkan beberapa temannya yang lain. semua orang yang selama ini dia coba hubungi… semuanya ada di daftar blokir. 

jantungnya seakan berhenti berdetak. 

"kak…" suaranya tercekat. dia menoleh ke Dika dengan mata yang membulat ketakutan. 

Dika ikut melihat layar ponselnya, lalu rahangnya semakin mengeras. "Rey." 

Dika mengepalkan tangannya. "dia beneran ngebatasi kamu, Ra." 

tepat saat itu juga, suara langkah cepat terdengar mendekat di atas rerumputan. 

"ADARA!" 

Adara terlonjak, begitu juga dengan Dika. Rey berdiri tak jauh dari mereka, matanya menyala penuh kemarahan. 

"lo ikut gue sekarang!" suaranya tegas, tidak bisa dibantah. 

"sialan! harusnya gue ga usah bilang dia bisa cek kapan aja!" batin Rasya cemas

jantung Adara langsung berdegup kencang. Rasya yang berdiri di dekatnya refleks maju, sementara Dika langsung memasang badan, berdiri di antara Rey dan Adara. 

"Rey, jangan kayak gini—" 

tapi Rey sudah berjalan cepat, langsung menarik tangan Adara dengan kasar. 

Ini Kisah Dika Adara [DIRA] - endCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang