limapuluhdua

556 59 16
                                        

"kamu yakin akan memberikan anakmu setelah lahir?" tanya Laras

"iyaa, saya yakin"

laras tersenyum miring "tanda tangan ini!" ucapnya memberikan satu lembar kertas berisi surat perjanjian

"apa ini? untuk apa?"

"Ini untuk jaga-jaga, supaya semuanya jelas dan tidak ada yang berubah di kemudian hari," jawab Laras tegas.

Aku menatap lembaran kertas itu. Tulisan hitamnya terasa lebih berat dari sekadar tinta di atas kertas. Tanganku sedikit gemetar saat mengambilnya.

"Kau benar-benar ingin aku menandatanganinya sekarang?" tanyaku, masih berusaha memahami perasaanku sendiri.

Laras mengangguk. "Kalau memang yakin, tanda tangani sekarang. Setelah bayi itu lahir, dia akan langsung aku bawa."

Aku menghela napas panjang, menatap perutku yang mulai membesar. Selama ini, aku pikir keputusan ini sudah bulat, tapi kenapa sekarang rasanya begitu sulit?

Aku menelan ludah, menggenggam pena yang disodorkan Laras. perlahan ia menandatangani surat itu

"bagus! telfon aku saat anak itu akan lahir"

hari dimana bayi itu lahir telah tiba

Laras mengambil bayi itu dan menggendongnya "semua biaya persalinan kamu sudah lunas terbayar, dan sekarang bayi ini sudah menjadi anakku"

"izinkan aku bersamanya, sebentar saja.." pintanya

"ga bisa! di surat perjanjian itu dia sudah sah menjadi anakku"

"apa aku boleh melihat tumbuh kembang nya? aku bisa jadi art, Bu Laras tidak usah membayar saya tidak apa-apa"

"kamu gila? yang ada suatu saat nanti dia akan tau kalau kamu ibunya, dan rencana saya berantakan!"

"tapi--"

"ini sudah kesepakatan kita dari awal, kamu jangan mempersulit nya" ucap Laras lalu pergi sambil membawa bayi itu, yang sekarang yaitu Dika dirgantara Sanjaya

1 bulan berlalu

"Safira, dimana anak kita?" tanya baskara

"ga ada"

"apa maksud kamu?"

Safira tertawa getir, tak habis pikir dengan baskara "setelah satu bulan, kamu baru datang? dimana kamu saat aku sedang mempertaruhkan nyawa untuk melahirkan bayi kita, kamu dimana?!"

"maaf" hanya itu yang keluar dari mulut baskara

"kamu bilang maaf? apakah maaf bisa mengembalikan anak kita kembali?"

"kamu bilang dia lahir sehat, lantas dimana dia sekarang? aku ingin bertemu"

"aku juga ingin bertemu, mas! tapi, aku sudah memberikan nya ke orang lain!" ucap Safira sambil teriak

baskara terkejut "apa? kamu gila? kamu memberikan anak kita ke orang lain?!"

"terus aku harus bagaimana? aku ga punya apa apa, aku cuma wanita miskin, aku ga bisa merawat dia sendiri, aku tidak mau anak aku menderita gara gara aku!" ucapnya sambil menangis histeris

Ini Kisah Dika Adara [DIRA] - endCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang