limapuluhtujuh

606 55 31
                                        

hari ini, Dika memutuskan untuk menyusul Adara ke bandung. hatinya tak tenang terus memikirkan Adara, apalagi terakhir ia melihatnya kondisinya belum sepenuhnya pulih. bayangan wajah pucat Adara dengan napas lemah masih terpatri jelas di pikirannya.

begitu sampai di rumah sakit, Dika langsung masuk tanpa pikir panjang. ia tau rumah sakit tempat Adara di rawat ini dari arka. tangannya gemetar saat bertanya ke perawat tentang kamar Adara, benar saja Adara disini. setelah mendapatkan jawabannya, dia berjalan cepat melewati lorong-lorong rumah sakit yang terasa begitu sunyi.

Saat akhirnya sampai di depan kamar Adara, Dika menarik napas dalam, mencoba menenangkan debaran jantungnya. dengan hati-hati, dia membuka pintunya.

namun, baru saja ia melangkah masuk, suara dingin menghentikannya.

“ngapain lo di sini?”

Dika mendongak. Rey berdiri di dalam ruangan, tatapannya penuh amarah.

Rey mendorong Dika keluar

"gue mau ketemu sama Adara" ucap Dika tenang

"ga!" jawab Rey tegas "lo ga sadar, dengan datengnya lo kesini, lo malah ngundang musuh lo buat nyamperin Adara disini"

"gue kesini cuma mau liat Adara, Rey" ucap Dika, ia tetap tenang

Rey mendengus, tatapannya semakin tajam "pergi!"

"biarin gue liat Adara dulu, sebentar"

"pergi, Dika!"

"gue ga bisa ninggalin dia" suara Dika terdengar lebih dalam, lebih tegas

"lo egois!" Rey kembali mendorong Dika, kali ini lebih keras. Dika hampir kehilangan keseimbangannya, tapi dia tetap berdiri tegak "kalo lo sayang sama dia, seharunya lo ga Dateng kesini! lo lupa? lo penyebab semua ini, lo ga bisa jagain dia, lo sumber bahaya buat Adara!"

"gue tau gue gagal! gue cuma mau liat dia, gue janji sebentar"

"pergi!"

"gue liat dia dari luar, gapapa kok. yang penting gue bisa liat dia, Rey" ucap Dika memohon

"pergi, Dika!"

"ga bisa, gue harus ketemu Adara!" Dika mencoba menerobos masuk, namun dengan cepat Rey mendorong Dika dan...

BUGHH

Rey memukulnya, sampai sudut bibirnya mengeluarkan darah. ia meringis

"PERGI!!" bentak nya

"izinin gue liat Adara, sebentar aja" pintanya

"lo mau pergi sendiri, atau di seret?"

"gue mau Adara" kekeh dika

"SECURITY!!" tak lama 2 security langsung menghampirinya "usir orang ini, dia adalah sumber bahaya buat adek saya. pastikan orang ini jangan pernah dateng kesini lagi!"

Dika membulatkan matanya, ia mengeratkan giginya, rahangnya mengeras, matanya tajam menatap Rey

"lepasin!" ucap Dika saat dua security itu mencekal nya dan berusaha menariknya keluar

"pergi lo dari sini!"

"anjing! lepasin gue bangsat!!" umpat Dika, ia berontak

Dika meronta, tapi tubuhnya terlalu lemah untuk melawan dua security yang lebih besar dan kuat darinya. cengkraman mereka di lengannya terasa keras, membuatnya semakin frustrasi.

“Rey! gue cuma mau ketemu Adara! lo ga bisa gini!” suara Dika penuh emosi, matanya masih menatap tajam ke arah Rey yang berdiri dengan ekspresi dingin.

Ini Kisah Dika Adara [DIRA] - endTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang