11

159 14 0
                                        

oOo
.
.
.
.

Yamaha R15 miliknya mulai membelah jalanan renggang di malam hari, gas motornya dipacu kencang, jantungnya memburu, keringat membantuk dibalik helm full face yang ia kenakan.

Dia yang baru saja ingin pulang dari kerja part time nya dihubungi oleh sang tante. Mengabari bahwa Mamahnya kembali histeris. Bagai terserang petir di hari yang tenang Kelvin langsung bergegas untuk pulang.

Dia yang biasanya perlu 20 hingga 30 menit sampai rumah terpangkas menjadi 15 menit, begitu sampai di rumah dia melihat bahwa pintu rumah utama terbuka dan ada mobil omnya disana.

Kelvin segera masuk kedalam rumah dan menuju kamar Ibunya. Tak akan ada yang lebih menyakiti hatinya dibanding apa yang ia lihat sekarang, ibunya menangis keras di pelukan tantenya.

"Mah... " Panggilnya pelan. Kelvin terkejut tentu saja tapi dia tidak punya waktu, menenangkan ibunya adalah prioritas.

"Mah... Kelvin pulang" Dengan langkah pelan dia mendekat tangannya tergerak menggenggam tangan kurus sang ibu.

Farah, tante Kelvin menatap iba pada sang ponakan.

"Mamah kenapa lagi?" Tanyanya pelan menatap mata sang ibu, isakan ibunya masih terdengar, bulir-bulir air mata masih mengalir. Tangan itu masih senantiasa mengelus lembut pada punggung tangan sang ibu.

Bagai tersadar. Ibu Kelvin mulai menatap sang anak.

"Papah... Vin... " Pipi dalam ia gigit kuat-kuat kala mendengar suara lirih ibunya yang menyebutkan ayahnya. Bisa dipastikan ibunya kembali histeris karena teringat kenangan pahit tentang ayahnya.

"Ada Kelvin Mah. Mamah sama Kelvin aja ya" Ucapnya berusaha tegar.

"Mamah perlu... papah" Ingin rasanya pemuda awal 20an itu berteriak, mengatakan pada ibunya kalau ayahnya sudah tidak perduli pada mereka, meninggalkan mereka bersama wanita simpanannya.

"Sama Kelvin aja ya... Kelvin mohon... " Suaranya lirih memohon pada sang Ibu. Mendengar suara anaknya yang begitu lemah memohon, kesadaran ibunya mulai kembali, ingatannya tentang apa yang sudah terjadi mulai kembali, dia menatap Kelvin yang menenggelamkan wajah di pangkuannya, tangannya terulur untuk mengelus rambut legam anaknya itu.

"Maaf... " Kelvin mengangkat kepalanya dan menatap sang ibu. Dia menggeleng kecil, senyum manis terpatri di wajahnya mencoba menenangkan ibunya.

"Mamah sama Kelvin aja ya" Pintanya lagi, sang ibu mengangguk kecil membuat hati pemuda itu lega selega-leganya.

Dia membantu ibunya untuk kembali istirahat, menunggu sampai ibunya kembali ke alam mimpi baru kemudian dia keluar dari kamar.

Om dan tantenya duduk duduk di sofa ruang tamu menunggu Kelvin datang.

"Makasih om tante dan maaf karena selalu Kelvin repotin"

"Mamah mu itu kakaknya tante Vin, gak ngerepotin sama sekali" Balas Farah.

"Terimakasih" Ucap anak itu lagi. Om Danu menatap kearah Kelvin.

"Vin, mau dengerin saran om nggak?" Kelvin menatap lurus dan mendengarkan dengan serius.

"Saran apa om?"

Setelah menimbang, dia akhirnya memberitahu Kelvin tentang pemikirannya.

"Sebelumnya om minta maaf tapi om rasa ini hal yang tepat untuk dilakukan Vin"

"Om punya saran mamahmu di taruh di rumah sakit aja gimana? Masalah biaya om bisa bantu 80% nya" Kelvin tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.

"Maksud om? Mamah mau di taruh di RSJ?" anggukan ia terima sebagai jawaban.

Messed Up Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang