oOo
.
.
.
.
.
Keempatnya sudah duduk di meja dengan tenang. oh tidak juga, masih ada Rasya yang misuh-misuh karena matchanya di habiskan Saga.
Meninggalkan perang dingin itu Chiko memfokuskan diri pada Kelvin, sejauh ini dia belum pernah mengevaluasi koki baru itu, selain karena sibuk dia juga lebih mempercayakan penilaian karyawan pada Rasya.
"Bang Vin. Ada yang nggak nyaman gak selama beberapa minggu kerja disini?" Tanyanya. Kelvin menggeleng pelan.
"Gak ada Ko, nyaman semua, apalagi disini jam kerjanya fleksibel jadi lebih gampang buat gue" balasnya.
"Syukur deh kalo gitu. Tapi kata bang Rasya hari ini tadi lo gak fokus bang? Kalo masalah pribadi dan lo gak mau cerita gak papa, tapi kalo ngeganggu performa, yaa bikin gue concern juga" Kelvin terdiam atas kalimat yang di lontarkan Chiko. Setelah beberapa lama Kelvin hanya menampilkan senyum kecil.
"Gue gak papa kok, cuman lagi kebanyakan tugas aja" Chiko sedikit tak percaya tapi dia juga tidak bisa memaksa, akhirnya dia mengiyakan saja.
"Kalo ada apa-apa ngomong aja ya bang, selama bisa dibantu pasti di bantuin kok"
"Siap, thanks btw" Chiko mengangguk kecil
"Ouh iya btw, lo linjur ya bang? Lo semester 1 tapi seumuran bang Rasya sama bang Saga"
"Bukan linjur juga sih tapi pindah prodi. Asalnya pendidikan dokter jadi ke kesehatan masyarakat. Gue sekelas sama Zaidan di beberapa matkul. Waktu masuk semester 3 gue pindah jadinya ngulang" Kelvin memang tak pernah menyapa Zaidan secara langsung tapi terkadang dia melihat Chiko yang diantar oleh pemuda itu.
Chiko sedikit terkejut. Zaidan memang anak FK tapi dia tidak tau kalau Kelvin sekelas dengan tetangganya itu. Tapi namanya Zaidan jangankan teman sekelas, dia hari itu sudah makan atau belum saja kadang lupa.
"Gak pernah cerita dia. Btw lo gak pernah ketemu nih dua anomali di kampus bang? Kan satu univ" Mendengar bahwa yang dimaksud anomali itu adalah mereka berdua, Saga dan Rasya langsung menoleh.
"Heh gak semua yang satu univ itu kenal ye. Gue aja sama Rasya jarang ketemu" Ucap Saga
"Itumah guenya aja yang males ketemu ama lo" Jelas Rasya, membuat Saga kaget.
"Parah anjir wahh, gitu lo ama gue, sakit hati gue Sya. Jadi selama ini lo ngomong sibuk itu bohong tapi emang gak mau ketemu gue? Cukup tau gue Sya" Saga memegang dada kanannya seolah tertusuk sesuatu disana.
"Malu, ada anak FK. Jantung lo sebelah kiri" Saga memindah tangannya ke dada sebelah kiri lalu melanjutkan dramanya.
"Ya menurut lo aja gue yang tiap hari kekampus dress well minimal clean outfit ketemu lo yang kekampus kayak mau cod-an biawak" Lanjutnya.
"Kok bisa pertemanan kita lo ukur dari outfit Sya? Jadi kebersamaan kita selama ini gak ada harganya di mata lo" Rasya mendelik pada Saga yang semakin mendrama.
"Geli anying beneran" Hardik Rasya.
Kelvin terkekeh melihat hal itu sedang Chiko hanya bisa menghela nafas, sudah lelah dengan kerandoman kedua abangnya itu.
Dering telpon milik Kelvin berbunyi dengan lekas di angkat oleh pemuda itu, tantenya menelpon menanyakan keberadaan Kelvin dan menyuruhnya cepat pulang kalau sudah selesai.
Meski mereka sempat berdebat malam kemarin, Farah masih tetap ke rumah Kelvin untuk menjaga kakaknya. Kelvin pun tau saran itu bukan saran yang buruk, hal itu dipertimbangkan untuk kehidupan Kelvin sendiri, tapi melepas ibunya untuk di rawat di rumah sakit juga berat bagi Kelvin.
