13

198 13 0
                                        

oOo
.
.
.
.
.

Deru motor miliknya perlahan mati ketika kendaraan roda dua itu sudah terparkir rapi digarasi rumah. Mulutnya menguap lebar dan sesekali menggerakkan lehernya mencoba menghilangkan rasa pegal setelah aktifitas seharian. Langga melihat pergelangan tangannya yang terlingkar sebuah arloji bewarna hitam menunjukkan pukul 10 malam.

Lampu teras dan garasi menyala menandakan kalau orang tuanya sudah di rumah setelah beberapa hari pergi untuk perjalanan dinas. Dengan langkah pelan dia masuk kedalam rumah takut membangunkan kedua orang tuanya.

Tetapi begitu dia melewati ruang tamu, lampu diatas kepalanya tiba-tiba menyala, pendangan pemuda itu langsung menatap sekeliling dan melihat ayahnya berada di ambang pintu kamar.

"Udah balik pah?" Tanyanya.

"Darimana aja kamu?"

"Kampus, habis ngerjain laporan" Jawabnya jujur.

"Mana ada ngerjain laporan sampai jam 10 Langga? Begaul sama siapa kamu di luar?" Langga menarik nafasnya dalam.

"Kalo papah nggak percaya silahkan tanya sama temen-temen kampus Langga atau cek cctv kampus sekalian. Langga seharian ada kelas terus diem di sekre buat bikin laporan"

Wajahnya mengeras mendengar balasan dari sang anak. Langkahnya dibawa mendekat kearah Langga.

"Papah mau ngomong"

Tatapan pemuda itu lurus pada sang ayah, kepada mata yang selalu menuntut pada dirinya.

"Papah dapet laporan dari lapas. Kamu berantem sama Lingga" tidak ada keterkejutan dari Langga karena dia tau cepat atau lambat kedua orang tuanya pasti akan mengetahui tentang perkelahian itu.

"Iya" jawabnya tegas tanpa keraguan ataupun ketakutan sedikitpun.

"Kamu udah jarang ngunjungin Lingga sekali ketemu langsung berantem? sebenci itu kamu sama kakakmu Langga?" nada pria dewasa itu meninggi, menunjukkan kalau dia marah pada sosok anak keduanya.

Sedang Langga giginya menggeretak keras, menahan diri untuk tidak berteriak dan meluapkan rasa kesalnya. 

"Pah Langga bukan orang yang sembarangan nyerang, kalau Lingga nggak mulai duluan juga Langga gak bakal bales" belanya

"Jangan berkilah kamu dari dulu kamu memang nggak suka sama Lingga kan, kamu kenapa sih Langga dia kakakmu loh. Papah nggak ngerti sama kamu" Dahinya mengernyit, hatinya serasa dihantam dengan sebuah batu besar. Sebegitu tidak perdulinya kah papahnya pada dirinya. Apa beliau tidak merasa perlakuannya selama ini bagaimana terhadap dirinya. 

"Emang papah pernah nyoba ngertiin Langga? nyoba buat mahamin Langga? nggak kan? dari dulu papah sama mamah cuman merhatiin Lingga Lingga dan Lingga! Langga selalu usaha jadi yang terbaik, dari kecil Langga selalu ngalah, waktu sekolah Langga belajar mati-matian supaya papah sama mamah bangga. Tapi apa? nggak pernah dilihat. Tapi Lingga? bahkan sampai dia rusak kayak gitu aja masih papah belain. Papah pikir Langga nggak tau kalau Papah nyuap hakim buat  ngurangin hukuman Lingga? PAH! LINGGA TUH UDAH HANCUR! DIA NGOBAT!!" 

PLAK!!

Bukan kalimat maaf dan bersalah yang Langga dapat ketika dia menyuarakan isi hatinya tapi sebuah tamparan keras pada pipi pemuda itu. Nafasnya tercekat, rasa anyir darah terasa di mulutnya,  pandangannya mengarah ke arah lantai keramik rumahnya.

Dengan perlahan dia menatap ke arah yang ayah. Anggukan kecil ia berikan dan tanpa mengucap satu kata pun dia berbalik, matanya menatap kearah mamahnya yang terdiam ditempat terkejut dengan apa yang baru saja wanita itu lihat. Tapi Langga tidak berniat mengucap kata lagi. 

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Apr 29, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Messed Up Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang