oOo
.
.
.
.
Ketukan dari arah pintu membuat fokusnya buyar, dia yang tengah duduk diruang tamu sambil mengerjakan tugas menoleh kemudian berdiri, melangkah menuju pintu utama rumahnya.
Matanya mengerjap beberapa kali ketika melihat seorang tamu yang tak diundang dan semakin keheranan saat orang itu tanpa mengucap salah langsung masuk kedalam rumahnya. Dikedua tangannya terdapat kantong plastik besar yang entah isinya apa.
Sebenarnya bukan satu dua kali orang itu seperti ini tapi dia masihlah belum terbiasa.
"Minimal salam lo" ucap Zaidan
"Gue kristen" balas Chiko, ya orang tidak tau sopan santun yang masuk kedalam rumahnya adalah Chiko tetangga seberang rumahnya.
"Emang di kristen kagak ada salam?" protes Zaidan
"Shalom"
"Lo belom makan kan? Gue beli sushi nih" Lanjunya sambil mengeluarkan beberapa kotak dari kantong plastik itu.
"Sama gue juga beli frozen food nanti lo taro di kulkas aja" Lanjutnya. Zaidan yang bersiap membuka kotak sushinya terdiam
"Kenapa di taro disini. Taro di rumah lo lah" Chiko menggeleng
"Kalo di rumah gue yang ada pada expired soalnya gue jarang masak di rumah"
"Hidup kita lucu juga ya Ko kalo dipikir-pikir. Sama-sama anak orang kaya, sama-sama gak diperduliin, sama-sama sendiri dan berjuang buat mandiri" Tangan Chiko yang sibuk menata makanan terhenti, sebuah senyum kecil terpatri di wajahnya. Bukan lagi wajah muram atau marah yang ditampilkan, dia sudah lelah dengan emosi itu, sekarang dia hanya bisa menganggap lucu situasi hidup nya ini.
"Mana tetanggaan lagi, apes banget hahaha" Balas Chiko. Zaidan juga terkekeh kecil kala mendengar ucapan Chiko.
Setelah selesai dia mendudukan diri di sofa, membiarkan Zaidan membukakan kotak sushi miliknya.
"Remot mana remot?" Tanya Chiko
"Depan tv" Chiko kembali berdiri dan mengambil remot itu sambil menyalakan TV mencari tayangan yang akan menemani makan siang mereka.
"Hannibal mau?" Tawar Chiko
"Gue lempar lo ya" Chiko tertawa mendengar ancaman Zaidan. Dia hanya ingin menggoda pemuda yang lebih muda darinya itu, dia juga tidak sanggup kalau harus menonton tv series itu sambil makan
Setelah memilih tayangan yang lebih layak Chiko berjalan kembali menuju sofa. Zaidan sudah lebih dahulu memakan sushi miliknya.
Keduanya larut menikmati makanan dan menonton film dalam hening. Hingga sebuah deringan telpon memecah keheningan mereka.
Chiko bergegas mengambil handphonenya dan melihat bahwa Rasya menelpon.
"Ya bang?"
"...."
"Hah??!!"
".... "
"Gue otw sekarang"
Setelah mematikan handphonenya Chiko langsung mengambil tasnya.
"Kenapa?" Tanya Zaidan
"Anterin gue Dan, ke cafe" Melihat paniknya Chiko, tanpa bertanya Zaidan langsung berdiri merapikan makanannya yang belum selesai, pergi mengambil jaket dan juga kunci motornya. Keduanya melangkah keluar dari rumah dan bergegas pergi.
Di lain sisi
"Ow ow pelan-pelan napa sakit ini" Ringisnya
Rasya yang berdiri sambil melipat tangan memandang pada temannya yang sedang di obati itu.
Beruntung nya keadaan cafe memang sangat sepi saat Saga datang tadi, hanya ada Langga dan Arjuna. Jadi tidak ada yang bertanya ataupun memandang penasaran pada Saga yang datang dengan badan dan wajah penuh luka.
Dan untungnya lagi, Kelvin sang koki baru merupakan anak ilmu kesehatan jadi sedikit banyak dia tau cara merawat luka.
"Seneng banget lo ya nantang maut? Berantem sama siapa lagi lo?"
Saga yang sudah dimarahi Rasya hanya bisa diam sambil meringis sakit.
"Gak tau tiba-tiba aja diserang tengah jalan" Balas Saga
"Thanks Vin" Lanjutnya setelah Kelvin selesai mengobati luka pemuda itu. Kelvin mengangguk kecil sebagai jawaban.
"Gak mungkin lo diserang gitu aja Saga, apalagi ini masih siang" Kata-kata Rasya ada benarnya. Saga menghela nafas, membohongi Rasya tidak ada gunanya.
"Mereka temen lawan sparing gue kemaren" Ucap pemuda itu pelan. Rasya tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Dia tahu bahwa suatu saat kejadian seperti ini akan terjadi, apa yang Saga lakukan itu sangat berbahaya. Tapi kalau diminta untuk berhenti maka pemuda tan itu akan menolak dengan keras.
Menjadi petarung jalanan dan bahan taruhan orang-orang bajingan yang tak ada kerjaan. Sudah ia tempuh sejak bangku SMK, berjuang dalam diam untuk keluarganya yang baru ditinggal sang pemimpin.
"Untungnya waktu mereka mau matahin tangan sama kaki gue, gue masih bisa ngehindar" Lanjutnya membuat Rasya semakin murka
"Heh tolol itu bukan untung ya! Anj greget banget gue"
"Bang Saga!!!" Teriakan dari pintu masuk membuat yang lain menoleh dengan cepat.
Darisana Chiko berlari menuju Saga dengan cepat, memegang bahu yang lebih tua dan memutar-mutar badannya.
"Yatuhan bang Saga lo tuh kenapa sih, gak bisa diem banget sehari. Muka lo udah jelek tambah jelek ini"
"Ko, lo kalo mau ngajak berantem ngomong" Saga menatap kesal pada Chiko yang berdiri dihadapannya.
"Gue khawatir ini"
"Khawatir gak perlu ngehina ye"
Melihat keduanya berdebat membuat kepala Rasya pusing.
"Temen lo juga Sya?" Langga yang sedari tadi diam melihat situasi akhirnya bersuara.
"Yang punya cafe"
"What?? Yang punyanya masih kecil??" Kaget Langga. Ya, tidak salah juga kalau orang lain yang tak mengenal Chiko menganggap pemuda itu masih kecil. Chiko memang lebih tinggi dari Rasya tapi dengan badan kurus, putih dan wajah baby face sering disalah artikan kalau pemuda masih anak SMA atau bahkan SMP.
Mendengar dirinya dipanggil anak kecil Chiko berbalik dengan cepat dan menatap Langga.
"I don't know who u are, tapi gue bukan anak kecil, gini gini gue udah kuliah, dan sekaligus pemilik nih cafe" Ucap anak itu.
"Semester berapa emang?" Tanya Langga
"Satu, why?"
"Gue semester 5, yang baik dikit ama senior"
"Ouh tua. Emang masih jaman senioritas ya? "
"Anjir tengil banget"
Baru saja Chiko berdebat dengan Saga sekarang dia sudah adu mulut dengan Langga, membuat Rasya menghela nafasnya lelah.
"Udah udah heh!" Lerai pemuda itu. Mengehentikan Chiko yang sudah ingin membalas ucapan Langga.
Saga yang harusnya menjadi fokus utama malah terlupakan dan entah sejak kapan pemuda itu sudah santai sambil menyemil brownies bites yang ada di etalase toko.
Di sisi lain, Zaidan yang ikut datang bersama dengan Chiko malah terfokus pada Kelvin yang berdiri diam dengan menggunakan apron cafe ini. Dia tidak tau kalau teman sekelasnya itu bekerja di cafe milik sang tetangga.
.
.
.
.
oOo
Ada yang masih nungguin book ini gak sih? Hehehe
