7

270 23 0
                                        

oOo

.
.
.
.


"Kalian nggak mau balikin aja anak itu ke panti?" ucap seseorang didepan mereka

"Maksud mba apa?"

"Ya 'dia', nggak mau dibalikin ke panti? Toh disini nggak ada guna juga kan, yang ada cuman nambahin beban buat kalian" sepasang suami istri itu terkejut tak menyangka dengan ucapan mba mereka.

"Mba, tolong dijaga omongannya. Yang nggak guna itu siapa? Kami ngangkat Rasya itu buat jadi anak bukan jadi pembantu" Mba Rani mendengus tak suka.

"Mba, Rasya itu anak kami meskipun bukan anak kandung. Dia tanggung jawab kami" mendengar ucapan Fahri membuat Rani semakin kesal.

"Ya karena dia bukan anak kandung kalian, kalo nanti dia punya niat jahat atau mau ngambil harta kalian gimana? Dia orang asing"

"Mba! Maksud mba apa sih? Mba tau kan kami nggak bisa punya anak, kehadiran Rasya itu berpengaruh besar buat kami mba, dan semua tuduhan mba itu nggak berdasar sama sekali. Mba gak tau Rasya kayak gimana"

"Terserah kalian, kalo nanti kalian kenapa-napa gara-gara anak itu jangan minta tolong sama keluarga" setelahnya dia pergi dengan perasaan kesal.

Fahri dan Dian hanya bisa menghela nafas mereka, bukan rahasia lagi kalau keputusan mereka untuk mengadopsi anak tidaklah mendapat persetujuan dari kedua belah pihak keluarga, tapi mereka tetap memaksakannya dan mengangkat Rasya menjadi anak mereka ketika pemuda itu berusia 13 tahun. Sudah 7 tahun Rasya bersama mereka tapi tak sekalipun keluarga Fahri maupun Dian menerima dia.

Tanpa mereka tahu si anak yang menjadi bahan pembicaraan tengah berada dibalik dinding mendudukan dirinya dilantai, mendengarkan semua kata-kata yang terlontar dari tante pihak ayahnya. Rasya sadar diri kalau dia tidaklah diterima tapi dia selalu berusaha karena melihat kedua orang tuanya yang begitu baik, Rasya tak ingin mengecewakan orang yang sudah berjasa pada hidupnya.

"Heran aku mas sama keluargaku, keluargamu. Kenapa coba nggak bisa banget nerima Rasya, udah 7 tahun loh"

"Aku juga nggak ngerti, apa salahnya kita ngadopsi dia, rasanya aku semakin direndahkan sama mereka. Mereka tau kita nggak bisa punya anak"

"Mas.."

"Bahkan mereka pernah nyuruh aku nikah lagi, mau mereka apasih!" Dian melihat kilatan marah dimata suaminya, dia mengusap lengan sang suami berusaha menenangkan.

Tatkala mereka berbalik ingin kembali kekamar, dua-duanya terdiam ditempat ketika melihat Rasya yang berdiri diam dibelakang mereka.

Pemuda yang baru berusia 20 tahun itu mencoba tersenyum walaupun terlihat sangat getir.

"Sya..."

"Aku gak papa kok Pah, aku udah gede, aku udah bisa hidup sendiri sekarang"

Fahri mendekati anaknya dan memegang kedua bahu sang anak

"Sya, papah mohon jangan ngomong gitu. Kehadiran kamu buat papah sama mamah itu penting. Jangan dengerin omongan nenek atau om atau tante cukup dengerin omongan Papah sama Mamah" Dian mengangguk atas ucapan sang suami.

"Tapi aku bikin kalian dibenci sama keluarga Pah" Fahri menggeleng

"Mereka urusan Papah bukan kamu, bahkan kalau satu dunia menentang keberadaan kamu ditengah-tengah Papah sama Mamah sekalipun. Papah nggak bakal biarin kamu kemana-mana" Fahri memeluk sang anak dengan erat.

"Tolong jangan tinggalin Papah sama Mamah" Rasya menggenggam kaos hitam papahnya sembari menenggelamkan wajahnya dibahu papahnya. Dian mengelus lembut punggung anaknya itu.

Messed Up Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang