2

492 47 0
                                        


oOo

Langkahnya yang tengah menuruni tangga harus terhenti tatkala muncul getaran dari dalam saku celana. Itu adalah sebuah pesan dari salah satu anggota BEM kampusnya. Yang berisikan tentang rapat umum yang harus ia hadiri pada hari ini.

Kedua orang tuanya sudah duduk rapi dimeja makan ketika Langga sudah sampai di dapur, Langga menyusul dan mengambil tempat disalah satu kursi kosong yang ada disana. Bahkan sampai dia menyuapkan roti kedalam mulutnya pun Langga tak bisa lepas dari handphonenya yang lagi-lagi menampilkan pop up pesan.

"Langga fokus makan dulu" ucap pria dewasa yang duduk di kepala meja

"Maaf Pah" balas Langga, dia pun mensenyapkan handphonenya dan memasukan benda persegi itu kedalam kantung jaketnya.

"Hari ini Papah sama Mamah mau jenguk Lingga kamu ikut kan?" suapan Langga harus terhenti ketika mendengar nama itu.

"Maaf Mah Langga ada pertemuan BEM habis kelas" balasnya

"Bahkan buat jenguk abangmu saja kamu nggak punya waktu Langga?" sekarang Ayahnya yang bertanya.

"Maaf Pah, Langga harus penuhin tanggung jawab Langga. Papah sendiri kan yang ngajarin kalau harus selalu bertanggung jawab atas semua yang Langga pilih" balas Langga menatap kearah ayahnya. Setelahnya ayahnya terdiam dan tidak berbicara.

"Langga selesai, pamit dulu Pah Mah" Langga mendekati kedua orangtuanya dan mengamit tangan mereka untuk dicium.

Langga mengeluarkan motor maticnya dari garasi, pandangannya terkunci pada sebuah motor sport yang terparkir tepat disebelah motor miliknya. Itu adalah motor milik abangnya, motor Lingga.

Jujur saja setiap mendengar nama Lingga dia langsung merasa semangatnya jatuh, alasannya simple karena dimata orang tuanya hanyalah ada Lingga tanpa ada Langga bahkan sampai Lingga berbuat hal kelewat batas sekalipun Lingga tetap masih menjadi nomor satu bagi kedua orang tuanya.

.
.
oOo
.
.

3 sks mata kuliah dilewati Langga dengan baik, bahkan ketika dosennya memberikan kuis dadakan Langga bisa mengerjakannya dengan aman. Ia pergi menuju ruang BEM kampus yang tak jauh dari fakultasnya membuat ia tak harus menggunakan kendaraan untuk kesana.

Dia melihat beberapa sepatu sudah tersusun di rak depan ruangan. Sambil mengucapkan salam Langga masuk kedalam, anggota inti BEM sudah berkumpul ditambah dengan dirinya maka sudah lengkap formasi mereka. Kali ini merupakan rapat untuk membahas evaluasi proker mereka dalam 1 bulan setelah dilantik sebagai BEM tahun ini.

Langga mendengarkan satu-persatu laporan dari setiap ketua divisi, sejauh ini anggotanya mengerjakan tugas mereka dengan baik tanpa hambatan berarti.

"Okey, kalo gitu terusin aja kayak gini usahain buat tetap berjalan dengan stabil. Kalo ada apa-apa dan kalian agak kesusahan buat nanganin sendiri jangan ragu buat ngasih tau saya atau anggota inti lain. Kita ketemu lagi nanti" pandangan Langga mengarah pada Tania selaku sekertaris, gadis itupun mengangguk kecil.

Satu-persatu dari mereka keluar dari ruangan dan menyisakan 4 orang yang merupakan anggota inti BEM.

"Notulennya kirim ke gue ya Tan" pinta Langga

"Siap paketu" balas Tania yang mana mengundang senyum di wajah Langga.

"Makan dimana nih?" tanya Alex, sudah tidak jarang keempatnya makan bersama, bukannya tidak ingin berbaur dengan teman yang lainnya tapi kadang mereka itu makan sambil membahas urusan rapat jadinya yaa begitulah.

"Gue makan bareng cowok gue jadi nggak ikut" jawab Eva sang bendahara yang sudah mengenakan backpacknya.

"tch mentang-mentang punya pacar" Eva membalasnya dengan memeletkan lidah pada Alex dan mengibaskan rambut panjangnya sebelum keluar dari ruangan itu.

Mereka bertigapun keluar dari ruangan dan Langga bertugas mengunci pintu.

"Langga..."

Langkah mereka harus terhenti tatkala suara seseorang memanggil nama Langga, ketiganya berbalik dan mendapati wajah tak asing bagi mereka.

"Ehemm. Gue sama Tania duluan ya Lang" Alex dan Tania melarikan diri yang mana membuat Langga menghelas nafasnya, bukannya apa tadi dia cukup tak suka kalau hanya berduaan dengan gadis ini.

"Kenapa?" tanyanya, Langga berusaha bersikap biasa.

"Kamu mau makan siang kan? Aku ada tempat makan enak mau kesana?" tawarnya, ingin sekali Langga tertawa tapi dia hanya bisa mengehembuskan nafas kasarnya saja.

"Kenapa? Lo di cuekin lagi sama Juna? Atau lagi berantem? " balas tanya Langga, gadis itu menunduk sambil menggigit bibir bawahnya.

"Alya udah cukup. lo gak bisa selamanya gini, lo gak bisa waktu lo sama Juna berantem lo balik ke gue. Kemaren-kemaren gue masih baik karena gue kasian sama lo tapi udah nggak lagi Al. udah cukup, selesain urusan lo sendiri gak perlu ngelibatin gue" setelah mengatakan kalimat panjang itu Langga meninggalkan Alya seorang diri.

Alya adalah mantan Langga, mereka menjalin hubungan ketika semester dua hingga empat. Tapi Langga harus dikecewakan karena Alya selingkuh darinya, selingkuh dengan salah satu adik tingkat.

Tapi bagai tidak tau malu, Alya selalu mendatanginya ketika gadis itu bertengkar dengan kekasih barunya. Dan bagai orang bodoh Langga selalu menerima gadis itu, menemaninya ketika Alya sedih akibat perlakuan Arjuna kekasihnya.

Hingga ketika salah satu temannya mengatakan bahwa Langga begitu bodoh barulah dia sadar, Langgapun menyibukkan diri dengan organisasi sampai dia bisa mencapai posisi sekarang.

Karena sudah ditinggalkan oleh teman-temannya Langga memilih kembali ke fakultasnya, fakultas hukum. Dia akan makan di kantin saja. Langga menikmati makanannya sambil memerhatikan anak-anak kampusnya yang juga makan disana.

Dia yang tengah menunduk tak melihat ada seseorang mendekat. Tanpa bertanya orang itu menaruh piringnya di meja Langga membuat Langga menengadah. Pemuda itu kembali menghela nafas apakah dia tidak bisa diberikan waktu tenang. Langga mencoba tidak memperdulikan orang itu dan fokus dengan makanannya.

"Gue denger lo nolak Alya" ucap orang itu sambil memasukkan satu suapan kedalam mulutnya.

"Pacar lo bukan urusan gue" balas Langga. Ya itu adalah Juna selingkuhan Alya yang sekarang sudah menjadi kekasihnya.

Arjuna tertawa sarkas atas jawaban kakak tingkatnya.

"Gak usah gitu lah bang, gue tau lo masih suka sama dia. Ambil aja kalo mau" balas Arjuna.

Langga menjatuhkan sendoknya dengan kasar diatas piring.

"Gue sama Alya udah selesai. jadi dia udah nggak hubungan apa-apa sama gue" tanpa mendengar balasan dari Arjuna, Langga pergi menjauh dia tidak ingin orang-orang berpikiran macam-macam tentang dirinya.

Arjuna menatap Langga yang mulai menjauh, dia tidak ada masalah sebenarnya dengan Langga tapi yang dia permasalahkan adalah Alya sendiri. Dia ingin melihat seberapa bodoh Langga akan bertindak hanya demi gadis itu. Seberapa bodoh seorang pria akan bertindak demi gadis yang ia cintai.

Karena dia sangat mengenal seseorang yang sangat mirip dengan Alya dan pasangannya bertindak sangat bodoh demi orang itu, yang mana tidak akan pernah masuk di akal Arjuna.

oOo

Messed Up Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang