8

253 16 1
                                        

oOo

.

.

.

.

Langga menghela nafasnya panjang, dia tidak tau kalau hari ini dia akan berakhir disini. Kalau boleh jujur Langga sangat tidak ingin kesini, mengunjungi kakaknya yang sedang mendapat masa tahanan di salah satu lapas yang ada dikotanya.

Bolehkah dia mengatakan kalau dia malu memiliki kakak yang kelakuannya seperti Lingga?

Disaat dia bersusah payah belajar, ikut organisasi sana sini selama masa sekolah hingga ia kuliah agar membuat bangga orang tuanya. Kakaknya Lingga malah sibuk berbuat onar dan melakukan hal-hal diluar bayangan Langga.

Kalau saja dia hanya membolos atau melakukan kenakalan layaknya anak sekolah biasa mungkin Langga tidak terlalu pusing tapi Lingga benar-benar di luar kendali. Dari mulai balapan, rokok, minum hingga memakai narkoba yang mengakibatkan dirinya harus terperangkap di lapas, di usianya yang masih muda.

Langkahnya berat untuk dibawa kedalam gedung ini, orang tuanya meminta Langga untuk mengunjungi Lingga karena kakaknya itu memintanya.

Dia mendatangi salah satu petugas dibalik meja besar untuk menyambut para keluarga yang berkunjung sesuai jadwal yang diberikan dan minggu ini Langga lah yang kesini bukan kedua orang tuanya.

Setelah mengisi data diri dan hal yang diperlukan sebelum menemui Lingga, Langga diminta untuk menunggu sebentar sebelum kemudian di tuntun memasuki ruangan lain, ketika pintu ruangan dibuka dia dapat melihat kakaknya duduk di kursi, tangannya sibuk memainkan rubik dan sama sekali tidak melihat kearah Lingga.

Petugas yang mengantar Langga pamit diri meninggalkan kedua kakak beradik itu. Langga berjalan mendekat dan menarik kursi yang berseberangan dengan Lingga keduanya dibatasi oleh sebuah meja.

Hanya ada keheningan diantara keduanya, Langga yang memang sedari awal sudah malas dan Lingga yang lebih tertarik pada rubiknya. Kalau ada satu hal yang bisa Langga puji untuk Lingga adalah kemampuan anak itu dalam pelajaran matematika dan permainan rubik, Langga juga tidak kalau pintar hanya saja rubik bukanlah favorit dirinya.

Setelah rubik itu terselesaikan dalam beberapa menit barulah Lingga mengangkat kepalanya dan menatap sang adik. 

"Gimana kabar lo Lang?" 

"Baik"

"Ngapain lo minta gue kesini?" lanjutnya

Lingga bersandar pada punggung kursinya

"Emang gak boleh gue minta jenguk adek gue sendiri?" Langga terdiam

"Lo udah semester 5 kan?" Langga hanya berdeham sebagai jawaban

"Lo pasti enjoy hidup di luar kan? happy ketemu banyak orang bisa lakuin apapun yang lo mau"

"Maksud lo apa?" 

"yeah, you must be enjoyed being the only child in the family. sedangkan gue harus terjebak disini with bunch of loser"

"keberadaan lo disini itu hasil dari apa yang lo lakuin Lingga"

"iya dan karena lo ngelapor malam itu Langga!" Ingatan Langga kembali ke masa lalu dimana dia menemukan kakaknya teler bersama teman-temannya di gedung tua yang biasa dijadikan markas oleh Lingga dan teman-temannya.

"Gue ngelapor buat kebaikan lo Lingga, mau sampe kapan lo gitu? sampe mati?" 

Lingga dengan cepat berpindah keseberang dan mencengkram leher kemeja yang dikenakan Langga

Messed Up Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang