"Apa yang kau bicarakan Pharita? Ada apa dengan Rora sampai kau tega menampar kakak mu sendiri."emosi Ruka memuncak tak terima atas tamparan keras tadi.
"Ck, aku tidak akan seperti ini jika teman mu itu tidak berulah kak."Pharita ikut tersulut emosi juga.
"Memang apa yang Genta katakan sama kamu sampai kamu semarah ini sama Kakak, Pharita."
"Apalagi memang? teman busuk mu itu mendesak ku untuk menikah dengan nya atau nyawa Rora yang akan jadi taruhannya."
"Apa? Jadi maksud mu.. Genta.. tidak Pharita, Dia tidak mungkin melakukan itu."Ruka tidak percaya Genta bertindak seperti itu, ia masih meyakini Genta adalah orang baik.
Walaupun tadi siang dia sendiri mendengar Genta akan menculik Pharita, tapi tetap saja Ruka tidak percaya Genta telah menculik Rora sebagai gantinya.
Mendengar nama Genta berulang kali di sebut, Ruka dan Pharita tak sadar percakapan mereka di dengar adik-adiknya, hal itu membuat Asa seketika limbung hampir terjatuh jika saja tidak ada Rami yang memegangi nya.
Asa, wanita itu hampir kehilangan seluruh kesadarannya jika saja Rami tidak segera bertindak.
"Kak, kakak gak papa?"Rami benar-benar khawatir melihat Asa seperti mau pingsan, terlebih wajah nya sangat pucat.
"Kakak tidak apa-apa Rami, terima kasih sudah menolong kakak ya?"jawab Asa lembut, namun setelah nya ia pergi karena tak ingin mendengar pembicaraan kedua kakaknya lagi.
Entah kenapa hal itu membuat ia takut, takut apa yang Asa pikirkan benar adanya. Bagaimana jika Genta yang di maksud itu adalah seorang Asahi Gentaraksa?
"Tidak! Aku tidak bisa disini, aku harus segera pergi."batin Asa terguncang, tubuhnya bahkan mulai bergetar hebat di susul rasa sesak di dada.
"Ughh.. kenapa aku harus selalu seperti ini jika mengingat bajingan itu."dengus Asa tak suka dengan kondisinya yang lemah.
Ia masuk ke dalam kamar membuka salah satu laci di lemari dan mengambil botol kecil berisi obat-obatan. Asa pandangi botol obat yang 4 tahun lalu telah menemaninya di saat Depresi. Namun, kini Asa tak lagi mengkonsumsi obat itu setelah memiliki Canny di hidup nya.
"Sudah lama aku tidak mengkonsumsi obat ini. apakah.. apakah aku akan baik-baik saja jika aku meminum nya lagi?"Asa ragu, namun ia tidak punya pilihan lain selain meminum 5 butir obat sekaligus tanpa menenggak air sedikitpun.
"Aku.. sangat benci ini. Tapi, aku sangat... Membutuhkan nya."lirih Asa meremas dadanya semakin sesak luar biasa, efek dari obat kadaluarsa yang ia minum tadi.
Tubuhnya mulai kejang-kejang dengan mengeluarkan busa di mulutnya.
Ahyeon yang sedari tadi mencari Asa bersama dengan Canny terkejut menemukan ibu satu anak itu sudah terkujur kaku di lantai.
"MAMIII.."teriak Canny terkejut melihat ibunya sekarat.
"KAK ASA!"Ahyeon buru-buru mendekat mengecek kondisi Asa terlebih dahulu apakah masih hidup atau tidak.
Di rasa nadi Asa masih terasa walaupun sangat lemah, itu cukup membuat Ahyeon lega setidaknya Asa masih bisa di selamatkan.
"Aku harus segera membawa Kak Asa ke Rumah Sakit sebelum terlambat."batin Ahyeon mulai melirik ponakannya yang menangis histeris.
"HWUAAA... Yeyon, Mami mati Yeyon, tolong calikan Mami balu buat Canny."
Plak
Sontak bibir Canny langsung mendapatkan salam manis dari Ahyeon.
