09. seokjin's mail • the last maybe?

123 5 0
                                    

The Last, Maybe?

BTS Jin
Lovelyz Jiae

---------------------------------------------------

Hai! Selamat malam! Bagaimana kabarmu? Bukankah ini hari yang -

"Pemberhentian berikutnya, sungai Han."

Pandangan Seokjin yang awalnya mengarah pada pemandangan yang terlihat dari kaca di sebelahnya, beralih cepat pada papan berjalan yang bertuliskan 'Han River' di atas spion tengah. Tak lama kemudian, sang supir menginjak pedal rem. Menimbulkan bunyi mendecit dan membuat bus yang ia kendarai berhenti pelan-pelan. Seokjin sempat tersentak meskipun hanya sebentar, namun tetap mencoba berjalan ke arah pintu. Baru saja ia berdiri di depannya, pintu otomatis itu bergeser ke dua arah, membuat Seokjin dan halte bus sungai Han kini tak ada batasannya. 

Segera saja, pemuda itu keluar melangkahkan kaki di jalanan yang terbuat dari semen. Angin sore sempat kencang berhembus meniup poninya yang sudah lumayan panjang. Sinar matahari sempat membuatnya silau, refleks mengangkat tangannya untuk melindungi mata. Seokjin tetap melangkah pelan sampai menyusuri jalanan aspal dengan pepohonan rimbun di kedua sisinya.

Kim Seokjin selalu menyukai pinggiran sungai Han saat senja. Semburat biru-kuning di ujung cakrawala. Mentari menyinari bumi dengan lembut. Hawanya yang tidak terlalu panas. Namun yang paling ia sukai adalah begitu banyaknya orang yang menghabiskan hari mereka di waktu yang sam dengan Seokjin. Membuat pemuda yang sering datang sendiri itu tidak terlalu merasa sepi.

Tetapi kali ini, seseorang akan menemani senja Seokjin di pinggir sungai setelah sekian lama.

PIP PIP

Suara tersebut berhasil membuat Seokjin berhenti. Membuatnya langsung merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah ponsel dari sana. Pesan terbarunya sontak memberikan efek yang tak terduga pada wajahnya. Ujung bibirnya pun tertarik ke samping, membentuk senyuman tipis. Kata-kata yang tertulis di sana membakar semangatnya lebih besar lagi.

Seokjin melanjutkan perjalanannya setelah memasukkan ponselnya. Beberapa saat ia melangkah seperti prajurit, kembali seperti biasa lalu terulang lagi seperti itu. Saat pemuda itu menangkap sekawanan burung tengah berkumpul di sudut mata, otaknya langsung mengeluarkan ide jahil. Dia berjalan pelan mendekati mereka kemudian mempercepat ritme gerak kakinya, membuat kawanan tersebut terbang dengan cepat karena terkejut.

Setelah itu, ia berbalik lagi ke jalan yang ia tempuh. Pepohonan yang dari tadi setia menaunginya kini tak ada lagi, telah digantikan oleh tanaman ilalang. Menambah suasana sekitarnya semakin terlihat...kuno. Hanya ada beberapa pengendara sepeda yang lalu lalang melewatinya. Seokjin benar-benar menikmati senja hari itu.

Lima belas menit kemudian, ia berbelok ke kiri menuruni tangga kayu yang sengaja dibuat di sana beberapa tahun lalu. Ia melangkahi anak tangga dengan irama yang tetap dan melompat dari anak tangga terakhir. Dimasukkannya kedua tangannya ke dalam saku celananya seraya mendekati pagar pembatas.

"Lama tidak berjumpa," bisiknya sambil menepuk-nepuk selasar pagar tersebut. Salah satu sikunya bertumpu di sana dan menopang dagu. Sorot matanya memandang pada apapun yang ada di seberang sungai tersebut yang tampak kecil dari tempat ia berdiri. Kemudian beralih menatap teduh riak air yang ada di bawahnya. "Sudah setahun ya rupanya."

"Maaf, aku baru bisa ke sini sekarang. Ada alasan khusus aku tidak dapat sering-sering datang. Apakah kau akan memaafkanku?"

Mail ChroniclesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang