Sebuah Pernyataan?

59 7 1
                                        


Malam ini adalah salah satu malam terburuk bagi Juna. Pikirannya melayang entah ke mana, sementara permainan gitarnya terdengar sumbang di beberapa nada. Protes dari Bobby pun datang bertubi-tubi. Untuk menebusnya, sekarang dia berdiri di samping pintu kemudi mobil yang terbuka, memandangi seorang wanita yang tergeletak tak sadarkan diri.

Juna menghembuskan napas berat, "Mina, lo masih bisa bangun nggak?" tanyanya pelan sambil menepuk pipi wanita itu. Namun, Mina tetap tak bergeming, matanya terpejam rapat. Tanpa pilihan lain, Juna meraih tas milik Mina dan mulai mencari kartu akses untuk masuk ke kamar. Tapi nihil. Ia tak bisa menemukan dimana-mana. Tidak di saku baju Mina karena wanita itu memakai dress tanpa saku.

Setelah beberapa saat mempertimbangkan, ia meraih ponsel yang tersembunyi di saku belakang celana. Lalu, ia menelpon seseorang yang sedari tadi membuat pikirannya rumit; Jio. Nama itu terus membuatnya gelisah. Cemburu? Entahlah... yang jelas, kabar yang didengarnya dari Mina membuatnya tak tenang. Jio bersama lelaki lain, dan itu bukan Jevan! Hatinya mendadak sesak. Sepertinya, ia punya saingan baru.

Teleponnya tidak terjawab. Mungkinkah jika Jio belum pulang?

Daripada menerka-nerka, Juna akhirnya memilih untuk menggendong Mina dan menuju unit milik Jio. jika pemilik unitnya tidak ada, biarlah Mina tidur di koridor luar saja. Ia sudah terlalu lelah menghadapi sahabatnya yang selalu pingsan ketika mabuk.

Seolah tanpa beban, Juna memencet bel apartemen Jio. menunggu pemilik membuka pintu hingga lima menit lamanya. Tapi belum ada jawaban dari dalam.

"Jio? Ini gue Juna." ujarnya sedikit lantang. Tidak sabar karena dalam gendongannya Mina sudah mulai menggeliat. Membuat lengannya sedikit sakit.

"Iyaaaa, sebentar!" tanpa sadar, Juna menghela nafas lega ketika mendengar sahutan Jio dari dalam.

Tak perlu menunggu lama, pintu di depannya terbuka dan menampakkan Jio yang memakai pakaian rumahan dilengkapi dengan handuk di kepalanya. Wajahnya begitu kaget melihat Mina di gendongan Juna.

"Gue ga nemuin kartu akses apartnya Mina, jadi gue titip dia disini ya." ujarnya sembari berjalan ke dalam ketika Jio mempersilakan. Juna membawanya ke dalam kamar milik Jio. membaringkannya di sana dan menutupnya dengan selimut. Ketika berbalik, ia bisa melihat Jio yang sedang memandang ke arahnya. Sebelah alisnya menukik.

"Langsung balik?"

"Gue nginep disini juga?" tanyanya dengan nada sedikit sinis. "Ehm," dia berdehem sejenak untuk menetralkan suaranya. Juna mengusap wajahnya sedikit kasar. "Gue langsung pulang aja."

"Nggak mau minum dulu?"

Alih-alih menariknya ke arah dapur, Juna malah menariknya menuju ke arah toilet. Mendudukkannya di atas kursi. Lantas mengambil hairdrayer dan menyalakannya.

"Eh?" Jio sedikit kaget, namun ia hanya diam ketika Juna membuka handuk yang menutupi rambutnya.

Juna hanya terdiam, namun raut wajahnya begitu terlihat misterius. Seperti memendam amarah. Jio sampai takut untuk bertanya. Tapi netranya tak lepas dari Juna yang terus menyisir rambutnya. Perlakuannya seolah sudah sering melakukan beberapa kali.

"Lo..." mulutnya kembali bungkam ketika bertemu mata dengan Juna melalui cermin. Urung untuk bertanya.

Juna hanya diam dengan sebelah alis yang terangkat. Melihat wajah Jio, entah kenapa ia merasa kesal. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh. Tapi Jio baru selesai mandi. Itu hanya alibi. Aslinya, pikiran Juna sudah melanglang buana memikirkan kemungkinan sebelumnya Jio bersama dan sedang melakukan apa.

"Baru pulang?"

"Hah?"

Juna berdehem sejenak, menghilangkan nada ketus yang terdengar begitu jelas, "Lo... baru balik?"

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Apr 14, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Love FoolishTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang