Semilir angin memberikan kesejukan diantara teriknya sinar mentari. Meskipun demikian, manusia manusia penuh kegiatan seolah tak terganggu sama sekali dengan hawa yang semakin panas. Beberapa mahasiswa terlihat asik berteduh di bawah rindangnya pohon yang menaungi taman kampus. Ada yang duduk di bangku yang disediakan, tak sedikit juga yang memilih untuk bersantai di gazebo, dan ada yang selonjoran di atas rerumputan beralaskan karpet atau alas kaki mereka. Jio adalah salah satu yang memilih untuk bersantai di gazebo.
Dari kejauhan, gadis itu terlihat begitu mungil. Kakinya yang menjuntai ia ayunkan karena tak bisa menyentuh tanah di bawahnya. Tangannya asik memainkan ponsel sembari sesekali menyelipkan anak rambut yang tersapu angin ke belakang telinga. Hari ini, Jio memakai kaos kelabu yang dipadukan rok span denim di atas lutut.
Melihat itu, Juna semakin melebarkan langkah. Dua kaleng minuman dingin sudah dibawanya, "Udah lama?"
Jio tersenyum dan buru-buru memasukkan ponselnya ke dalam tas. Ia menerima kaleng yang diberikan oleh Juna. Gadis itu mendongak karena Juna masih berdiri di sampingnya, "Nggak lama, kok. Thanks ya!" ujarnya sembari meneguk minuman berkarbonasi di tangannya.
Hampir saja ia tersedak ketika merasakan hangat menyelimuti lututnya. Punggung tangannya lekas menghilangkan sisa minuman yang sedikit tumpah. Saat menunduk, ia melihat jaket milik Juna menutupi lututnya.
"Dari tadi sendirian aja disini?"
"Tadi ada yang lain, ada Bambam juga. Tapi udah pada balik. Nah karena lagi kelarin tugas sekalian, gue minta ditinggal aja sama mereka. Eh kebetulan lo tanyain posisi gue."
Seharusnya niat Juna menanyakan Jio adalah untuk mengajaknya pulang. Namun ketika melihat rok yang dipakai gadis itu sepertinya tidak memungkinkan untuk menaiki motornya, niatnya menjadi urung.
"Bambam tuh rese banget, tahu nggak?!" bibirnya mencebik lucu. Kepalanya menoleh menatap Juna yang sedari tadi tak pernah mengalihkan pandangan dari wajah cantik Jio. ia sangat menyukai bagaimana Jio dengan mudah mengekspresikan perasaannya melalui wajah. "Dia nanyain mulu perkembangan kita. Lah gue tanya balik. Emang gue sama Juna ngapain ya?"
Disindir seperti itu, tangan Juna memilih untuk mengacak rambut pendek Jio, "Perlu gue jelasin lagi?" pertanyaannya itu mendapat jawaban berupa gelengan kepala. Bibir gadis disampingnya itu tersenyum, namun terdapat makna lain di baliknya. Ia tahu itu.
"Gue harus kelarin beberapa hal dulu sebelum–" ucapannya terputus. Disela oleh dering ponsel yang menampakkan nama Jevan disana.
Ohh, jadi itu yang dimaksud oleh Jio. Mereka berbicara sebentar. Tak ada yang memberikan atau meminta kejelasan. Hanya berbicara tentang hal random yang menyenangkan, sebelum kesenangan itu hilang ketika Jihyo harus pamit menuju mobil HRV hitam yang menunggunya di tepi taman kampus.
***
Sebelumnya hatinya sudah begitu mantap untuk menyingkirkan eksistensi Jevan dalam hati maupun hidupnya. Namun getaran pada dada tetap saja ada ketika melihat lelaki itu menunggunya di balik kemudi. Dengan kaos hitam berlengan panjang, tato yang menghiasi lengannya tidak dapat tersembunyikan begitu saja. Rambutnya lebih rapi dari terakhir kali ia melihatnya, namun tetap panjang menghiasi sebagian dahi. Jio mengusap hidungnya yang tak gatal. Menghilangkan rasa gugupnya.
"Mau makan dimana?" dari sudut mata, ia tahu jika Jevan terus memperhatikan gerak-geriknya. Ia tak mampu membalas tatapan lelaki itu. Terasa begitu tajam. Membuat bulu kuduknya sempat meremang.
"Gue ngikut aja. Lo mau kemana?"
"Kemana aja asal bisa ngobrol sama lo."
Jio menghela nafas lelah. Bahunya merosot begitu saja. Ia memiringkan duduknya sehingga menghadap ke arah Jevan. Memberanikan diri menatap netra lawan bicaranya. Kantung matanya terlihat begitu jelas. Meskipun terlihat lebih rapi, tapi bisa dipastikan jika Jevan banyak pikiran.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Foolish
RomanceIt's weird, the more I fall for you, the more I'm drawn to your toxic love.
