Dalam sekejap, hidupnya yang semula ia kira baik-baik saja ternyata berbalik seratus delapan puluh derajat. Kepalanya berdenyut pelan melihat rangkaian bunga yang teronggok di kursi penumpang sebelahnya. Sangat tidak terduga bagaimana satpam fakultasnya tiba-tiba mencegatnya saat pulang.
"Mbak Jio, ini ada titipan bunga. Tadi katanya buat Jisel, saya mikir... siapa yang namanya Jisel, sampai masnya bilang nama Jio."
Ia meringis pelan. Tentu saja Dewangga. Siapa lagi yang memanggil nama aslinya selain lelaki itu. Pun dengan notes yang berbunyi "Unblock me, please..." tentu saja membuat Rose memkik heboh saat melihatnya. Katanya, siapapun yang mengirim itu sangatlah romantis. Worth it untuk dilanjutkan ke jenjang yang lebih serius, dibandingkan dengan Jevan. Ia hanya tidak tahu. Dewangga itu begitu rumit.
Lelaki matang dengan prinsip hidup yang bebas itu tidak menyukai keterikatan dalam suatu hubungan. Jika sudah suka, ya sudah jalani saja. Tanpa ada embel-embel kekasih. Terlalu kekanakan, katanya. Sedangkan Jio berpikiran sebaliknya. Meskipun awalnya ia setuju dan menyukai pemikiran Dewa, tetapi semakin lama ia berpikir, ikatan dalam suatu hubungan itu memang sebaiknya ada. Untuk membatasi hal yang tidak diinginkan.
Maka untuk berterima kasih, Jio membuka blokir kontak Dewangga. Mengirimi lelaki itu pesan dan tak lupa mengirim gambar bunga yang telah diterimanya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Thanks, bunganya cantik kayak aku
Tak seperti biasanya, Dewangga membalas pesannya kurang dari satu menit.
Nice to hear that
Cantik, apalagi pakai baju hijau. Kelihatan seger hahaha
Matanya tak bisa menyembunyikan keterkejutan dari pesan yang barusan dibacanya. Lantas mengedarkan pandang ke arah sekitar, hingga ia menangkap keberadaan range rover evoque hitam terparkir di parkiran luar fakultas ekonomi. Ia bisa melihat sebuah tangan terulur keluar dan melambai ke arahnya.
Gzz... itu Dewangga!
Dewa: Mau ikut sebentar?
Maka tak ada alasan lain untuk menolak tawaran Dewangga, sebelum lelaki itu keluar dan akan menghebohkan beberapa teman kelasnya yang masih asik nongkrong di depan taman fakultas. Terlebih lagi, Bambam juga ada di sana.
***
Lelaki itu menghentikan mobilnya di parkiran gedung apartemennya. Jio hanya mengikuti, memarkirkan mobil miliknya tepat di samping Range Rover milik Dewa. Doakan saja agar tidak ada baret pada mobil lelaki itu karena rupanya mobilnya diparkir terlalu mepet.
Netranya menatap Dewangga was-was. Kemeja yang digulung dengan jas terlampir di tangan sangat berbeda dari style Dewa yang awut-awutan biasanya. Demi apapun, Jio mengagumi gedung tempat Dewangga tinggal. Bukannya ia pernah mengunjungi tempat tinggal lelaki itu, namun sesekali ia pernah penasaran dan Dewangga hanya mengatakan jika ia tinggal di Vivre Apartemen Town Hall. Bangunan dengan 25 lantai yang begitu megah terlihat dari jalan raya. Dan sekarang ia berada di dalamnya, menuju lantai teratas ketika Dewa menekan tombol di dalam lift. Tunggu...