Cuaca siang hari itu cukup sejuk,semilir angin menggoyangkan rumput dan daun.Suara cuitan burung juga terdengar damai.Tampaknya segalanya terasa damai,kecuali disatu tempat.
Dimana seolah kesejukan tidak menggapai tempat itu dan ada atmofsir panas melayang sekelilingnya.Dan suara gerasak gerusuk sesuatu yang bergesekan dengan rumput kering yang terdengar terus menerus.
Granger awalnya menggigit bibirnya demi untuk meredam suara yang akan keluar dari mulutnya.Dia menggigit bibir sampai pecah dibawah permainan Gusion yang terus menggerakkan pinggulnya.Tapi lama kelamaan Granger tidak bisa menahannya lagi.Granger menyerah untuk menutup mulutnya rapat-rapat.Dia tidak tahan lagi.
Begitu mulutnya terbuka,suara rintihan penuh penyiksaan dari Granger langsung terdengar.
Gusion mengangkat wajahnya untuk melihat Granger yang wajahnya basah dan terlihat begitu menderita dengan mulut yang megap-megap,di bibirnya ada bekas gigitan dengan bercak darah.
" Berhenti,sialan...agh..." Dengan susah payah Granger mengucapkan kalimatnya,karna tubuhnya terus terguncang dibawah gerakan Gusion yang tidak mau berhenti.
Alih-alih berhenti.Gusion justru tersenyum dengan kilatan dimatanya.Penampilan Granger yang begitu tersiksa justru membuatnya semakin bersemangat.Bahkan melihat mata Granger yang dipenuhi kristal bening membuat dada Gusion bergemuruh.
Gusion menyodok lebih dalam,pinggulnya bergerak lebih liar.
Seluruh tubuh Granger seketika mengejang.Erangan tersiksa terdengar semakin keras dari mulut Granger.
" Agh...ber-henti.."
Dua tangan Granger yang masih dirantai memukul-mukul wajah Gusion,tapi Gusion tidak menanggapi,seolah pukulan itu tidak berefek sama sekali.Meski begitu,bukan berarti Gusion akan membiarkan Granger memukuli wajahnya terus menerus.Gusion menangkap tangan Granger, menurunkannya ke dada.
" Memohonlah dengan benar,sup kentang."
Mata Granger dipenuhi dengan cairan airmata fisik.Bukti bahwa dia benar-benar merasa tersiksa dengan apa yang Gusion lakukan dengan tubuhnya.Dengan wajah yang memelas,Granger hanya bisa menatap Gusion dengan mata nanar.Didalam tatapan mata itu ada kesakitan dan juga kebencian yang sepenuhnya bisa Gusion pahami,tapi Gusion menolak peduli.
" Ib-ibuku agh...hahh... pasti- d-dia menyesal hngh...k-karna..sudah menolongmu. jika dia..tau..ap-aah... yang- kau lakukan kepadaku sekarang."
Kalimat Granger yang terbata-bata diiringi rintihan dengan nafas yang memburu membuat raut wajah Gusion langsung berubah.
" Seharusnya dia membiarkanmu mati.ahh...agh.. brengsek ." Granger menitikkan air mata lagi.Rasa sakit dibagian bawah sana membuatnya menggertakkan giginya sampai rahangnya sakit.
Gusion tiba-tiba berhenti bergerak,dia terdiam untuk beberapa saat.
itu memberikan waktu untuk Granger bernafas dengan benar.Tubuh bagian bawahnya rasanya seperti terbakar, seolah dia ingin dikremasi hidup-hidup.Granger hampir kehilangan rasa dengan kaki dan pinggangnya,tapi secara samar-samar dia masih bisa merasakan ada sesuatu yang berdenyut-denyut didalam dirinya.Sesuatu yang terasa seperti hidup dan bernafas,memenuhi perutnya.
Ekspresi Gusion menjadi serius.Dia menatap Granger dengan tatapan tajam.
" Kau benar.Seharusnya ibumu tidak menolongku, seharusnya dia membiarkan aku mati sehingga aku tidak akan terus tersiksa."
Granger meringis antara kesakitan dan juga kesal.Omong kosong macam apa itu?Jelas-jelas disini dialah yang tersiksa.
" Aku seharusnya mati saja,tapi kenapa orang-orang memberikan harapan hidup kepadaku yang seharusnya mati sejak lahir?.kenapa?" Wajah Gusion terlihat gelap,tatapan tajam yang dia pancarkan seakan menembus Granger.
KAMU SEDANG MEMBACA
ARPEGGIO
FantasyBxB alias boy Love Gusion X Granger. Dia pernah jatuh cinta secara impulsif,dan patah hati secara impulsif pula. Granger jatuh cinta untuk pertama kalinya,tapi hatinya dipatahkan dengan sedemikian rupa oleh Gusion.Perasaan cinta itu berubah menjadi...
