17. Tujuan Hidup

66 10 0
                                        

Gusion tidak tau apa yang terjadi, tiba-tiba saja kesadarannya terlempar.Saat dirinya terbangun dia sudah berada disebuah tempat yang tidak dia ketahui.

Gusion tidak pernah datang ke tempat ini sebelumnya,tapi entah tempat ini terasa agak tidak asing baginya.Sebuah tempat yang seolah Gusion pernah lihat entah dimana.

Itu adalah sebuah tempat yang tidak ingin Gusion datangi bahkan dalam mimpinya.

Gusion saat ini sedang berdiri ditengah sebuah altar raksasa yang lantainya berisi dengan simbol-simbol yang tidak dia pahami, dari empat sisi ada tiang raksasa dengan api yang menyala diatasnya,suara
berderak-derak dari api yang menyala dari segala sisi membuat Gusion sangat tidak nyaman memberikan kesan hawa gersang disekeliling tempat itu.Meski begitu,dia tidak merasakan panas sama sekali.Hanya saja tempat dimana dia berada saat ini,membuatnya sangat gerah dan tidak nyaman.

Gusion menatap keatas,melihat langit yang kelam dengan warna gelap seolah tertutupi oleh awan bewarna merah darah.

Didepannya kini, ada sebuah tangga yang menuju kearah bangunan kastil.
Dikedua sisinya di hiasi dengan tiang yang tersusun dari kepala tengkorak,entah itu tengkorak manusia atau bukan, Gusion tidak tau.Yang jelas tengkorak itu adalah bentuk kepala.Bangunan kastil itu terlihat suram dan tidak menyenangkan,Gusion tidak ingin melangkahkan kakinya kesana.

Tiba-tiba terdengar suara tawa yang tidak asing lagi mengggema disegala tempat. Raut wajah Gusion segera berubah. Suara yang selama ini hanya dia dengar dari kepalanya,sekarang terdengar begitu jelas secara nyata.

Gusion tampak kebingungan dan panik, lalu tiba-tiba Camia muncul dan menepuk bahu Gusion dari belakang.

Gusion tersentak dan segera menoleh,melihat Camia Gusion langsung merasa sedikit lega namun kecemasannya tidak menghilang.

" dimana ini?." tanya Gusion.

" sebuah tempat yang tidak menyenangkan." jawab Camia.

Gusion mengedarkan pandangannya ke sekeliling lagi.Ya, dia bisa merasakan itu.

" aku tidak mau berada disini." ucap Gusion lagi.

Camia mengangguk paham.

" aku juga."

Camia kemudian menatap ke sekelilingnya, mengedarkan pandangannya kesegala arah lalu berakhir dengan menatap lantai dari altar raksasa yang mereka pijak.Jika dilihat dari atas lantai altar itu bercorak kan lingkaran dan pentagram yang berisi huruf dan simbol-simbol tertentu.

Setelah memperhatikan semuanya dengan jelas,Camia menarik nafas panjang.Dia kemudian menarik Gusion untuk berdiri ditengah-tengah altar. mereka berdiri diatas sebuah huruf hebrew dan simbol yang berbentuk burung merpati.

" Gusion,dengarkan aku.saat ini jiwamu sedang terjebak ditempat ini."

Gusion menautkan alisnya. Dia mengingat kembali apa yang terjadi padanya sebelumnya, dan akhirnya menyadari bahwa apa yang Camia katakan cukup masuk akal karna tiba-tiba saja dia terbangun disebuah tempat yang asing.

" lalu bagaimana?." tanya Gusion kemudian.

Camia mencoba untuk tersenyum tipis agar Gusion tidak panik.

" tenang saja aku akan membawamu kembali." ucap Camia.

Namun ketenangan diwajah Camia tiba-tiba berubah saat tiba-tiba ada suara yang terdengar memanggil namanya.

" Camia..." Suara itu terdistorsi dari segala arah dan terdengar menyeramkan.

wajah Camia seketika menjadi panik, meski dia berusaha untuk tetap tenang tapi tetap saja wajah pucatnya tidak bisa disembunyikan.

ARPEGGIOCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang