73. Bermain Api

354 20 3
                                        

Suasana terasa canggung, ayah, mami, dan orang tua Punpun asyik mengobrol. Beda halnya dengan Tay, New dan Punpun yang sejak tadi diam serta saling bertatapan. Mereka bertiga masih sangat terkejut dan sulit memahami apa yang terjadi.

Sekarang Tay dan New duduk di samping Ayah dan Mami, berhadapan dengan Punpun dan kedua orang tuanya.

"Umm Kak Punpun keliatannya lebih tua dari aku ya? Keliatan dari wajahnya," tiba-tiba New berucap, mendengar itu Punpun menatapnya kaget, Punpun merasa New lagi mengatai kalau wajahnya kelihatan tua.

Padahal si manis bukan bermaksud mengatai Punpun, lagi pula dari awal dia kan sudah tahu kalau Punpun lebih tua. New cuma mau melihat respon orang tua mereka, sebab New benar-benar bingung, bagaimana bisa dia dijodohkan dengan Punpun?

Papanya Punpun tersenyum. "Iya Punpun baru lulus tahun lalu sekarang dia sibuk kerja ngurusin perusahaan keluarga, kalau Newwie katanya masih kuliah semester empat ya? Kalau urusan umur Om sih nggak masalah, kalau Newwie gimana?"

"Kalau aku–"

"Adek Newwie pastinya nggak masalah dijodohin sama Punpun, lagian umur nggak jadi sebuah patokan. Adek itu juga anaknya dewasa banget," ayah memotong ucapan New, membuat si manis kesal.

"Wah keliatan kok Newwie anaknya dewasa ya, kamu ganteng banget lho Newwie," puji mamanya Punpun, New mau tidak mau hanya bisa tersenyum tipis. Sedangkan mami dan Tay sejujurnya tidak setuju, New itu justru anaknya manja banget.

"Makasih Tante," jawab New.

Kemudian papanya Punpun beralih menatap Tay. "Oh iya Om belum tau nama kamu, nama kamu siapa Nak?"

Tay tersenyum sopan ke papanya Punpun. "Nama saya Tay Tawan Om."

"Oh Tay Tawan? Kaya nggak asing ya nama kamu, kaya pernah dengar."

"Tay Tawan dari keluarga Vihokratana Pah," jawab Punpun.

Hal itu membuat papa dan mama Punpun kaget. "Wah keluarga Vihokratana? Yang punya perusahaan properti terbesar dan tambang emas itu kan?" tanya mamanya Punpun tidak menyangka.

Tay tersenyum dan hanya mengangguk, sedangkan papanya Punpun segera menatap anaknya. "Kamu tau dari mana Kak? Kalau Tay keluarga Vihokratana?"

Punpun langsung gugup. "Oh tau aja, banyak teman-teman Kakak yang suka sama Tay, dia juga terkenal banget Pah."

"Oh ya? Wah maaf ya Tay kalau Om baru tau, biasalah Om sama Tante itu kurang update media sosial, jadi begini."

"Iya Om gapapa," jawab Tay sopan.

"Kamu satu tempat kuliah sama Newwie?" tanya papanya Punpun lagi.

"Iya Om kami satu tempat kuliah, kebetulan saya juga satu jurusan sama Newwie di Grammy, cuma saya Kakak tingkatnya, saya sama Newwie beda dua tahun."

Mamanya Punpun terlihat sangat bersemangat. "Wah, jadi kamu seusia sama Punpun dong ya? Kamu udah lulus? Berarti sekarang lagi sibuk apa Tay?"

"Iya udah lulus Tante, sekarang sibuknya kerja di perusahaan Mama aja."

"Oh gitu, kamu udah punya pacar?" mamanya Punpun kembali bertanya.

"Iya Tante, saya udah punya pacar," jawab Tay sembari melirik ke arah New, sementara New terpaku menatap Tay.

Papa dan mama Punpun lagi-lagi terperangah mendengar ucapan Tay. "Wah pasti beruntung banget ya pacar kamu."

Kemudian Tay melihat ke arah mamanya Punpun. "Nggak juga Tante, saya yang lebih beruntung karena jadi pacarnya."

Mendengar itu hati New menghangat, dia terharu sama ucapan pacarnya. Bahkan mami dan kedua orang tua Punpun juga tersentuh mendengar perkataan yang keluar dari bibir Tay. Sedangkan Punpun asyik memperhatikan Tay yang berada tepat di hadapannya, Punpun berpikir selama setahun mereka tidak pernah berkabar, ternyata Tay tidak berubah, lelaki tampan di hadapannya tetap membuatnya sangat kagum. Sementara Ayah cuma bisa terdiam menatap Tay.

Taynew IneffableTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang