75. Memaksa

346 19 0
                                        

Tay merasakan kepalanya sakit, dia ingin memegang kepalanya tetapi tidak bisa, tangannya seperti ditahan oleh sesuatu. Lelaki tampan itu pun membuka matanya perlahan, menyesuaikan cahaya yang masuk.

Seketika Tay terpaku menyadari dia tidur telentang di atas tempat tidur king size. Tay melirik ke kedua tangannya yang ternyata terikat di kepala ranjang.

"Apa-apaan ini," gumam Tay.

Lelaki tampan itu melirik ke sebelahnya, dia terkejut melihat New tidak sadarkan diri dengan keadaan sama seperti dirinya, kedua tangannya dijadikan satu dan diikat di atas kepala ranjang.

Tay tambah kaget melihat keadaan New yang shirtless ditutupi oleh selimut, Tay segera melihat keadaannya yang ternyata juga sama, dia shirtless dan ditutupi selimut.

Tay menggesek telapak kaki kanannya ke bagian tungkai kaki kirinya untuk mengecek apakah dia masih memakai celana, ternyata dia masih memakai celananya.

Kemudian lelaki tampan itu pun menggesek kaki New, beruntungnya New juga masih memakai celananya. Tay bisa bernapas lega mengetahui kalau mereka berdua hanya shirtless dan tidak naked.

Tiba-tiba pintu kamar terbuka. "Oh lo udah bangun Tay?"

Suara itu membuat Tay menengok ke sumber suara, dia melihat Punpun tersenyum tipis dan berjalan ke arahnya.

Tay langsung memasang wajah penuh amarah. "Lo ngapain giniin gue sama New?! Lepasin gue Pun! Lo udah kelewatan!"

Punpun sudah berada di samping ranjang, tepat di sebelah lelaki tampan itu. "Kelewatan? Gue cuma mau main sama lo."

"Main apa maksud lo hah?! Lepasin gue Pun!" Tay mulai berusaha menarik tali yang mengikatnya, dia memberontak.

"Ya main, lo tau maksud gue apa kan?"

Punpun menyibakkan selimut Tay dan New, sampai selimut itu jatuh ke lantai. sekarang tubuh shirtless mereka berdua terlihat jelas. Perlahan tangan Punpun meraba dada bidang Tay yang tidak tertutup sehelai benang, dia mengelus otot keras Tay.

Tay melihat Punpun penuh kebencian. "Jauhin tangan lo dari tubuh gue."

Punpun bukan menyingkirkan tangannya malah semakin mengelus dada bidang dan perut rata lelaki tampan itu. Tay berusaha menggeliat agar tangan Punpun menjauh dari tubuhnya, dia tidak suka tubuhnya disentuh sama Punpun. Tay sadar dia sudah punya New, dia tidak mau menyakiti hati lelaki manis itu dengan cara seperti ini.

Sementara New seketika membuka kedua matanya, dia menyipit berkali-kali. "Ugh," erangnya pelan. Hal itu membuat Tay segera menoleh ke arah si manis.

New ingin menggerakkan tangannya tetapi tidak bisa. Si manis pun melirik ke atas melihat kedua tangannya yang terikat, dia merasa sangat terkejut. "Eh?" Lelaki manis itu kembali bergumam pelan.

Lalu New merasa tubuhnya dingin, dia melirik ke bawah, lelaki manis itu tambah terkejut melihat tubuhnya shirtless cuma menyisakan celana jeans biru mudanya.

Keterkejutan New tidak berhenti di situ sampai kedua matanya melirik ke sebelah kanan, dia sangat kaget memandang Tay yang shirtless dengan kedua tangan terikat di kepala ranjang seperti dirinya.

Yang membuat dada New sakit saat melihat Punpun mengelus dada bidang Tay, mendadak netranya berkaca-kaca.

"Kak Punpun ngapain? Jangan pegang Kak Tee," ucapnya pelan.

Punpun terus mengelus perut berabs Tay. "Kenapa nggak boleh?"

"Kak Tee punya Newwie! Jangan sentuh Kak Tee!" seru New penuh amarah, tetapi matanya berkaca-kaca siap menangis.

Taynew IneffableTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang