Muji lelaki muda berusia 25 tahun yang bekerja serabutan dan tinggal bersama Panji seorang lelaki muda yang usianya 28 tahun. Mereka sudah 2 tahun hidup bersama. Mereka bertemu satu sama lain pada saat Muji bekerja disebuah panti pijat, dan Panji yang kebetulan berkunjung untuk pijat badan. Panji yang merasa sudah cocok dengan pijatan dari tangan Muji setiap bulannya pasti mampir ke panti pijat. Keduanya semakin akrab hingga bertukar nomor hp satu sama lain. Awalnya hanya sekedar tanya kabar dan tentang pekerjaan biasa, hingga akhirnya keduanya jatuh cinta.
Panji yang sebenarnya sudah menikah, namun akhirnya memilih bercerai dari istrinya karena Muji. Panji sendiri merasa pernikahan yang ia jalani hanya sebuah kedok belaka. Karena sebenarnya ia tidak mencintai istrinya. Dan jati dirinya sebenarnya juga bukan seorang laki-laki straight. Sehingga setelah ia bertemu dengan Muji ia memilih untuk bercerai dari istrinya dan meninggalkan semua kehidupan sebelumnya dikota lalu mengikuti Muji pindah ke desa.
Saat ini mereka tinggal di Desa tempat Muji dilahirkan dan dibesarkan. Kedua orangtua Muji sudah meninggal dan Muji hidup sendirian. Namun sekarang ia sudah ada yang menemani, siapa lagi kalo bukan Panji. Mereka tinggal seatap tanpa ikatan apapun. Namun kondisi Panji sekarang sangatlah berbeda dengan keadaan Panji yang dahulu. Sekarang ia sudah tidak bekerja dan saat ini ia juga sedang hamil besar. Walaupun ia laki-laki tapi ternyata ia bisa hamil. Walaupun keadaannya sulit dijelaskan secara medis, namun itulah yang terjadi saat ini. Muji juga sekarang hanya bekerja serabutan di Ladang dan beternak ayam di belakang rumahnya. Mereka hidup sederhana dan seadanya.
"Mas Panji apa ga lelah mas, dari tadi pagi udah bantuin aku di ladang sekarang mas malah lanjutin masak". tanya Muji
"Mas gak capek kok, mas malah seneng bisa bantuin kamu". balas Panji
"Tapi jangan dipaksain mas kasihan kamu sama bayi dikandungan kamu mas". Khawatir Muji pada Panji
"Gapapa kok, kamu tenang aja.. mas kan kuat anak kamu juga kuat". Balas Panji dengan senyuman manisnya.
Muji sebenarnya kasihan pada Panji karena ia tahu kehidupan Panji sebelum mereka bersama. Panji yang selalu terpenuhi dan tercukupi kebutuhan hidupnya, namun sekarang keadaannya berubah 180 derajat. Namun mau bagaimana mana lagi, semuanya sudah menjadi pilihan mereka. Apapun resikonya harus mereka hadapi.
Kandungan Panji sekarang sudah sangat besar. Kemungkinan sudah berusia 9 bulan. Cara berjalannya pun sudah susah. Sudah 2 bulan juga ia tidak memeriksakan kandungannya ke bidan karena keadaan ekonomi mereka saat ini sudah tidak seperti awal mereka pindah dari kota ke desa. Baju yang Panji pakaipun sudah tidak muat karena perutnya yang semakin besar.
"Mas, kamu gak usah ikut ke ladang ya". Perintah Muji
"Lho kok gitu si, aku malah pingin ikut bantuin kamu, aku males gak ada temen dirumah sendirian". Balas Panji
"Aku khawatir sama kamu mas, perut kamu sudah kelihatan turun, aku takut kamu kenapa-napa".
"Gapapa, aku mau ikut aja, kalo ada apa-apa kan masih ada kamu yang nolongin aku, daripada aku sendirian dirumah".
Akhirnya Panji ikut Muji ke ladang dengan Muji membawa peralatan meladang dan bekal makanan serta minuman yang nantinya mereka santap di saung tengah ladang.
"Ji, kamu istirahat dulu, sudah siang.. ayo makan bareng". Titah Panji ke Muji yang sedang mencangkul tanah.
"Iya mas, bentar lagi... Ini nanggung tinggal sedikit lagi selesai kok". Balas Muji dengan sedikit berteriak karena jarak mereka agak jauh.
"Oh... Yaudah cepet selesaikan biar kita cepet makan, aku udah laper soalnya heheh". Balas Panji yang ternyata sudah kelaparan
Namun sebenarnya tidak hanya lapar yang panji rasakan. Ia merasa perutnya mulas dan mengencang. Namun ia tak berani mengadu pada Muji. Sejak ia sampai di ladang, ia hanya membantu sebentar dan langsung duduk disaung dengan kaki yang diselonjorkan dan badannya yang ia sandarkan. Badannya terasa remuk redam dan perutnya terasa kencang.
"Eunghhhh....". Satu lenguhan keluar dari mulut Panji.
"Sabar ya dek... Ibu sama bapak masih di ladang". Monolog Panji dengan bayinya yang masih diperut.
"Apa kamu sudah tidak sabar keluar ya".
"Lho apanya yang sudah tidak sabar mas?". Tanya Muji yang tiba-tiba sudah berada dibelakang Panji.
"Oh... Ini ji, dari tadi dedeknya nendang mungkin sudah tidak sabar untuk lahir kedunia buat ketemu kita". Panji agak kaget namun ia berusaha tetap tenang.
Cukup lama mereka istirahat dan bercengkrama, hingga akhirnya Panji merasa sudah tidak kuat menahan erangan karena rasa sakit ia rasakan beberapa jam terakhir.
"Ennghhhh........."
"Mas kamu kenapa?". Muji bertanya dengan raut wajah heran dan panik.
"Eunghhhh.... Ji.. perutku sakit sekali...". Adu Panji
"Perut sebelah mana mas, kan tadi aku sudah bilang kamu gausah ikut ke ladang, tapi kamu masih ngeyel".
"Aduh ji sakit banget...."
"Iya mas tahan sebentar ya... Kita pulang aja ya".
"Aduhhh .. eunghhhh...".
Panji mencoba untuk turun dari saung dibantu Muji. Mereka berencana untuk pulang namun baru mencoba untuk berdiri, ada sebuah suara yang membuat keduanya terdiam.
"Pyar..... ". Bunyi seperti air dalam plastik yang pecah.
"Mas, kayaknya ketuban kamu sudah pecah, ada air juga yang merembes di celana kamu"
"Eunghhhh... Sakit ji... Aku udah gak kuat lagi"
"Yaudah mas, kamu tiduran di saung dulu biar aku cek dulu liang kamu"
Mereka tidak jadi pulang. Panji yang sekarang sudah dengan posisi tidur terlentang di saung dengan kain yang dilipat sebagai alas kepala dan kedua kaki yang mengangkang dengan celana yang sudah dilepas.
Muji memeriksa liang lahir Panji dan ia terkejut melihat ada rambut halus yang menyembul. Membuatnya kaget karena ternyata Panji sudah dalam keadaan siap melahirkan. Muji mencoba untuk tetap tenang walaupun ini adalah pengalaman pertamanya melihat seseorang akan melahirkan secara normal.
"Mas, kepala bayi kita sudah menyumbul, kamu udah harus melahirkan".
"Eunghhhh... Sakit ji.."
"Iya mas aku tau tapi kamu harus kuat ya"
"Kamu harus tetap tenang dan kamu harus mengejan mengeluarkan bayi kita"
"Eunghhhh......."
Muji memberikan semangat untuk Panji dan Panji juga sudah mencoba untuk mengejan namun belum membuahkan hasil.
"Eungghhhhh......"
"Kamu bisa mas.... Ayo mengejan lagi mas.."
"Eungghhhhh..... Eunghhhhnn..."
"Ayo mas sedikit lagi mas.... Kepala nya udah kelihatan"
"Eunggghhhhh......"
Cukup lama Panji mengejan, entah sudah berapa lama. Hari juga sudah mulai sore. Namun erangan kesakitan masih terdengar. Dan Muji juga masih setia mendampingi belahan jiwanya melahirkan bayi mereka.
"Eungghhhhh.... "
"Plop..."
"Ayo mas... Kepalanya udah keluar sedikit lagi mas bayinya bisa lahir"
"Eeeunggghhhhhh...."
"Ayo mas, 1 2 3....."
"Eeeunggghhhhhhhhh......."
"Oek ... Oek... Oekkk...."
"Syukurlah mas... Anak kita lahir dengan selamat mas..."
"Haaahhhhh... Haaahhhh..."
Nafas Panji terengah dan memburu karena kelelahan. Peluh membanjiri kening dan badannya. Ia lelah namun bahagia karena sudah melahirkan bayinya kedunia.
"Anak kita perempuan mas"
"Syukurlah ji.... Aku senang sekali bisa melahirkan anak kita dan dia lahir dengan sehat"
"Iya mas... Terimakasih sudah mau mengandung dan melahirkan anak kita".
"Iya ji... Terimakasih kasih juga sudah mau menemani aku melahirkan bayi kita"
"Aku mencintaimu"
_end_
KAMU SEDANG MEMBACA
Yang Tersayang
Ficção Geralcerita fiksi oneshot/twoshot male pregnant Bxb Bxm Mpreg Birth scene yang kecepetan
