Tama seorang supir travel barang berusia 35 tahun namun perawakan tubuhnya yang agak kecil dengan rambut lurus dan kulitnya yang sawo matang. Dan Hendra lelaki berusia 30 tahun seorang pedagang pakaian dengan tubuh gempalnya dan rambut ikal serta kulit kuning langsatnya. Mereka berdua sudah kenal lama. Hendra yang setiap minggunya mengantar dagangannya ke pasar pakaian induk di luar kota dan ia selalu naik mobil travel milik Tama. Meskipun berbeda usia namun karena intensitas pertemuan yang sering menjadikan keduanya cukup dekat. Tama yang sebenarnya sudah ada rasa suka pada Hendra sejak lama, namun Hendra tak menyadarinya. Dan Tama pun sadar bahwa perasaannya pada Hendra yang notabene adalah seorang lelaki itu salah. Hingga suatu hari ada satu momen dimana keduanya terjebak dalam suatu keadaan yang cukup sulit. Bagaimana tidak sulit, saat mereka berdua telah selesai mengantarkan barang dan waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 malam mereka masih berada di jalan besar yang jauh dari kota dengan keadaan yang cukup sepi pada malam itu, karena grimis melanda dan ban mobil yang mereka tumpangi bocor sedangkan posisi mereka cukup jauh dengan tukang tambal ban. Akhirnya dengan terpaksa Tama dan Hendra yang saat itu hanya berdua turun dari mobil dan berjalan cukup jauh untuk mencari tukang tambal ban. Namun hasilnya nihil dan saat mencari kontak lewat online akhirnya Tama menemukan satu kontak tukang tambal ban dan langsung menghubunginya dan untungnya tersambung.
"Halo, kang apa benar ini tukang tambal ban Ucup?"
"Iya bang, ada apa nih malem malem telpon?"
"Gini kang mobil saya kebetulan bannya bocor dan saya kebetulan gak ada ban serep, kira-kira akang bisa nambal ban jam segini gak kang?"
"Waduh bang maaf ni, udah jam segini saya gak bisa bang, paling gak besok pagi jam 6 an saya bisa? Posisi Abang sekarang dimana?"
"Oh gitu ya kang? Saya dijalan Sriwijaya kang?"
"Agak jauh ya bang? Besok aja gimana?"
"Gimana ya? Saya udah jalan cukup jauh ga ada tukang tambal juga ya?...
"Terserah Abang si maunya gimana? Soalnya udah larut malem juga ini bang?"Tama bingung, iya bertanya pada Hendra
"Gimana hen menurutmu?"
"Gak papalah tam?" Udah malem juga disekitar sini juga udah sepi, kita sambil cari tempat nginep aja buat istirahat"
"Oke deh kalo kamu gak papa"Tama lanjut ngomong ke Abang tukang tambal ban
"Oke deh kang, besok gapapa, nanti saya hubungi lagi ya kang?"
"Siap bang kabarin lagi besok ya?"
"Sip kang"Tama dan Hendra lanjut jalan kaki dan mencari tempat menginap terdekat. Dan untungnya setelah jalan sekitar 1 km mereka menemukan penginapan kecil yang tidak terlalu mahal dan layak untuk mereka tempati satu malam.
Hotel Asia
" Malam kak, ada yang bisa kamu bantu?" Tanya resepsionis dengan sopan
"Malam kak, apa masih ada 2 kamar kosong kak?"
"Maaf kak, untuk malam ini kebetulan untuk kamar yang masih tersedia tinggal satu dengan satu bed ukuran kingsize?"
"Waduh, yang double bed ga da ya kak?"
"Maaf kak kebetulan sudah penuh kak? Bagaimana kak? Apa mau diambil?"Tama bingung tapi Hendra langsung menjawab
"Ya udah kak gapapa, kamar itu saja" jawab Hendra
"Baik kak, sebentar ya saya proses dulu, mohon untuk kartu identitas salah satu dari kakak sekalian"
"Ini kak silahkan" jawab HendraSetelah proses registrasi akhirnya Tama dan Hendra langsung masuk menuju kamar yang sudah mereka pesan.
"Ah, lega rasanya udah bisa istirahat" ucap Tama sambil merebahkan tubuhnya diatas kasur
"Iya Tam, capek banget rasanya" sahut Hendra
"Iya hen, aku mau mandi ah"
"Iya Tam nanti gantian"Setelah beberapa saat Tama selesai gantian Hendra yang masuk kamar mandi untuk membersihkan diri.
Tama sudah naik diatas kasur dengan tangan yang masih sibuk memainkan gawainya. Tak lama setelah itu Hendra keluar dari kamar mandi. Yang membuat Tama agak sedikit terkejut dan menelan ludah setelah bunyi ceklek dari daun pintu yang terbuka.

KAMU SEDANG MEMBACA
Yang Tersayang
Genel Kurgucerita fiksi oneshot/twoshot male pregnant Bxb Bxm Mpreg Birth scene yang kecepetan