12. Perjodohan

1.3K 29 0
                                        

Adit seorang laki-laki yang sudah berusia cukup dewasa (31 tahun), dia melamun dipinggir jendela kamarnya yang terbuka lebar padahal waktu sudah surup. Ia melamun tapi dipikirannya berputar satu kalimat yang membuatnya sedikit frustasi. Kalimat tersebut adalah kalimat penolakan yang dilontarkan seorang perempuan yang bernama Riska. Dia adalah wanita yang akan dijodohkan  dengan Adit. Namun saat hendak melamar, Riska dan keluarganya tiba-tiba saja menolak dan melontarkan satu kalimat kepada Adit.

"Kamu gak akan pernah bisa menikah sama perempuan dit, karena kamu cuma lelaki yang punya kelainan dit, untung aja keluarga aku tau sebelum aku nikah sama kamu, coba kalau gak? Gimana nanti nasib aku?". Kata Riska dengan ekspresi muka yang tak kalah mengejek

Itulah kalimat yang membuat sakit hati Adit dan keluarganya.

Adit tau dirinya bukanlah laki-laki yang sempurna. Tapi ia juga tidak ingin diperlakukan seperti itu oleh orang yang sudah terlanjur ia sayang.

Namun semuanya sudah terjadi. Adit memang memiliki kelainan genetik dari lahir.
Badannya tidak seperti lelaki pada umumnya. Ia tidak terlalu tinggi, badannya agak sedikit berisi bahkan bisa dikatakan montok untuk ukuran lelaki. Buah dadanya juga agak menonjol walaupun tidak sebesar milik perempuan. Dan satu lagi walaupun tidak lancar ia selalu mendapatkan haid seperti wanita di tiap bulannya. Karena ada rahim di tubuhnya.

Adit sudah tau semua hal tersebut namun ia memilih diam. Orangtuanya berusaha menutupi hal itu dari keluarga mantan calon besannya. Namun hal tersebut ternyata malah mereka ketahui saat tidak sengaja mereka tahu dari sepupu Riska yang ternyata bekerja di Rumah Sakit tempat Adit melakukan pemeriksaan kesehatan menyeluruh saat tiba-tiba Adit pingsan di rumahnya.

"Dit, Ibu minta maaf sama Adit ya? Kalo bukan karena Ibu yang mencoba menjodohkan Adit dengan Riska, mungkin Adit tidak akan sedih seperti ini?".

Ibu Adit tiba tiba mengatakan hal demikian kepada Adit. Karena ibunya tidak sanggup melihat Adit yabg terlampau sedih.

" Gapapa bu, ini semua bukan salah Ibu, ibu sudah mencoba hal yang terbaik buat Adit, tapi mungkin memang belum menjadi rejeki buat Adit". Adit berkata dengan senyum yang ia paksakan.

Sudah tiga bulan berlalu setelah kejadian penolakan itu, hidup Adit dan keluarganya tetap berjalan seperti seharusnya. Mereka tetap bekerja dan saling menguatkan.

Namun di hari Minggu tanggal 5 Oktober ada hal yang berbeda. Tiba-tiba saja ada seorang pemuda dengan perawakan kurus tinggi dan berkacamata serta seorang wanita paruh baya yang berbadan agak sedikit berisi serta berkacamata pula membawa beberapa kantong makanan dan buah-buahan sedang ngobrol dengan orangtuanya di ruang tamu.

Ia tiba-tiba dipanggil oleh ibunya.

"Dit, sini sebentar nak ada tamu dari Surabaya, temen ibuk waktu masih SMA dulu, dia kesini sama anaknya". Ujar Ibu Adit

"Iya buk sebentar"

Adit menyapa kedua tamu tersebut dengan sopan.

"Halo.. Tante salam kenal, saya Adit..."
"Salam kenal dit.. kenalkan juga nama Tante Ernawati, kamu bisa panggil tante Erna aja ya Dit?"
"Iya.. Tante"
""Kenalin juga ini anak Tante namanya Danang, dia seusia kamu lho dit?"
"Oh... Iya Tante... Salam kenal mas Danang ... Saya Adit.."
"Salam kenal Dit saya Danang"

Setelah perbincangan orangtua yang ngalor ngidul. Kerena Adit dan Danang sama-sama diam karena tidak terlalu paham tentang yang orangtua mereka bicarakan, apalagi yang isinya tentang kenangan mereka saat masa-masa sekolah dulu. Namun setelahnya pembicaraan mulai serius.

"Dit, sebenarnya Ibu sama Tante Erna mau jodohin kamu sama Danang?"
Kalimat yang keluar dari mulut ibunya itu sontak membuat mata Adit melotot dan hatinya mencolos. Adit kaget tak karuan.

Yang TersayangTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang