Haloha, Author sempetnya malam minggu ya, itu karena Author sibuk, belum lagi Author ikut latihan Taekwondo :D
Part sebelumnya covernya kenapa olahraga sama kata-kata ?, nemu aja, soalnya bab disitu kan bab pas Fabian sama Julliet olahraga :D
Oke, ini ceritanya... Jangan lupa vomments!
***
Julliet mengingat masa lalunya yang begitu kelam membuat hatinya sangat teriris. Terutama Mamanya yang setia padanya juga di bunuh dengan keji oleh Mama Kakak Tirinya.
Julliet dengan Fabian sekarang sedang berada di kompleks dekat rumah terkutuk itu,tapi katanya rumah itu sudah di kontrakan dan tidak ada penghuninya sama sekali. Okey, mungkin Mama akan bergentayangan disana. Julliet mendengar sapaan orang tak di kenal untuk kakaknya. Suaranya sangat tidak asing.
"Ferdinand ?."
Julliet menolehkan matanya ke kanan dan melihat si rambut pirang berdiri disana. Ernie, orang itu masih mengenakan setelan kerjanya, padahal hari ini aadalah hari Minggu. Ernie cowok itu sedang melihat Julliet dan Fabian bergantian.
Saat sepenuhnya Fabian sadar, ia segera berpelukan layaknya sesama laki-laki. Julliet memasang tampang cuek dan tetap meminum jus jeruknya yang ia bawa dari rumah dan menatap lurus ke depan tanpa memperhatikan sekitarnya.
Ernie melihat gadis itu sekilas lalu menatap Fabian kembali.
"Hei, bro. Hari ini masih pakai setelan kerja, lembur ?." tanya Fabian dahulu.
"Yep, dan menemani tunangan burukku." ucapnya sadis.
Julliet yang mendengar percakapan itu sedikit berjengit, 'tunangan buruk' tunangan sendiri kog di katain buruk ?, aneh bukan ?. Tapi Julliet masih memasang tampang cueknya.
"Eh, bukannya kamu itu benci pada acara perjodohan itu ?." tanya Fabian.
"Yeah."
'Oh, jadi begitu, si rambut pirang ini sangat benci perjodohan itu dan menyebut tunangannya buruk ?, ironis sekali.' batin Julliet.
"Kenapa tidak ?, kalau nggak suka, noh, ada yang nganggur." ucap Fabian/
'Kayaknya Aku tahu tanda-tanda seperti ini, Aku cukup pintar untuk mencerna kata-kata Fabian tadi.' batin Julliet sekali lagi.
"Who ?."
"Tuh, Adrianna Julliana Darlene, gadis yang masih lajang tanpa satu pemikiran untuk mencari jodoh, kerjaannya nganggur-"
'Cukup, yang terakhir sangat berupa sindiran bagiku.'
"Cukup, Kak. Kalau mau promosi mending tempel poster aja di jalanan, nggak sekalian tambah 'Gadis mikin, si buruk rupa, kerjaannya nganggur karena di keluarkan oleg kakak tirinya sendiri'." ucapku kesal.
Sangat kesalnya Julliet lalu meninggalkan kakaknya dengan si pirang, sedangkan Julliet pergi untuk pulang ke apartemen.
"Interesting."
***
Apartmen.Julliet segera membersihkan badannya setelah ber-olahraga dengan si kakak tiri. Setelah mandi, seperti biasa, dia menganggur di rumah sampai terdengar ketukan pintu dari luar kamarnya.
"Siapa ?."
Betapa terkejutnya siapa yang di lihat di depan mata, Julliet sedikit tidak asing pada wajah itu tapi dia ingat pertama kali bertemu dengan gadis ini.
"Kamu ?!, kenapa berada di sini ?!, Kamu si pelayan yang ada di restoran itu bukan ?!,"
Sebelum Julliet menjawab hinaan dari gadis kasar itu, ia segera di tarik keluar dari kamarnya dan dia menerobos masuk saja ke kamarnya.
"Hei, gadis kasar, itu kamarku. Kau sebenarnya sedang mencari nomor kamar berapa ?." ucapku tidak kalah sinis.
Dia yang mendengar hinaanku segera menamparku sampai bibirku sedikit robek dan mengeluarkan darah. Dia sangat sensitif.
"Jangan lawan Aku, pelayan. Kau tidak tahu siapa Aku sebelumnya, bukan ?, Aku tanya padamu, kenapa kau berada di kamar calon suamiku ?!." jawabnya berang.
"Nona, itu kamar saya, Anda ingin mencari Pak Ernie,'kan ?." jawabku gusar yang sedari tadi pertanyaanku tidak di tanggapi benar olehnya.
Plakk...
Satu tetesan darah keluar dari bibirku. Sakit sekali.
"Berani-beraninya kau memanggil Ernie dengan lancangnya!, Ernie hanya untuk sebutan keluraga!< bukan wanita busuk-pelayan-sepertimu!." ucapnya marah.
"Lucy ?."
Julliet menolehkan kepalanya, bisa terlihat, si rambut pirang muncul dari balik pintu, dari segi pakaiannya yang semua kancingnya terlepas sepertinya dia baru bangun tidur karena terganggu oleh teriakan kami berdua.
Tanpa dosanya, kulihat si Lucy yang kudengar si pirang memanggilnya segera berhambur ke pelukan si pirang itu.
'Aku ingin muntah saja rasanya.' batin Julliet dalam hati.
Lihat saja, si pirang hanya memandangku datar dan Lucy mengacuhkanku yang telah membuatku menderita gara-gara salah kamar. Aku segera berdiri memposisikan dengan benar sambil memegang bibirku yang terasa sakit dan asin akibat darah yang keluar. Aku menatap marah mereka berdua yang sudah membuatku seperti ini, segera Aku memasuki kamarku dan menguncinya dari luar dan membersihka bibirku akibat tamparan keras dari Lucy brengsek itu.
Keesokan Harinya...
Julliet bangun pagi-pagi sekali karena kemarin malam sebelum ia tidur kakak tirinya sempat memberinya pesan kepada Julliet dan ia meminta maaf telah menghinanya di depan Ernie kemarin, sebagai balasannya ia akan di carikan pekerjaan agar tidak menganggur lagi, perusahaan di mana tempat Fabian bekerja.
Julliet segera membersihkan diri, sarapan dengan hanya roti dan selai, lalu tancap gas pergi begitu saja, saat ia baru bertepatan di depan kamar si pirang, pintu itu terbuka dan menapakkan pemiliknya. Sebenarnya Julliet sudah di tawari oleh Ernie sebagai permintaan maaf kemarin malam ia akan mengantar Julliet ke tempat tujuan, tapi itu di tolak dengan gelengan kepala oleh Julliet.
"Sebagai permintaan maafku kepada tunanganku kemarin, Aku akan mengantarkan ke tempat tujuan, tanpa tolak, Julliana."
Julliet hanya menatapnya datar lalu menggeleng pelan, sangat pelan sampai Ernie tidak mengetahuinya. Yang membuatnya terkejut adalah bagaimana dia mengetahui namanya ?.
"Aku butuh jawabanmu."
"Aku tidak menjawab bukan berarti kesal padamu, ya, Aku kesal tapi bibirku masih sangat sakit untuk berbicara." ucap Julliet pedas.
Memang bibirku masih terasa sakit untuk dibuat berbicara karena tamparan dua kali dari Lucy kemarin membuat bibirku hampir copot.
"Oh, maaf atas it-"
"Bapak tidak punya salah kepada saya, yang punya salah itu tunangan bapak, walaupun tunangan bapak salah, dia sendiri yang harus meminta maaf kepada saya, bukan menyalur ke bapak, bapak tidak salah sama saya. Maaf,Pak, saya ada pekerjaan yang harus di urus, permisi." ucap Julliet lalu meninggalkan Ernie seorang diri.
***
Maap ya, pendek, Author banyak PR, kapan-kapan di lanjut lagi, Okeh... ;)
See ya!
Jangan lupa vomments!
01 Agustus 2015

KAMU SEDANG MEMBACA
Survive
Non-FictionA.J.D. Saat umurku delapan tahun, Aku sudah mempunyai penyakit dan itu sudah menandakan tanda-tanda 'Siaga' padaku, dan saat umurku menginjak remaja, penyakitku kambuh, menandakan sinyal 'Waspada' dan begitu pula lelaki yang sering kutemui, sang Man...