Chapter 09

544 71 6
                                        

Rutinitas pagi ini yang dilakukan Jeno adalah tidak ada. Benar, omega manis itu diusir dari dapur setelah beberapa menit yang lalu berhasil menggores jari telunjuknya dengan pisau. Itu sebuah ketidaksengajaan, sungguh. Toh, tidak terlalu parah juga, tapi orang-orang yang bertugas di dapur terlalu hiperbola, sampai memanggilkan tabib guna mengobati jarinya yang terluka sedikit.

Kehebohan itu juga mengundang ayah mertua dan suaminya datang ke dapur. Ditambah raut khawatir yang terlihat di wajah kedua alpha pemimpin tersebut, semakin membuat Jeno hanya bisa menghela napas.

Setelah mendapat pengobatan, Soobin memintanya untuk tidak datang lagi ke dapur. Dia berkata, "Itu bukan tugas utama seorang Luna, Omega. Kamu harus berhati-hati. Bagaimana jika kamu terluka disaat aku sedang tidak berada di rumah?". Jeno mengerti bahwa Soobin mencemaskannya, tapi hanya karena luka kecil sampai melarangnya berbuat sesuatu di dapur, Jeno sedikit kesal karena dilarang-larang.

Namun, sebagai seorang omega yang sebentar lagi akan menyandar gelar Luna, ia hanya mengangguk-angguk akan perintah Soobin. Tapi jauh dalam lubuk hatinya, ia tak berjanji kalau sewaktu-waktu bakal melanggarnya, karena prinsip kerennya adalah, 'ada peraturan untuk dilanggar'.

Itulah minus seorang alpha dewasa yang punya pasangan bocil.

"Alpha, ayo ajari aku membuat manisan Jeonggwa! Kemarin Jay membawakan manisan itu, aku suka rasanya. Terus kata Jay, alpha juga bisa membuat Jeonggwa!" seru Jeno berseri sembari berlari kecil dari gazebo menuju Soobin yang baru saja keluar dari dalam rumah.

"Maafkan aku, Istriku. Bagaimana kalau kita membuatnya nanti? Aku harus datang ke pertemuan desa untuk menyelesaikan permasalahan perdamaian dengan desa lain. Aku berjanji, setelah pulang, aku akan mengajarimu sampai kamu benar-benar bisa. Tidak apa, 'kan?"

Ada raut kecewa yang ditampilkan Jeno. Omega itu terlihat lesu tapi tetap memberi respons berupa anggukan singkat. "Tidak apa, Alpha. Hati-hati di jalan, ya."

Respons tak bersemangat Jeno membuat Soobin merasa bersalah. Alpha itu lekas membawa sang istri ke dalam dekapan hangat. Langsung mencium lama kening yang tertutup anakan rambut halus yang beraromakan lavender itu.

"Setelah selesai, aku akan langsung pulang dan kita bisa segera membuat Jeonggwa, oke?" ucap alpha itu. Kemudian dirasakannya anggukan pelan dari sang omega. "Baiklah, aku berangkat. Aku menyayangimu, Luna."

"Uhm!"

....

Jeno menunggu dengan bosan. Sudah tengah hari, tapi Soobin belum juga kembali. Omega manis itu duduk lesu di samping jendela ruang tamu sembari memerhatikan kegiatan orang-orang berlalu lalang mengerjakan pekerjaan mereka masing-masing.

"Perhatikan posisi kaki. Kalian akan jatuh kalau kuda-kuda kalian saja masih belum benar!"

Punggung Jeno menegak. Suara ribut yang didengarnya memang sudah ada sejak dirinya duduk tanpa melakukan apapun. Tapi ia pikir itu adalah suara para pekerja yang sedang mengusung sesuatu atau entah melakukan apa. Namun, suara bariton barusan adalah suaranya Heuningkai. Pekerjaan apa yang dilakukan bocah menyebalkan itu?

"Kubilang perhatikan kaki!"

Jeno melangkah keluar. Mencari-cari asal sumber suara. Ternyata di samping paviliun. Beberapa alpha dan beta muda sedang berlatih panahan bersama Kai sebagai pelatih.

SwiipTHUK!

THUK!

THUK!

Satu per satu anak panah melesat cepat menuju papan target. Hampir dari pemuda-pemuda itu berhasil mengenai sasaran. Hal itu mengundang tatapan puas dari Kai.

"Bagus. Lakukan lagi sekali, setelah itu kita akan mencoba ke rintangan!"

"Baik—OH? Selamat siang, Luna!" Salah seorang pemuda alpha langsung membungkukkan badan menyadari keberadaan Jeno yang berdiri di samping pohon, menonton latihan mereka.

"Selamat siang, Luna." Secara serentak mereka semua kecuali Kai ikut membungkukkan badan.

Jeno tersenyum menahan tawa. Penghormatan yang dilakukan mereka menurutnya terlalu berlebihan. Usia mereka tak terpaut jauh, atau malah mungkin ada dari mereka yang justru seumuran dengannya. Jeno biasa mendapatkan penghormatan seperti itu di desanya, tapi tetap saja ia tak terlalu mempedulikan kedudukannya. Maka, omega  manis itu mengayunkan sekali tangan kanannya ke depan sebagai peringatan pertama.

"Tidak perlu terlalu formal begitu ah. Anggap aku teman kalian juga. Lanjutkan latihannya, aku ingin melihat saja," ujarnya santai sembari mendudukkan diri di pagar pembatas paviliun yang memang terbuat dari bebatuan.

Kai melipat kedua tangannya di depan dada seraya memerhatikan kakak iparnya. "Kamu hanya akan menganggu kalau singgah di sini."

Jeno mendatarkan tatapannya. Mulai lagi dah cecunguk satu itu. Begitulah keluhannya dalam hati. "Aku cuma duduk loh, menganggu seperti apa yang kamu maksud?" tanyanya berusaha sabar. Kalau sudah berhadapan dengan Kai, entah mengapa bawaannya jadi pengen makan orang!

"Ya, pokoknya menganggu! Sana masuk."

"Dih, suka-suka akulah mau ke mana aja, kenapa jadi kamu yang sewot?!"

"Di sini panas, banyak nyamuk juga. Tidak seharusnya omega di tempat latihan. Lebih baik masuk ke dalam, melakukan apa terserah, asal jangan di sini, menganggu," tuturnya tidak santai.

Jeno tak langsung membalas ucapan Kai. Dia diam dengan ekspresi kesal.

"Kamu itu kenapa, sih, Kai? Kamu se-enggak suka itu ya sama aku? Kalau memang iya, bilang dari awal, tidak perlu bersikap menyebalkan begitu. Di antara orang-orang di desa ini, cuma kamu yang kelihatan tidak terima oleh kehadiranku."

"Loh? Tunggu, mengapa jadi mengarah—"

"Kamu menyebalkan, Kai, sangat-sangat menyebalkan!" sela Jeno cepat, langsung bablas pergi meninggalkan area latihan.

"Hei—tck! Ini kenapa malah jadi begini?" Kai mengacak-acak surainya dengan frustasi. Jujur, ia tidak bermaksud mengusir Jeno atau seperti yang dituduhkan omega itu.

Kai menghela napas berat. Alamat kena semprot ayah dan juga Soobin setelah ini.

"Lagipula Luna terlihat sedang dalam suasana hati yang kurang baik, seharusnya kamu pelan-pelan memberitahunya, Kai," celetuk salah satu dari mereka.

"Sebaiknya kamu segera meminta maaf kepada Luna. Kami akan latihan sendiri sembari menunggumu."

Hadeh, berhadapan sama omega yang lagi sensi ternyata ribet banget. Gak lagi deh Kai cari gara-gara.

PembatasTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang