Chapter 10

478 62 13
                                        

"Panas banget, ya?" Kai mendudukkan dirinya di sebelah Jeno sembari membawa mangkuk porselen yang penuh dengan patbingsu.

Patbingsu sendiri es serut yang diberi rebusan kacang merah dan Kai beri tambahan susu sapi murni. Terlihat sangat menggugah selera dinikmati di cuaca panas seperti ini.

Bukan tanpa sebab Kai datang tiba-tiba sambil membawa patbingsu. Anggap saja kedatangannya ini untuk membujuk sang kakak ipar sebelum dirinya kena semprot oleh ayah dan kakaknya.

"Kamu mau?" tanyanya memulai percakapan. Dikode juga percuma, omega itu masih manyun-manyun kayak bebek.

"Tidak."

"Yakin? Pelayan Hang tadi hanya membuat sedikit untuk murid-muridku, dan tinggal tersisa satu ini saja lho."

Jeno memandang Kai dengan raut penuh permusuhan. "Bawa kemari," seru omega itu pada akhirnya, tanpa menunggu respons dari lawan bicara, Jeno langsung merebut mangkuk patbingsu dari genggaman Kai.

Masih memperlihatkan ekspresi memberengut khas merajuk, Jeno menyuapkan sesendok  patbingsu itu ke dalam mulut. Seketika rautnya berganti sumringah akan rasa manis dan dingin yang berhasil meredakan amarahnya. Disendokkannya beberapa kali lagi, sampai-sampai mulutnya penuh dan menggembung bak ikan buntal. Menggemaskan.

"Aku bertanya-tanya, bagaimana mungkin Soobin yang jelek itu bisa mendapatkan omega secantik kamu?" tanyanya lebih seperti gumaman.

"Jangan mengejek Alphaku! Alpha tidak jelek, kamu yang jelek!"

Alpha muda itu menghela napas. Dasar pasangan gila, begitulah hina Kai dalam hati. Ia memang masih belum benar-benar terbuka oleh orang baru seperti Jeno. Kejadian yang menimpa Soobin selaku kakaknya dengan sosok omega cantik yang merupakan anak dari rival ayahnya, agak membuatnya terkejut.

Presentase jumlah alpha, beta, dan omega di desa Txder jauh lebih unggul para alpha, lalu disusul beta, sedangkan omega, tak terlalu banyak tapi juga tidak sedikit. Apalagi di lingkup kediamannya, ayahnya hanya mempekerjakan beberapa omega, itupun untuk mengurus dapur dan beberes ruangan, setelah itu mereka semua akan pulang ke rumah masing-masing.

Siwon tidak ingin semisal ada alpha yang sedang rut, malah menjadi kerugian bagi para omega. Itulah mengapa jarang terlihat omega berkeliaran di kediamannya. Sementara kedatangan Jeno yang tiba-tiba itu, cukup mengejutkan orang-orang di rumahnya. Alasan kedatangan omega itupun tidak masuk akal pula. Tidak tahunya malah hadirnya Jeno menjadi hal yang tepat waktu bagi sang pewaris tahta yang akan memimpin desa Txder. Ya, benar, Jeno adalah pasangan yang ditakdirkan Moon Goddess untuk Soobin alias mate.

"Jadi, apakah kamu masih marah?" tanya Kai memastikan. Melihat respons omega di sampingnya ini sudah tidak menunjukkan lagi gelagat manyun ala-ala merajuk.

"Kalau kamu terus membahas yang tadi, aku beneran marah loh!"

Kai gelagapan. Dia berdehem singkat sembari mengubah posisi duduknya yang tadinya menyandar ke badan kursi, menjadi tegak dengan kedua tangan bersedekap. "Baiklah ... kalau begitu ... aku akan melanjutkan latihanku. Kalau membutuhkan sesuatu, minta tolonglah kepada pelayan."

"Hmm." Jeno kembali sibuk dengan makanannya. Kai yang melihat itu hanya bisa menghela napas berat.

Dasar omega.

...

Tapi sepertinya aksi merajuk Jeno masih terus berlanjut. Hari sudah berganti malam dan Soobin belum juga kembali. Janji yang telah alpha itu buat tadi pagi seolah terlupakan begitu saja.

Jeno geram bukan main. Kalau dipikir-pikir sejak pernikahan mereka, Soobin jadi lebih banyak menghabiskan waktunya di luar daripada bersamanya. Memang benar alpha itu adalah calon penerus Siwon, hanya saja Soobin belum benar-benar menggantikan posisi Siwon, tapi pria itu sudah mencampakkannya seperti ini.

Ia sudah tidak mood membuat manisan Jeonggwa. Perasaan kesalnya terlalu tinggi sampai-sampai Jeno ingin sekali menampar suaminya itu.

"Kalau memang tidak bisa, tidak perlu berjanji! Semua alpha memang menyebalkan, kecuali ayah dan kakak-kakakku tentunya!"

Jeno merebahkan badannya ke kasur. Menarik selimut sebatas lehernya, lalu mulai memejamkan mata berusaha untuk tidur. Tidak peduli apabila omega cantik itu tidak menunggu sang alpha. Jeno.sangat.kesal.pada.alpha.itu.titik!

Hampir bermenit-menit lamanya hanya kesunyian yang menyelimuti kamar bernuansa temaram itu. Jeno sudah terlelap mengarungi alam bawah sadar. Namun, sebuah suara dari luar kamar, berhasil membangunkan Jeno seketika.

Dengan mata sayu khas orang mengantuk, Jeno bangkit duduk sembari mengusap-usap mata kanannya dengan perlahan. Mendengarkan sayup-sayup suara dua orang berbicara seperti tidak tahu waktu. Hingga pada akhirnya pintu kamarnya bersama sang alpha dibuka, memperlihatkan siluet pria jangkung yang masuk ke dalam.

"Apa aku membangunkanmu?"

Soobin, dalang yang membuat mood Jeno naik turun itu baru tiba di rumah pada tengah malam. Seketika Jeno teringat keinginannya untuk menampar sang suami. Maka, si manis itu turun dari ranjang, menghampiri Soobin yang merentangkan kedua tangannya mengira sang omega hendak memeluknya. Namun—

PLAK

Mampus.

"Keluar!"

Ekspresi terkejut yang diperlihatkan Soobin cukup menggelikan. Pria itu menganga sambil memegangi pipi kirinya yang terkena tamparan dari sang omega.

"Ada apa? Mengapa kamu menamparku, Omega?"

Lihatlah, bahkan Soobin sudah melupakan perkataannya tadi pagi. Sungguh, alpha itu sangat menyebalkan.

Jeno ingin menampar sekali lagi sosok tinggi tersebut. Namun, reflek Soobin sangat cepat. Dia berhasil menahan pergelangan tangan Jeno yang ingin membubuhkan bekas telapak tangan lagi di wajahnya.

"Aku tidak ingin melihatmu. Kamu keluar sekarang, jangan menampakkan batang hidungmu padaku!" Jeno menarik tangannya yang digenggam Soobin. Jeno ganti mendorong Soobin keluar dari kamar.

"Hei, tunggu dulu—tunggu sebentar. Setidaknya jelaskan padaku, mengapa aku harus keluar dari kamar kita? Kamu kenapa, Omega?" tanya Soobin memelas. Tangannya menahan pintu yang berusaha ditutup oleh Jeno dari dalam.

"Pergi! Tidak perlu banyak bicara, kamu tidur di luar!"

Dan ... ya, berakhir pintu kamarnya ditutup oleh Jeno. Soobin menghela napas panjang, sesekali mengetuk berharap diampuni oleh Jeno. Lagipula Soobin tidak melakukan apa-apa lho, mengapa ia jadi diusir begini? Begitulah kira-kira pertanyaan dalam benaknya.

Sepertinya Soobin harus mengungsi ke kamar khusus tamu. Tidak mungkin kalau dirinya ke kamar Kai. Soobin masih cukup tau diri bahwa adiknya itu pasti akan menjadikannya bulan-bulanan kalau sampai mengetahui Soobin terusir dari kamarnya sendiri.

Soobin membaringkan badannya yang lelah ke atas kasur. Ia mencoba menerawang, apa yang membuat Jeno tantrum sampai tega hati mengusirnya begini.

Seketika Soobin membulatkan matanya lebar begitu telah mengingat perkataannya tadi pagi. "Demi Moon Goddess, Jeno memintaku mengajarinya membuat manisan. Oh, astaga, bisa-bisanya aku melupakan itu!" pekiknya dongkol. Ia memijat pangkal kepalanya yang tiba-tiba berdenyut.

Kalau sudah begini, tamat sudah riwayatmu, Soobin. Jangan harap bisa tidur memeluk omegamu itu, hahaha!

....

🧎🏼

PembatasTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang