Chapter 11

430 60 9
                                        

"Kai, di mana Soobin?"

"Heum? Soobin? Oh, iya, pagi-pagi sekali dia berangkat berkunjung ke desa seberang untuk permasalahan perdamaian. Ada apa?"

Jeno menggeleng. Tanpa sepatah kata, dia berlalu pergi. Meninggalkan rasa penasaran di benak Heuningkai kala melihat sang kakak ipar tampak tidak seperti biasanya.

Jeno memilih kembali ke kamar dengan ekspresi murung. Mungkin seharusnya Jeno tidak perlu berlarut memikirkan rasa bersalahnya ketika semalam ia mengusir Soobin dan mengatakan tidak ingin melihat pria itu. Jeno sampai tidak tidur semalaman karena pikirannya sendiri. Nyatanya Soobin lagi dan lagi membuatnya kecewa.

Alih-alih membujuk, pria itu bahkan tanpa meninggalkan apapun yang bisa membuatnya memaklumi segala kesibukannya, justru pergi begitu saja.

Memang pada dasarnya semua alpha itu tidak peka. Jeno sungguh sangat kesal dan semakin jengkel mengetahui hanya Kai yang tahu keberangkatan Soobin.

Suasana hati Jeno mendadak turun drastis. Ia kesal, geram, marah, kecewa. Tak peduli semisal ada yang menganggapnya kekanakkan, sebab ia begini juga karena ingin meminta waktu Soobin untuk menghabiskan waktu bersama. Cuma sebentar, tidak sampai dua hari. Sehari pun Jeno tidak apa-apa.

Sebagai omega yang telah menyandang status seorang istri, Jeno juga menginginkan kebersamaan yang lama tanpa halang rintang bersama alphanya. Tapi sepertinya hal itu sulit untuk Soobin lakukan demi dirinya.

"Huft! Dasar Soobin jelek, aku tidak akan memaafkanmu!"

...

Tok tok tok

"Luna, apa Anda di dalam?"

Kelompok cantik yang semula terpejam itu perlahan terbuka. Jeno terdiam sebentar, tengah mencerna apa yang terjadi saat ini.

Suasana kamar gelap dikarenakan malam telah mengambil alih. Cahaya bulan dari jendela yang terbiar terbuka, dengan bebas masuk supaya kamar tidak menjadi gulita. Tak ada suara apapun dalam keheningan ini, kecuali sayup-sayup suara dari luar—termasuk gerangan yang mengetuk dan memanggilnya dari luar.

Ternyata sudah malam lagi.

Tok tok tok

"Luna? Anda melewatkan waktu makan siang, lho. Tolong jawab saya kalau Anda baik-baik saja."

Suara itu kembali terdengar, tapi Jeno tetap tidak ada niatan untuk menjawab. Malahan tiba-tiba ia menitikkan air mata.

"Ugh ...."

"Jeno Hyung?" Suara di luar berubah. Itu suara Heuningkai. "Aku izin masuk, ya?"

Jeno masih tetap diam. Ia menyembunyikan wajah paraunya dengan memeluk selimut.

"Oh, astaga!" Kai mendesis lalu bergegas keluar kamar sembari menjepit hidungnya. Tak lupa menutup kembali pintu tersebut. Hal itu mengundang tanda tanya dari pelayan yang tadi menjadi pelaku pengetukan pintu.

"Ada apa, Kai?"

Alpha muda itu tampak tengah mengontrol diri. Wajahnya pun berubah memerah. "Luna sedang heat. Ini gawat, Soobin belum kembali."

"Demi Moon Goddess! Kalau begitu saya akan menginstruksikan pelayan lain untuk tidak mendekat ke sini."

"Lakukan. Panggilkan juga tabib Kim kemari. Aku akan memberitahu ayah terlebih dahulu."

"Baik!"

...

"Seharusnya ketika Omega heat, Alpha yang menjadi mate Omega tersebut bisa selalu ada di sisinya. Feromon dari Alpha bisa menetralisir rasa sakit heat. Dikarenakan Alpha Soobin tidak ada di sini, apakah ada barang milik Alpha Soobin yang bisa digunakan sementara untuk membantu Luna? Setidaknya dengan barang itu, tidak akan menyakiti Luna."

"Coba periksa pakaian Soobin di dekat lemari. Biasanya dia menggantung pakaian yang hanya dipakai sebentar di sana," titah Siwon. Tabib Kim mengangguk, berbalik masuk ke kamar guna mencari pakaian yang dimaksud tetua desanya.

Ada.

Tabib Kim lekas mengambilnya. Dibawalah pakaian tersebut mendekat ke ranjang, di mana terdapat sosok meringkuk dengan erangan kecil karena tersiksa rasa panas di sekujur tubuhnya.

"Luna, ambillah ini. Ini akan sedikit membantu Anda selagi menunggu Alpha Soobin kembali."

Masih dalam kesadaran tipis, Jeno meraih baju sang suami lalu dipeluknya erat. Jeno menghirup dalam-dalam feromon Soobin yang tertinggal samar di baju tersebut.

"M-Mau ... Alpha ...," lirihnya tak berdaya. Intonasinya terdengar memohon. Menatap dengan berlinangan air mata.

"Alpha Soobin dalam perjalanan pulang. Bertahanlah sebentar lagi, Luna."

Jeno mengangguk lemah. Matanya terpejam—mencoba menghirup lagi dan lagi feromon sang suami.

"P-Panas ... anghh sa-sakit ... hik."

Tabib Kim berkali-kali mendekati jendela yang terbuka, bermaksud memantau tanda-tanda kedatangan Soobin dari sana. Namun, semakin ditunggu, rombongan Soobin masih belum nampak dari kejauhan. Dia risau, sebab keadaan sang Luna semakin memburuk. Dia tak tega mendengarkan erangan kesakitan itu.

Hampir bermenit-menit menanti, akhirnya yang ditunggu datang juga. Di luar sana, rombongan yang membawa calon penerus Txder bergegas masuk ke kediaman. Soobin berlari paling depan menuju kamar, sebab telah ada seseorang yang menunggunya dengan kesakitan.

Pintu kamar dibuka keras. Seketika semerbak aroma lembut vanila menyeruak masuk ke indra penciuman Soobin. Pria tampan itu lekas menutup pintu, mencegah feromon sang istri keluar dan membuat alpha lain terpancing oleh harumnya feromon sang istri.

"Alpha, tolong dengarkan saya," panggil Tabib Kim mendekat. "Segera lakukan dan tandai Luna. Jika hanya melakukan scenting saja, itu hanya menghilangkan sedikit rasa sakit yang Luna rasakan. Malam ini bulan purnama penuh, semua kebaikan akan dikabulkan oleh Moon Goddess, maka pergunakanlah kesempatan itu untuk calon penerus Anda, Alpha."

"Tapi ... saya tidak tahu ... harus ... bagaimana," ucap Soobin terbata. Ia menyempatkan melirik ke arah kasur, menyaksikan keresahan sang istri yang mengharap kasih.

"Lakukan saja sesuai insting Anda, jangan membuang-buang waktu. Saya yakin Anda lebih mengerti harus melakukan apa."

"Tapi—"

"Luna membutuhkan Anda, Alpha!" seru Tabib Kim menyela geram. Tanpa banyak kata, mendorong pria itu untuk mendekat ke ranjang. "Kami menunggu kabar baiknya." Setelah itu 'blam'. Pintu ditutup dari luar oleh Tabib Kim yang meninggalkan kedua pasangan itu.

"A-Alpha ... anhh ... tolonghh ... ahnggh~"

Sial.

Asal kalian tahu saja, sejujurnya Soobin tidak berani dihadapkan oleh omega yang sedang heat!

"Apa yang harus kulakukan?!"

....

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 29, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

PembatasTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang