Happy Reading
Harap tidak mencontoh⚠️
🌹🌹🌹
"Kenapa gue harus ikut ke sini sih, Shev?"
Sheva yang mendengar gerutuan sahabatnya hanya memutar kedua matanya. Glencya sudah bertanya berulang kali dengan pertanyaan yang sama. Awalnya Sheva masih mau menjawab, tapi setelah diulang untuk yang ketiga kalinya, ia memilih diam dan tidak memedulikan pertanyaan Glencya.
Glencyca yang duduk di depan Sheva, hanya menidurkan kepalanya dengan bantalan buku yang ia ambil acak. Sekarang dirinya dan Sheva berada di ruangan yang semua isinya berupa buku. Entah buku yang berukuran tipis setipis dompet akhir bulan, sedang, atau bahkan tebal setebal tugas akhir semester yang ditumpuk. Jika kalian menebak perpustakaan, jawaban kalian benar.
Entah ada angin apa yang merasuki Sheva. Tiba-tiba Sheva menarik Glencya keluar kelas setelah guru keluar saat jam istirahat kedua. Glencya kira akan berada di kantin yang penuh makanan. Nyatanya, Sheva membawanya ke tempat yang menjadi opsi paling akhir yang akan dipilih oleh Glencya.
"Shev," Glencya menatap Sheva yang sibuk dengan buku tanpa mengangkat kepalanya.
"Bisa diam bentar gak, Glency?" Sheva bertanya tanpa mengalihkan fokusnya dari buku.
"Ini salah lo. Kenapa juga kita ke sini? Lo kesambet? Gue tahu lo sering ikut lomba, tapi gak harus ajak gue ke sini. Lagian, setahu gue gak ada pengumuman lomba di sekolah," Glencya menatap Sheva mencari gerakan mencurigakan dari sahabatnya. Bahkan kepalanya sudah terangkat dan perlahan maju dengan kedua mata menyipit.
"Gue colok juga mata lo!"
Glencya refleks memundurkan tubuhnya, mengamankan kedua matanya dari ancaman Sheva. Meskipun gerakan Sheva masih terfokus pada buku, tapi Glencya yakin jika sahabatnya tidak main-main dengan ucapannya. Menjadi sahabat dari Sheva sejak sekolah dasar, membuatnya sudah hafal bagaimana karakter Sheva yang selalu serius dengan ucapannya.
"Lo suka banget ancam-ancam. Gak takut lo kehilangan sahabat baik, imut, cantik, dan suka menolong kayak gue ini?" Glencya menatap penuh harap pada Sheva.
Sheva mengangkat pandangannya dari buku. Bisa Sheva lihat bagaimana Glencya menatapnya dengan kedua mata harap-harap kepadanya dan kedua tangan yang menyatu seperti akan berdoa.
"Muka minta dipukul bilang iimut. Gak ada di rumah lo? Perlu gue beliin pakai duit gue yang segunung?"
"Sombong banget mentang-mentang kakeknya punya perusahaan di mana-mana," Glencya mencibir seraya melepaskan kedua tangannya yang tadi menyatu.
"Dan gue gak perlu lo beliin kaca. Kaca di rumah gue gak murahan, malah edisi terbatas dari luar negeri," tambah Glencya seraya menyibak rambutnya ke belakang.
"Gak nanya gue."
Glencya menatap kesal Sheva yang hanya merespon biasa saja ucapannya. Bahkan Sheva menatap datar tanpa merasa bersalah atas ucapannya pada Gencya. Rasanya Glencya ingin memukul kepala dari sahabatnya ini. Tapi, sayangnya Glencya tidak berani, ia terlanjur takut sebelum bertindak.
"Gue balik ke kelas ajalah," Glencya mengambil buku yang sempat ia gunakan untuk alas tidur.
"Di sini temanin gue," Sheva menahan tangan Glencya yang akan beranjak dari kursinya.
"Buat apa gue di sini, Sheva?" Glencya kembali duduk dan menatap lelah Sheva.
"Lo bisa tidur kaya tadi sambil main ponsel," saran Sheva seraya masih menggenggam tangan Glencya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Yes! You're Mine!
RomanceMurni pemikiran sendiri! No plagiat❌ Plagiat jauh-jauh!!! Hus hus hus... 🌹🌹🌹 "You were the one who entered my world, and you are the one responsible." ~ Elio "S**l! Harusnya dia cuek dan gak usah suka gue. Kalo kayak gini, rencana gue bisa gagal...
