Happy reading guyss
.
.
.
.
.
.
.
.
Malam di Jakarta tuh emang nggak pernah sepi. Suara knalpot motor atau klakson mobil selalu ngeramein tiap sudut kota.
Di malam yang sunyi di pinggiran Jakarta Pusat, keliatan sekumpulan anak motor yang namain diri mereka Hesperos lagi nongkrong asyik. Obrolan receh, tawa-tawa lepas, semua ngehias malam itu.
"Chris!" panggil salah satu anggota Hesperos, suaranya sedikit kencang.
"Kenapa?" Christian nyaut, noleh santai.
"Ada yang nyariin lu nih," kata temennya itu sambil geser badannya dikit, nunjuk cewek yang berdiri di belakang dia.
"Wehh, berani amat kamu dateng ke sini, Sha. Sendirian aja?" Christian kaget campur seneng. Ternyata yang nyariin dia itu Marsha, cewek kesayangannya setelah sang Ibunda sama kakaknya.
"Berani lah! Emang kenapa kalau aku sendirian?" bales Marsha, dengan muka sombongnya.
"Gapapa sih, yaudah ayo ke ruangan aku aja. Di sini banyak curut," ajak Christian sambil melirik ke arah temen-temennya. Marsha cuma tersenyum,mengekori Christian dari belakang.
Di ruangan Christian, mereka berdua asyik duduk di balkon. Angin malam Jakarta yang sejuk nerpa tubuh mereka, sambil ngeliatin langit malam yang dipenuhi bintang- bintang yang bertaburan.
"Indah banget ya, Chris," kata Marsha, suaranya pelan penuh kagum.
"Iya, indah banget," jawab Christian, tapi matanya bukan melihat ke langit, melainkan melihat muka Marsha. Cahaya lampu-lampu mantul di matanya Marsha, bikin dia keliatan kayak ada bintang-bintang kecil dimatanya.
"Ihh... langitnya, Tian! Bukan aku-nya," Marsha langsung salting, pipinya mulai merah.karena ditatap sedalem itu.
"Hehehe... buat apa liat langit kalau bintangnya ada di sini," gombal Christian,dengan senyum puasnya.
PLAK!
Tiba-tiba Marsha mukul lengannya Christian,
"Aduhh... kok tiba-tiba mukul!?" Christian meringis, pura-pura kesakitan.
"Abisnya kamu duluan sih!" ujar Marsha, sambil ngusap-ngusap bekas pukulannya di lengan Christian.
"Shaa... kamu tuhh kayak bintang paling terang di galaksi Andromeda tau." Christian natap Marsha lagi, ngeluarin gombalan mautnya.
"Jauh banget dong kalo kayak gitu!" bales Marsha.
"Iya jauh, tapi cahayamu sampai sini, nerangin malam-malamku yang sepi. Lagian, cahayamu itu nyata, beda sama bintang di langit yang cuma pantulan cahaya dari masa lalu." Christian ngelanjutin, suaranya pelan dan lembut.
Marsha yang digombalin kayak gitu langsung nutupin mukanya yang udah merah kayak kepiting rebus.
"Akhh... Aa iaan mau digombalin juga!" Tiba-tiba ada suara dari belakang.
"Aa Daniel gombalin gimana?" kata Daniel, sambil nyengir. Ternyata suara itu punya Ollan sama Daniel yang dari tadi nguping dari balik pintu balkon.
"Akhhh, kamu sih Ian!" Marsha ngedumel kesel, tapi bibirnya senyum-senyum.
Christian langsung ngelirik tajam ke dua temennya. "Lu berdua keluar, atau gue lempar ke bawah dari sini?!" usir Christian, mukanya serius tapi ada senyum tipis di bibirnya.
Ollan sama Daniel langsung ngakak terus ngacir keluar, ninggalin Christian sama Marsha berdua lagi.
"Kamu mau nginep disini atau pulang?." Tanya Christian, Pasalnya malam ini sudah cukup larut untuk seorang gadis remaja pulang sendirian.
"Emmh...Aku nginep aja deh, Lagian tadi juga emang disuruh nginep sama Mommy." Ujar Marsha yang memutuskan untuk menginap di markas Hesperos.
"Yaudah kalo gitu, kalau mau ajak yang lain ajak aja, suruh yang laki-laki jemput." Ujar Christian yang mengizinkan jika Marsha mengajak kawan-kawanya.
