HESPEROS : 23

109 9 4
                                        

.
.
.
.
.

Hari-hari berlalu, dan para inti Hesperos tetap menjalankan kewajiban mereka sebagai pelajar.

"Iann!" panggil Daniel, membuat Iann menoleh dengan alis terangkat, seolah bertanya, 'Apa?'

"Gue udah dapat info tentang pemasok barang-barang mereka," bisik Daniel.

"Bagus. Simpan dulu, nanti pas istirahat jelasin di rooftop sekolah," sahut Christian, yang diangguki Daniel.

Skip

Bel istirahat berdering, mengakhiri jam pelajaran dan membuat para murid berhamburan menuju kantin.

"Cuy, jangan ada yang ke kantin dulu yaa," tahan Daniel. "Ada info penting soalnya."

Teman-temannya mengangguk paham.

"Niel, langsung ke atas aja. Disuruh Tian," seru Zean, memberitahu yang lain.

Dan mereka semua bergegas pergi ke rooftop sekolahmenghampiri Christian yang sudah menunggu disana .

Setibanya di sana, mereka segera membentuk lingkaran, tatapan penuh harap tertuju pada Daniel, menanti informasi penting yang akan disampaikan.

"Jadi, gimana, Niel?" tanya Aldo, memecah keheningan.
Christian ikut-ikutan, "Gimana nih, Niel?"

Daniel menghela napas, "Jadi gini, guys. Gue dapat info kalau pemasok utama barang mereka itu punya pekerjaan sampingan yang nggak main-main. Dia... seorang menteri di negara ini."

Sontak, seluruh anggota Hesperos terkejut bukan kepalang.

"Apa?! Menteri di negara ini? Siapa, anjir?" pekik Aldo tak percaya.

"Menteri Pertahanan. Itu yang bikin barang-barang haram itu gampang masuk," jelas Daniel, sorot matanya serius. Penjelasan itu kembali membuat mereka terperangah.

"Anjing, enggak habis pikir gue sama menteri di sini! Udah korup, sekarang jadi pemasok obat-obatan internasional?" Ollan menggebrak lantai rooftop, meluapkan kekesalannya.

"Sama, Lann. Gue juga enggak habis pikir sama pemerintah di sini," timpal Aldo, menyetujui.

"Terus, langkah kita selanjutnya gimana, Niel?" tanya Zean, mencari solusi.

Daniel menggeleng. "Kalau itu tanyanya ke Christian atau Ollan. Itu bukan ranah gue."

Ollan menyeringai, "Kalau menurut gue, mending langsung kita bunuh aja. Abis itu, info dari dia kita sebarin, beres!" ujarnya santai, seolah membunuh menteri adalah hal sepele baginya.

"Enak banget ngomong las-los gitu aja! Dikira itu orang enggak punya bodyguard apa?" Potong Aldo, menatap tajam Ollan.

"Ya udah, sekalian bunuh aja bodyguard-nya. Ribet amat!" balas Ollan, tak mau kalah.

"Udah-udah ngak usah ribut, bener kata Ollan kita bakalan Jalanin apa yang dia bilang." Lerai Christian dan Setuju dengan rencana yang Ollan berikan.

Mendengar persetujuan Christian, Aldo menghela napas. "Oke... kalau begitu, kapan kita mulai? Gue enggak mau kelamaan, takut aliansi besar itu nenyerang duluan." Kekhawatiran akan Aliansi itu masih membayanginya.

"Santai, Do," Christian menenangkannya. "Niel, cari tahu kapan mereka akan melakukan transaksi lagi. Itu Tugas utama lu sekarang!." Daniel mengangguk mengerti.

Christian menatap Daniel. "Ada info lain, Niel? " Daniel hanya menggeleng, menandakan tak ada lagi yang perlu dibahas.

"Yaudah, Gas kantin," Tawar Christian, bangkit dari duduknya.
"Gass! " Jawab mereka serempak dengan semangat.

HESPEROS S2Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang